3 Cara Perusahaan Tumbuh

Seperti yang sering saya sampaikan di kelas, saat mengajar mata kuliah strategi bisnis atau strategi korporat, keinginan pemilik bisnis umumnya adalah untuk tumbuh dan terus tumbuh. Itu juga kenyataan yang saya alami ketika diundang perusahaan untuk memberikan saran mengenai pertumbuhan bisnis.

Bagi perusahaan yang dimiliki keluarga, tumbuh memberikan banyak peluang keterlibatan anggota keluarga. Tumbuh juga memastikan kelangsungan kekayaan keluarga. Dengan asumsi, bisnis dikelola dengan baik, tentu.

Pengalaman saya menunjukkan bisnis yang terus bertumbuh akan menjadi kebanggaan luar biasa bagi keluarga. Apalagi kalau berada di daerah atau kota kelahiran pendiri, menjadi kebanggaan tersendiri.

Secara umum, pertumbuhan bisnis seringkali akan memberikan keuntungan finansial melalui dominasi terhadap pasar. Apalagi semakin besar bisnis kita, semakin banyak pula peluang melirik.

Perusahaan bisa tumbuh melalui satu atau sekaligus 3 cara, yaitu tumbuh organik, tumbuh melalui akuisisi lokal, dan tumbuh melalui akuisisi strategis.

Tumbuh organik adalah pertumbuhan perusahaan melalui upaya-upaya internal. Misalnya bulan Januari 2014 Bank Mandiri menyatakan akan membuka 300 cabang baru. Jadi Bank Mandiri meningkatkan kehadirannya di lebih banyak lokasi.

Cabang-cabang barunya itu dibangun tanpa melalui akuisisi bank-bank lain, melainkan melalui upaya-upaya internal, seperti investasi atas pembukaan cabang tersebut, pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia dan pengelolaan terintegrasi seluruh cabangnya.

Tumbuh organik menjadi pilihan karena biaya atau investasi yang dilakukan relatif lebih murah karena mengandalkan sumber pendanaan internal (atau publik bagi perusahaan Tbk.), tidak perlu ada proses adaptasi, terutama adaptasi budaya organisasi yang seringkali menjadi sumber kesulitan pada pertumbuhan melalui merger dan akuisisi.

Tumbuh melalui akuisisi lokal merupakan cara tumbuh yang biasa digunakan untuk melengkapi tumbuh organik. Perluasan bisnis dengan cara ini dilakukan oleh perusahaan melalui akuisisi perusahaan atau produk yang melengkapi atau memperkuat bisnis/lini produk perusahaan.

Yang sering menjadi pembicaraan di media masa adalah aksi perusahaan yang melakukan pertumbuhan bisnis melalui akuisisi strategis. Di luar Indonesia, kasus yang menghebohkan adalah akuisisi WhatsApp oleh facebook dengan harga wow, yaitu US$ 19 miliar.

Mark Zuckerberg, CEO dan pendiri facebook menyampaikan bahwa pembelian WhatsApp akan memperkuat posisi facebook di ‘industri’ layanan pesan yang riuh dan yang paling penting, memastikan bisnis masa depan bagi perusahaannya.

Di Indonesia misalnya, Grup Salim melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) melakukan sejumlah ekspansi dengan mengakuisisi perusahaan sepanjang 2013.

Pertama, PT Indofood Sukses Makmur Tbk melalui anak usahanya Indofood Agri Resources Ltd melakukan akuisisi 50% saham pabrik gula asal Brasil, yaitu Companhia Mineria de Acucar el alcool Partipaccoes (CMAA). Untuk mengakuisisi perusahaan ini, perseroan telah mendirikan anak usaha baru, yaitu IFAR Brazil Pte Ltd. Lalu mendirikan IndoAgri Brazil Participacoes Ltd, dan seluruh sahamnya dimiliki oleh perseroan.

Kedua, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. juga mengakuisisi 50% saham perusahaan pengolahan sayuran asal China, yaitu China Minzhong Food Corporation Limited (CMFC).

Tidak berhenti dengan kedua aksi di atas, melalui PT Asahi Indofood Beverage Makmur dan PT Indofood Asahi Sukses Beverage, yaitu perusahaan patungan antara PT Indofood Sukses Makmur Tbk. dan Asahi Group Holdings Southeasi Asia Pte Ltd menyelesaikan transaksi akuisisi atas seluruh saham PT Pepsi Cola Indobeverages.

PT Pepsi-Cola Indobeverages kemudian berganti nama menjadi PT Prima Cahaya Indobeverages bergerak di bidang produksi, pemasaran, dan distribusi secara eksklusif atas produk minuman non alkohol. Nilai akuisisi sekitar US$ 30 juta. Dana akuisisi didapatkan dari kas internal.

Menjelang tutup tahun 2013, PT Indofood Sukses Makmur Tbk melalui anak usahanya Indofood Agri Resources mengakuisisi perusahaan gula terbesar di Filipina, Roxas Holding Inc.

Keuntungan dari aksi ekspansi perusahaan belum dapat dinikmati dalam waktu dekat. Bahkan bisa mendatangkan bencana. Misalnya yang terjadi pada perusahaan Quaker Oats pada tahun 1994.

Perusahaan yang dikenal dengan produk oat-nya ini juga merupakan produsen minuman Gatorade. Mengira dirinya mampu mengelola produk minuman, Quacker Oats mengakuisisi produk minuman Snapple dengan harga US$ 1,7 miliar.

Dihadapkan dengan kenyataan pola ditribusi yang berbeda bak bumi dan langit antara Gatorade dan Snapple, Quacker pun setelah 27 bulan menyerah dan menjual kembali Snapple dengan harga hanya US$ 300 juta. Masih lanjut akibat aksinya itu, tahun 2001 Quacker Oats dibeli oleh PepsiCo.

Ningky Risfan Munir blogDr. Ningky Sasanti Munir,
Staf Profesional PPM Manajemen
NKY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s