Pemimpin Abad 21

https://i1.wp.com/blog.dronamobile.com/wp-content/uploads/2012/09/HiRes1.jpgSebentar lagi, kita menghadapi pemilu. Sudah lama para partai melakukan kampanye, secara diam-diam, untuk berupaya agar rakyat ingat dengan jago mereka sehingga saat pemilu digelar, suara terbanyak pun akan diraih dengan mudah.

Sementara itu, Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun depan, yang mau tidak mau, siap tidak siap, tetap harus dihadapi. Berbagai diskusi dan seminar mengulas kesiapan Indonesia, ada yang melihatnya sebagai ancaman, namun adapula yang melihatnya sebagai peluang. Yang pasti, rembesan produk luar akan semakin deras memasuki pasar Indonesia nantinya.

Diperlukan pemimpin yang mampu membawa Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya, terutama dalam produk-produk yang mampu memberikan manfaat bagi pembelinya dan mendatangkan keuntungan jangka panjang bagi penjualnya.

Daya saing produk bisa diperoleh dari nilai superior yang terkandung di dalamnya. Banyaknya manfaat yang diperoleh pembeli akan membedakan produk unggul dengan produk sejenis dari pesaingnya. Keunggulan merupakan hasil inovasi yang terus menerus dilakukan perusahaan agar produknya tetap menang bersaing.

Hasil OCI (Outstanding Corporate Innovator) award yang secara rutin diselenggarakan oleh PDMA (Product Development Management Association) sejak tahun 1988 (Kahn, K.B., 2013) membuktikan bahwa inovasi sudah menjadi strategi korporat dan sangat berperan penting dalam kinerja dan keberhasilan bisnis sebuah perusahaan.

Oleh karenanya, membawa Indonesia untuk menang bersaing, perlu memajukan pengetahuan akan inovasi dan berupaya menghasilkan produk yang berhasil secara komersial tidak hanya dalam pasar dalam negeri namun juga produk Indonesia mampu beredar dalam pasar di negara-negara ASEAN lainnya.

Pemimpin abad 21, perlu menumbuhkan budaya inovasi, yakni mendorong terus menerus semangat orang-orang yang dipimpinnya untuk percaya diri dan mau belajar pengetahuan terkini dalam inovasi, mendorong proses belajar yang menimbulkan ide-ide kreatif dan memberikan apresiasi bagi keberhasilan yang dicapai dalam inovasi serta berani untuk melakukan investasi bagi kemajuan inovasi bangsa di masa mendatang.

Inovasi juga mendatangkan pendapatan bagi perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Cooper, R.G. (2011) membuktikan bahwa perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori Best Innovator, kinerja keuntungan yang diperoleh paling baik sehingga sangat membantu cash flow perusahaan untuk bisa menang bersaing secara berkelanjutan.

Seorang pemimpin abad 21 juga diharapkan mampu mengelola risiko sehingga selain berani mengambil peluang yang ditawarkan, namun juga mampu mengkalkulasi risiko yang akan ditimbulkan.

Melakukan kolaborasi eksternal dengan perusahaan yang sangat maju dalam inovasi, bisa dilakukan sebagai bagian untuk mengurangi risiko dan ketidakmampuan sumber daya internal untuk memenuhinya. Melakukan kolaborasi bisa dilakukan dengan kerja sama dalam investasi, teknologi dan sharing sumber daya yang memiliki dedikasi untuk pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan bersama.

Melakukan kolaborasi akan mendatangkan banyak manfaat, selain memberikan nilai tambah yang mampu dipertahankan dalam jangka waktu lama, meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan, juga ketepatan dan kecepatan waktu proyek yang harus diselesaikan.

Untuk menjamin pencapaian tingkat keberhasilan, pemimpin harus berani mendobrak mindset ‘ketidakmampuan’ menjadi ‘mau terus mencoba dan bangga akan hasil yang dicapai’. Perubahan mindset ini akan menambah keyakinan dan mendorong sikap untuk lebih maju. Bahkan kalau perlu melakukan transformasi untuk melakukan inovasi, seperti yang dilakukan Xerox.

Oktober 2000, perusahaan mengumumkan adanya penurunan pendapatan yang drastis dan ketidakmampuan untuk bersaing. Dilakukan turnaround untuk menyelematkan, dengan langkah awal mengidentifikasi peluang-peluang yang ada untuk tumbuh dan melakukan inovasi. Tahun 2005, 95% produk Xerox baru serta memiliki portfolio terkuat di industrinya (Kahn, K.B., 2013).

Pemimpin abad 21 juga mampu adaptasi dengan perkembangan social media saat ini, yang didukung dengan pesatnya peningkatan penggunaan internet. Membangun pengetahuan dengan menyerap informasi terkini, tidak harus dengan bertatap muka, yang bisa menghabiskan waktu dan tenaga, namun dengan semakin berkembangnya teknologi informasi, maka proses pembelajaran dilakukan secara real time, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Pemimpin tidak resisten, namun juga tidak gegabah dan mampu menjadikan kemajuan dalam bidang komunikasi ini menjadi bagian dari upaya memberikan edukasi akan inovasi secara cepat dan lebih murah biayanya. Kita berharap, para pemimpin nantinya mau dan mampu menjadi pemimpin yang siap di abad 21.

*Tulisan dimuat di harian Kontan, 19 Maret 2014.

Pepey RiawatiPepey Riawati Kurnia.
Koordinator PDMA Indonesia, PPM School of Management
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s