Menciptakan Angin Segar Investasi di Tanah Air

investasiPesta pertama dari rangkaian Pemilihan Umum untuk legislatif dan presiden telah rampung. Namun bukan berarti permasalahan kompleks bangsa ini selesai, sebab hasil Pemilu 9 April lalu masih menimbulkan tanda tanya.

Belum adanya partai politik yang mampu memperoleh mayoritas suara membuat agenda koalisi tercipta. Nah pada kondisi tersebut pasar memandang belum adanya kepastian sehingga posisi ‘wait and see’-pun kini terjadi.

Para investor masih menunggu kejelasan peta koalisi antar partai peserta Pemilu untuk melihat para kandidat presiden yang diusung. Ketika nama yang mencuat dinilai mampu menciptakan angin segar bagi perekonomian nasional maka respon positif pun tercipta. Hal senada berlaku sebaliknya.

Realitas itulah yang kini perlu diwaspadai. Perlambatan laju ekonomi dunia telah mengalihkan perhatian global kepada kawasan ASEAN yang tengah bersiap menerapkan perdagangan bebas regional. Jika angin segar tidak segera berhembus di nusantara, besar kemungkinan aliran dana investasi akan mengarah ke negara-negara tetangga.

Imbas agenda politik pada perekonomian di tanah air memang sulit untuk dilepaskan. Tak hanya Indonesia, fenomena ini juga dialami oleh banyak negara berkembang. Masa depan bangsa turut didominasi oleh kepemimpinan nasionalnya.

Masih lekat dalam ingatan ketika salah satu partai mencalonkan gubernur DKI saat ini sebagai presiden lima tahun mendatang. Sedikitnya US$ 358.3 juta aliran dana masuk untuk investasi membanjiri Bursa Efek Indonesia. Hal itu menandakan bahwa pasar menaruh kepercayaan pada nama yang diusung. Kini masalahnya ada pada bagaimana para elite politik menjaga kepercayaan tersebut, mengingat agenda politik terkadang berbeda dengan ekonomi.

Bila konteks ini yang dijadikan premis maka perlu dipikirkan elemen non politik yang memiliki kemampuan sama dalam menghembuskan angin segar pada investasi domestik. Satu di antaranya adalah komitmen pemerintah saat ini untuk segera menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah yang tertunda, khususnya di bidang infrastruktur.

Mobilitas di era perdagangan bebas ASEAN 2015 mendatang sangat membutuhkan dukungan infrastruktur yang baik. Peningkatan kualitas layanan pelabuhan laut dan udara untuk mencapai standar dunia mutlak dibutuhkan untuk meraih kepercayaan investor.

Hal yang sama juga berlaku bagi sarana transportasi darat. Perbaikan kerusakan jalan yang menjadi media penghubung antar wilayah dalam satu pulau pasca bencana alam banjir merupakan hal yang tak dapat ditunda lagi.

Pertimbangannya cukup sederhana: akibat kerusakan itu produsen dan konsumen harus menanggung 33% dari peningkatan harga komoditas antara 3- 5%. Tak jarang peta distribusi harus berubah ketika jalur yang seharusnya dilalui kini mengalami kerusakan yang cukup parah. Di situlah konsekuensi kenaikan harga terjadi.

Dimensi lain yang juga perlu segera diupayakan adalah menanamkan paradigm bersaing di skala usaha mikro kecil menengah. Studi di lapangan menunjukkan bahwa kekalahan daya saing pemain lokal khususnya di level UMKM ada pada minimnya pengetahuan terkait persyaratan perdagangan internasional.

Pemahaman tentang standardisasi kualitas serta aturan kepabeanan teridentifikasi belum tersosialisasi dengan baik. Di sinilah peran sinergi antara pemerintah, swasta dan dunia pendidikan tinggi diperlukan. Program pertukaran pelajar (baca: mahasiswa) antar daerah diharapkan mampu menjadi jembatan terbaik bagi peralihan pengetahuan ini.

Seiring dengan pembenahan paradigma, hal non politik lain yang perlu diusahakan adalah perbaikan manajemen pangan di tanah air. Prestasi swasembada pangan yang di zaman orde baru pernah teraih hendaknya menjadi target bagi setiap elemen ekonomi di tanah air.

Langkah positif dalam menyempurnakan rencana pangan mulai dari produksi, penelitian dan pengembangan hingga distribusi di tingkat nasional kini sangat diharapkan kehadirannya. Selain untuk menjaga stabilitas pangan nasional, langkah tersebut juga diyakini mampu meminimalkan aksi spekulatif yang masih marak terjadi.

Ketika semua elemen tersebut mampu direalisasikan dengan baik niscaya kepercayaan dunia interasional pada investasi dalam negeri tidak lagi didominasi oleh faktor-faktor politik.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 21 April 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s