Alarm Krisis (Mulai) Berbunyi

Peringatan krisis di tanah air kini mulai berbunyi kencang. Pemicunya tak lain adalah kenaikan utang luar negeri yang konon mencapai US$ 272,1 Milliar, meningkat 11,38% dari periode yang sama tahun lalu.

Dari total tersebut, dominasi swasta kini lebih besar dari utang pemerintah dan bank sentral. Tak berhenti di situ, rasio utang luar negeri terhadap product domestic bruto kita kini menjadi 30,35%. Sebagai pembanding, saat krisis 2008 melanda, rasio kita ada di level 30,1%. Ini pertanda bahwa urgensi penerapan manajemen risiko semakin santer terdengar.

Selain disebabkan karena penurunan aktivitas ekspor, pembengkakan nilai utang luar negeri juga dipicu oleh factor-faktor makro sistemik, seperti perlambatan ekonomi di China serta krisis politik di Ukraina. Kini problem utamanya ada pada langkah mitigasi apa yang tepat dilakukan menghadapi turbulensi tersebut.

Mengelola risiko tak dapat dipandang secara parsial. Manajemen hendaknya mampu menempatkan risiko sebagai bagian yang tak terpisahkan dari setiap keputusan bisnis. Karenanya salah satu pendekatan yang ideal adalah integrated enterprise risk management.

Perusahaan di Indonesia perlu kembali melirik penggunaan prinsip dasar keseimbangan dalam kebijakan pendanaan di mana pendapatan dan dana hendaknya didominasi mata uang yang sama.

Artinya jika arus kas masuk perusahaan didominasi Rupiah maka pendanaan dalam mata uang Rp merupakan hal yang tepat. Sebaliknya bila penerimaan di dominasi US$ maka pendanaan dalam US$ menjadi feasible.

Pembengkakan utang tersebut diyakini merupakan dampak dari ‘tersisihkannya’ formulasi tersebut. Tren melemahnya nilai tukar Rupiah serta bunga pinjaman dalam US$ yang lebih rendah sering membuat manajemen melirik penggunaan alternatif pendanaan asing untuk membiayai proyek-proyek di dalam negeri. Selain karena hasil konversi ke dalam Rupiah yang besar, rendahnya bunga pinjaman disebut-sebut sebagai salah satu motivator utamanya.

Satu solusi mitigasi yang perlu menjadi pertimbangan para pemain lokal adalah penggunaan instrumen lindung nilai (baca; tehnik hedging) agar terbebas dari potensi pelemahan kurs yang dalam. Instrumen keuangan seperti kontrak forward dan futures serta option (baik opsi beli maupun jual) dipercaya ampuh dalam meminimalkan kerugian yang dialami perusahaan.

Meski terkesan ideal namun mencari option di dalam negeri bukan perkara yang mudah. Pasar option di Indonesia belum hidup. Karenanya perusahaan sementara ini perlu mencari instrument tersebut di pasar Singapura.

Namun seiring berjalannya waktu, ketika permintaan option di pasar lokal meningkat maka secara otomatis akan tercipta supply dan demand produk tersebut. Perlahan namun pasti pasar ini akan bangkit.

Mematikan alarm krisis saat ini bukanlah hal yang mustahil. Upaya preventif penciptaan utang-utang luar negeri dapat dilakukan dengan melirik penggunaan sumber daya lokal. Studi di lapangan menunjukkan banyaknya sumber-sumber daya yang belum diolah secara maksimal.

Hasilnya, potensi sumber alam tersebut hanya diekspor dalam bentuk bahan setengah jadi atau bahkan masih berupa material mentah. Sebagian kalangan menilai kealpaan kehadiran teknologi level menengah yang mampu memberikan nilai tambah pada produk sebagai penyebabnya.

Mirisnya adalah pada fase akhir, material tersebut akan kembali masuk ke Indonesia untuk dijadikan bahan dasar proses produksi. Jika dirunut, mekanisme tersebut tidak akan mampu memberikan potensi laba yang besar bagi pemain domestik. Yang ada hanyalah nilai ekspor yang rendah, dan bahkan terkadang belum mampu menutup utang yang bersumber dari pendanaan asing.

Jika pemanfaatan sumber daya lokal diiringi dengan peningkatan laju ekspor niscaya arus masuk devisa akan lebih tinggi. Di satu sisi mampu memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat, di sisi lain akan menghembuskan angin segar bagi investasi asing di dalam negeri. Di situlah alarm krisis akan berhenti secara otomatis, sebaliknya alarm tanda pertumbuhan positif akan menyalak nyaring.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 12 Mei 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s