Inspirasi dari The Icarus Deception

https://i1.wp.com/micpublishing.co.id/shop/wp-content/uploads/2013/10/icarus-deception.jpgBuku bersampul warna hijau muda dengan gambar sebuah sangkar burung ini menarik perhatian saya karena satu hal: ditulis oleh Seth Godin. Si gundul yang dikenal sebagai penulis kreatif ini selalu menarik perhatian saya karena gagasannya orisinal dan bisa menulis mengenai konsep-konsep marketing dengan menarik.

Ada beberapa bukunya yang lebih lawas yg layak dibaca. Misalnya Purple Cow (2005), Tribes (2008), Meatball Sundae (2009), Linchpin (2010) dll. The Icarus Deception sendiri terbit persis setahun yang lalu (Desember 2012). Setelah dua kali baca, saya baru menuliskan inspirasi yang saya peroleh.

Membaca buku yang menginspirasi merupakan hal yang sangat saya sukai. Melalui buku seringkali kita bisa memandang permasalahan yang lalu maupun yang sedang dialami, dengan menggunakan “kaca mata” yang berbeda. Yang kemudian menimbulkan pemahaman baru yang menenangkan.

Icarus sendiri, dari mitologi Yunani, adalah putra seorang pengrajin bernama Daedalus. Dalam upayanya melarikan diri dari Kreta, Icarus mengenakan sayap yang dibuat oleh ayahnya. Icarus kerap diingatkan olehDaedalus untuk tidak terbang terlalu tinggi mendekati matahari. Tetap saja Icarus mengabaikan peringatan itu, terus mengepakkan sayapnya terbang tinggi mendekati matahari. Hingga akhirnya lem perekat sayap buatannya meleleh akibat panas matahari. Icarus pun jatuh ke laut dan tewas.

Pembelajaran yang diambil dari kisah Icarus adalah soal soal ambisi dan pentingnya mengikuti norma yang berlaku. Jangan terlalu ambisius. Jangan menonjol sendiri. Patuhi orang tua. Turuti nasihat para ahli. Manut pada atasan. Jangan macam-macam! Pokoknya main aman sajalah.

Tapi ada satu hal yang terlewat dari kisah Icarus itu. Selain jangan terbang terlalu tinggi (nanti terbakar matahari), Icarus juga dilarang terbang terlalu rendah (nanti dihajar ombak). Sayangnya jarang sekali di antara kita yang tahu seberapa rendah yang disebut berbahaya. Kapan manut plus nurut itu sopan dan kapan pula menjadi refleksi dari sifat kerbau yang dicocok hidung.

Terbang rendah menurut Godin seringkali lebih berbahaya daripada terbang tinggi. Terbang rendah membuat kita tertipu oleh rasa nyaman (comfort zone) karena selalu merasa dalam zona aman (safety zone). Nah, ketika safety zone itu berubah karena dinamika bisnis, konsumen, teknologi, politik, persaingan dan lain sebagainya, kita pun tergagap. Seringkali sudah tidak cukup waktu untuk menyelamatkan diri.

Yang menarik, Godin menyarankan agar kita semua menghasilkan karya seni (art). Lho? Bukannya untuk jadi artis perlu bakat khusus, juga luar biasa? Ternyata tidak juga. Art is an attitude, culturally driven and available to anyone.

Sepanjang buku setebal 239 halaman itu (jangan khawatir, tulisannya besar-besar!) Godin terus menerus meyakinkan pembacanya dengan berbagai argumen cerdas bahwa karya seni itu membebaskan manusia dari comfort zone. Membangun fondasi baru, membangun hubungan dengan orang lain atau dengan gagasan-gagasan lain, bekerja tanpa memerlukan panduan yang rigid — itulah kerja untuk menghasilkan seni.

Jangan jadi bak kerbau dicocok hidung, berhenti tertipu dalam zona nyaman, mulailah bekerja menghasilkan karya seni. Start your journey before you see the end.

Ningky Risfan Munir blogDr. Ningky Sasanti Munir,
Staf Profesional PPM Manajemen
NKY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s