Hitam Putih Pasca Akuisisi

demo-tolak-akuisisi-btnAksi penolakan sejumlah karyawan bank BTN atas agenda penjualan kepemilikan pemerintah kepada bank plat merah lainnya telah berhasil mencuri perhatian pasar.

Meski demikian beberapa kalangan masih menilai rencana tersebut sebagai hal yang positif. Umumnya kelompok kedua ini yakin bahwa kinerja perusahaan pasca akuisisi akan meningkat secara signifikan. Tidak demikian halnya dengan kelompok pertama. Ancaman kehilangan pekerjaan setidaknya menjadi ‘hantu’ yang menakutkan bagi segenap karyawan perusahaan yang diakuisisi.

Tak banyak artikel dan penelitian yang berupaya mengungkap adanya ketakutan tersebut. namun Academy of Management Executive menemukan bahwa pada era 80-an, 50% lebih eksekutif senior perusahaan yang diakuisisi meninggalkan perusahaan setelah satu tahun dan hampir 75% lebih meninggalkan perusahaan pada tahun ke dua hingga ke tiga.

Salah satu penelitian terakhir yang dilakukan di 2009 hasilnya cukup mengejutkan. 51% menjatuhkan pilihan pada pensiun dini pasca agenda diumumkan. Dengan alasan yang cukup bervariasi, para ‘penghuni’ posisi manajemen tengah dan puncak memilih untuk segera meninggalkan perusahaan didasarkan pada peluang memperoleh benefit financial jauh lebih besar daripada ketika saat akuisisi dilakukan.

Pertimbangan tersebut dipandang sangat naluriah. Sebab sejatinya akuisisi terkait dengan upaya peningkatan efisiensi kinerja organisasi. Dengan harapan ketika penghematan terjadi, pola gerak organisasi akan lebih lincah sehingga akan meningkatkan produktivitas di masa depan.

Bagi organisasi, bisa jadi rencana ini dipandang sebagai strategi ‘putih’. Namun untuk tetap menjaganya di warna tersebut manajemen perlu memperhatikan hal-hal terkait pengelolaan sumber daya manusia pada pihak yang diakuisisi.

Penelusuran pustaka menunjukkan bahwa hingga 2010 lalu downsizing memang menjadi pilihan terbaik setelah akuisisi dilakukan, namun tidak pada konteks pengurangan karyawan secara harafiah.

Setelah akuisisi ditempatkan sebagai aktivitas yang mensyaratkan terciptanya efisiensi secara besar-besaran maka pilihan sebenarnya ada di tangan para profesional perusahaan. Jika biaya operasional yang menjadi incarannya maka sebenarnya ada banyak cara alternatif yang dapat dilakukan sambil memetakan fase tuk segera bangkit dari keterpurukan.

Pertama terkait efisiensi biaya gaji. Kebijakan ini dapat dilakukan dengan menawarkan kepada setiap karyawan untuk memanfaatkan ‘cuti panjang’-nya (sebuah apresiasi cuti yang umum diberikan setelah karyawan membaktikan diri selama beberapa tahun), atau cuti di luar tanggungan dalam periode jangka pendek.

Melalui cara ini mekanisme operasi perusahaan memang akan lebih ramping dan bisa jadi tak mampu melayani pasar seperti sedia kala. Namun dengan upaya ini benefit dapat diperoleh kedua belah pihak.

Bagi karyawan itu merupakan fase untuk mempertimbangkan secara matang keputusan untuk tetap bergabung atau meninggalkan perusahaan. Bagi yang berpikir untuk meninggalkan perusahaan maka masa-masa itu dapat dimanfaatkan untuk mencari peluang berkarir di tempat lain. Sedangkan bagi manajemen moment itu dapat digunakan untuk me-redesign strategy yang baru.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan efisiensi melalui pemotongan gaji para eksekutif hingga di tingkat teknis. Sejarah manajemen mencatat Hewlett-Packard merupakan salah satu contoh perusahaan yang berhasil melalui masa-masa sulit dengan metode ini.

Kala itu para pimpinan puncak memutuskan untuk memotong gajinya rata-rata 20%, sedangkan di tingkat yang lebih rendah bervariasi antara 2,5% – 15%. Konon kebijakan tersebut efektif dalam mengalihkan perusahaan dari kewajiban pengurangan karyawan secara besar-besaran.

Bila kedua cara tersebut mutlak wajib dilakukan oleh manajemen, maka pemerintah sedianya berpeluang untuk menjadi salah satu penyelamat. Cara yang dapat dipilih adalah dengan memberikan subsidi khusus kepada organisasi agar pengurangan karyawan tidak sampai dilakukan.

Di Singapura kebijakan ini dikenal dengan istilah ‘resilient package’. Bentuk subsidi yang diberikanpun cukup bervariasi mulai dari pemotongan pajak hingga subsidi program pelatihan kepada karyawan dalam jangka pendek.

Upaya ini tidak hanya membantu dari sisi pengeluaran perusahaan melainkan mengajak karyawan untuk berpikir betapa pentingnya peningkatan produktivitas melalui keahlian bekerja. Cara ini diharapkan mampu memicu semangat para professional di perusahaan untuk berkinerja lebih baik. Dengan upaya-upaya tersebut niscaya manajemen akan dapat menjaga dominasi warna putih dari aksi akuisisi.

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 28 April 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s