Koalisi vs Koopetisi

koopetisi koalisi di manajemenppm wordpress comPemilihan umum di negeri ini baru saja usai. Pemilihan umum yang bertujuan menjaring calon anggota legislatif, yang sejatinya akan dibebankan amanah sangat mulia tersebut, merupakan tahapan awal dari suksesi pemimpin negeri ini.

Paling tidak, dari dua atau tiga kali pemilihan umum digelar di era reformasi ini, dan hasil sementara berdasarkan metoda hitung cepat beberapa lembaga survei diumumkan ke publik, terdapat satu kata yang sangat mungkin kita dengan sebagai buah bibir pemberitaan: Koalisi.

“Partai A Siap Membuka Peluang Koalisi dengan Partai Mana pun”, “Pimpinan Partai Z Silaturahmi ke DPP Partai X dalam rangka Menjajaki Kemungkinan Koalisi”, “Koalisi antara Partai A – Partai S sangat Ideal untuk Memuluskan Jalan Si X Menuju Kursi Presiden”. Demikian kira-kira bunyi headline berbagai media cetak, maupun pernyataan-pernyataan dari berbagai pakar politik ataupun politisi yang berkepentingan, yang mungkin seringkali kita dengan di media beberapa hari pasca pemilihan umum.

Kemudian, apa sebenarnya yang dimaksud sebagai Koalisi itu? Tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas seluk beluk koalisi dalam ranah politik atau pemerintahan, dan bukan pula dimaksudkan sebagai suatu upaya mencari koalisi ideal yang akan mengusung calon pemimpin idaman negeri ini. Dalam ranah politik dan pemerintahan, koalisi mengacu kepada hubungan kerja sama antara dua atau lebih kekuatan atau partai politik yang berbeda, untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dan dilakukan untuk suatu jangka waktu tertentu.

Mengapa harus berkoalisi? Bukankah dalam ajang pemilihan umum sejatinya juga terdapat kondisi persaingan? Khususnya bersaing dalam mendapatkan tempat di hati para konstituen. Dan bukankah dengan adanya pembentukan koalisi berarti harus ada kerja sama sinergis antar para pesaing?

Tujuan tertentu dalam koalisi kekuatan politik tersebut tentunya lebih berasosiasi kepada tujuan mendapatkan akomodasi politik, entah itu berupa jatah kursi parlemen ataupun jabatan strategis di pemerintahan sebagai imbalan kerja sama koalisi. Sinergi akan terbentuk di sini. Lalu, apakah sinergi tersebut juga memberikan nilai tambah dan kepuasan bagi konstituen?

Ranah politik tentunya memiliki sejumlah perbedaan dengan ekonomi dan bisnis. Di kedua ranah tersebut, baik politik maupun bisnis, terdapat kondisi persaingan. Bila berbagai kekuatan politik bersaing dalam suatu ajang pesta demokrasi untuk merebut hati para konstituen dan mengharapkan konstituennya memberikan suara kepada mereka, maka dalam konteks persaingan bisnis para pelaku bisnis akan berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat di hati para pelanggannya, yang pada akhirnya juga memperebutkan pangsa pasar suatu komoditas tertentu.

Pada lingkungan ekonomi bisnis yang sudah mendekati konteks global, meskipun persaingan tetap tidak dapat dihindari, ternyata kerja sama sinergis di antara para pelaku bisnis di industri yang sama juga telah menjadi suatu kebutuhan. Bila dalam ranah politik dikenal istilah koalisi, maka konteks industri mengenal suatu konsep kerja sama dan bersaing dalam secara bersamaan: koopetisi (co-opetition).

Koopetisi, yang merupakan serapan dari kata co-opetition, berasal dari dua kata; cooperation atau kerja sama dan competition atau persaingan. Dalam koopetisi tersebut para pelaku bisnis di suatu industri akan bersaing secara sehat dalam merebut hati para pelanggannya, sekaligus bermitra dengan para pesaingnya guna meningkatkan nilai tambah yang dapat mereka berikan, baik kepada pelanggan maupun pemangku kepentingan secara lebih luas.

Para nasabah Bank Mandiri tentunya sangat memahami, bahwa mereka dapat melakukan transaksi melalui anjungan tunai mandiri (ATM) milik Bank Mandiri, maupun ATM-ATM milik BRI, BNI, dan bank-bank lainnya. Begitu pula yang terjadi dengan para nasabah bank lain, yang juga dapat memanfaatkan fasilitas ATM Bank Mandiri, BNI, BRI, dan bank lainnya yang terikat dalam suatu kerjasama kemitraan.

Di industri lain, masyarakat Indonesia tentunya tidak lupa dengan kehadiran duet mobil keluarga Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Dua produk yang menguasai pangsa pasar mobil keluarga di Indonesia yang lahir dari suatu bentuk koopetisi antara Toyota dan Daihatsu.

Di negara asalnya, kedua produsen, Toyota dan Daihatsu, secara bersama-sama mengembangkan produk mobil keluarga yang mudah diterima pasar dunia ketiga. Di Indonesia, produksi dilakukan di fasilitas produksi milik Daihatsu. Pemasaran dan penjualan dilakukan oleh masing-masing, Toyota dan Daihatsu, tentunya setelah menambahkan atribut keunikan khas milik masing-masing.

Kedua contoh di atas secara singkat telah menggambarkan praktek persaingan dan kerja sama kemitraan yang dilakukan secara bersamaan oleh para pelaku bisnis dalam industri. Kemudian, mengapa para pelaku bisnis dalam industri, yang notabene berada dalam kondisi bersaing, rela membangun kerja sama kemitraan?

Memenangkan hati para pelanggan tentunya membutuhkan berbagai upaya aktif. Utamanya adalah upaya untuk mempersembahkan produk, baik barang dan jasa, dengan karakteristik yang sesuai dengan apa yang diinginkan pelanggan, serta dilengkapi dengan atribut layanan yang melebihi harapan pelanggan.

Suatu upaya yang tidak mudah, dan tentunya tidak semua pelaku bisnis memiliki keunggulan paripurna (overall advantage) untuk mewujudkan berbagai hal tersebut. Dan kerja sama atau bermitra dengan pihak lain menjadi salah satu jalan terbaiknya.

Di tengah-tengah gejolak perekonomian dan situasi bisnis dewasa ini, dimana banyak sekali pelaku bisnis yang mampu meraih keberhasilan dalam persaingan yang sangat dinamis dengan cara bekerja sama dan bersaing dalam kerangka waktu yang sama, telah menunjukkan manfaat berkoopetisi di antara para pelaku bisnis.

Bila dibandingkan dengan industri dimana para pelaku bisnis di dalamnya melakukan berbagai hal secara masing-masing atau sendiri-sendiri, dalam upayanya membangun keunggulan produk dan atribut layanannya, tentunya konsep koopetisi ini lebih menawarkan iklim persaingan yang sehat dan memacu penciptaan nilai tambah bagi pelanggan dan pemangku kepentingan yang lebih luas.

Suatu hal yang wajib diperhatikan, koopetisi haruslah dibangun di atas dasar semangat yang mulia. Semangat untuk memberikan sesuatu yang lebih kepada pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya, dan semangat untuk terus bersama berada di industri secara berkelanjutan.

Kembali ke awal tulisan, seandainya kita dapat memilih koopetisi dibanding koalisi, tentunya akan lebih lebar dan bergema kiranya senyum masyarakat sebagai konstituen berbagai kekuatan politik peserta pemilihan umum.

Dan seandainya berbagai kekuatan politik di negeri ini lebih memilih koopetisi, seperti yang dilakukan pelaku bisnis di industri-industri tertentu, sebagai jalan mewujudkan misinya, niscaya semangat untuk memberikan sesuatu yang lebih kepada negeri ini juga akan mempercepat berhembusnya hawa keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

APZAlphieza Syam
Staf Profesional PPM
PZA@ppmmanajemen.ac.id

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s