Kenaikan TDL dan Rumusan Daya Saing Global

https://i0.wp.com/berita.beritajatim.com/brt461434965.jpgWacana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) bagi konsumen industri kini sudah tak dapat dihindarkan lagi. Demi mempertahankan alokasi subsidi dalam anggaran pemerintah, pilihan pahit untuk menaikkan tarif dasar listrik untuk golongan industri I3 sebesar 13% dan I4 sebesar 14% akan diberlakukan per Mei tahun ini.

Usut punya usut, kenaikan tersebut dipicu oleh peningkatan harga bahan bakar yang selama ini terjadi. Realitas tersebut spontan mendatangkan respon negatif dari segenap pemain. Betapa tidak, kenaikan biaya listrik yang menjadi salah satu elemen penyusun harga pokok produk secara otomatis akan memicu eskalasi harga jual. Bukankah kondisi ini justru melemahkan daya saing ekspor di era perdagangan bebas?

Beberapa studi tentang perdagangan bebas menemukan bahwa struktur persaingan di masa tersebut akan dipicu oleh beberapa faktor. Namun faktor yang paling kuat pengaruhnya adalah kesesuaian strategi yang dipilih perusahaan dengan kebutuhan pasar.

Semakin tinggi presisi perusahaan dalam menjawab kebutuhan maka makin amanlah posisinya di pasar. Hal senada berlaku sebaliknya. Itu berarti para pengelola perusahaan harus lebih cermat dalam menentukan strategi di masing-masing segmen.

Bila manajemen memilih untuk melayani beberapa kelas, maka sangat dimungkinkan strategi di setiap kelas akan berbeda satu dengan lainnya. Dengan demikian kini permasalahan akan dialami oleh perusahaan yang bermain di industri berbasis kepemimpinan biaya (cost leadership).

Meski nilai ekspor relatif meningkat, namun sampai dengan awal tahun ini Indonesia masih menjadi incaran produk-produk impor. Tak hanya itu, arus impor sampai dengan munculnya wacana kenaikan tarif dasar listrik masih di atas nilai aktivitas ekspor. Artinya ketika TDL industri naik maka secara otomatis terbukalah peluang bagi produk impor untuk berjaya di pasar domestik.

Realitas tersebut cukup mengkhawatirkan mengingat tahun depan Indonesia akan memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Perjanjian minimalisasi tarif di beberapa jenis komoditas diyakini menjadi ‘kendaraan’ paling efisien bagi produk asing untuk masuk ke pasar domestik. Belum lagi ditambah dengan jumlah penduduk terbesar di ASEAN, Indonesia sangat berpotensi menjadi pasar yang sangat potensial bagi produk impor.

Hal lain yang cukup miris adalah kenyataan bahwa alokasi biaya listrik (dengan kenaikan 13%) terhadap anggaran diestimasi menjadi rata-rata 20%. Artinya ketika harga jual ditahan (untuk menjaga daya kompetisi produk) maka itu berarti pengurangan margin terjadi.

Bila tak segera ditangani maka realitas tersebut akan mendorong perusahaan untuk melakukan efisiensi. Tak ayal pengurangan jumlah karyawan merupakan alternatif terbaik.

Logika matematika pasar yang saat ini terjadi adalah bahwa kenaikan biaya hingga 20% tersebut secara spontan memberikan efek sundulan kepada kenaikan harga jual produk. Itupun dapat dilakukan pada persentase yang sama (jika perusahaan tidak berpikir untuk menambah margin yang diperoleh).

Padahal daya beli pasar domestik dengan mempertimbangkan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika, laju inflasi serta beban kenaikan biaya ekonomi yang mendera pemain lokal diestimasi menurun lebih dari 20%.

Itu berarti pasar lokal tak kan mampu menjawab kenaikan harga produk domestik yang ada. Di sinilah pintu masuk aliran deras produk impor tercipta. Apalagi ketika produk impor mampu dijual pada harga yang semakin rendah. Alhasil sirkulasi produk asing akan semakin deras di dalam negeri.

Merujuk pada realitas di atas, upaya mencari energi alternatif sebagai bahan pembangkit listrik yang lebih efisien kiranya menjadi satu-satunya solusi bagi problematika bangsa. Untuk itu pemerintahan baru hasil Pemilu April 2014 hendaknya segera menyusun strategi eksplorasi demi peningkatan volume dan kualitas pasokan listrik yang lebih efisien dan efektif.

Penggunaan material khususnya yang berasal dari sumber daya terbarukan dalam menciptakan tenaga listrik perlu dicermati secara bijaksana. Melalui cara inilah pemerintah membantu pemain domestik untuk keluar dari jebakan TDL sekaligus merumuskan daya saing secara lebih efektif.

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 7 April 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s