Polemik Perpanjangan Usia Produktif

Wacana pemerintah untuk menyesuaikan usia pensiun instansi swasta dengan pegawai negeri sipil menjadi 58 tahun (yang diatur dalam Undang-undang Nomor 5 / 2014 tentang Aparatur Sipil Negara) kini mulai menuai polemik.

Karyawan memandang rencana tersebut dalam kaca mata positif. Perpanjangan usia pensiun dari 55 tahun menjadi 58 tahun setidaknya memberikan peluang bagi terciptanya stabilitas ekonomi karyawan selama 3 tahun berikutnya.

Langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Sebab perpanjangan usia pensiun selama 3 tahun secara akumulatif akan mengumpulkan daya beli masyarakat pada puncak usia produktifnya. Alhasil kondisi tersebut diyakini mampu mendorong perekonomian nasional.

Meski terkesan ideal, namun rencana tersebut tidak mendapat respon senada dari kalangan industri. Perpanjangan usia pensiun oleh pelaku usaha dipandang sebagai beban tambahan. Sebab itu berarti penambahan besaran persentase iuran dana pensiun yang harus ditanggung perusahaan (dari kewajiban 8% iuran, 5%-nya dibayarkan perusahaan).

Belum lagi jika upah minimum mengalami kenaikan mencapai 14% per tahun. Alhasil kondisi tersebut akan menciptakan ekonomi biaya tinggi bagi perusahaan. Titik krusialnya adalah ketika industri sudah tidak mampu menjawab tuntutan yang ada, maka investasi bisa hengkang dari bumi pertiwi.

Secara konseptual, usia pensiun merupakan suatu masa di mana seorang individu beralih dari usia produktif ke non produktif. Faktor kesehatan fisik dan batin seringkali dikaitkan dengan penentuan batasan usia tersebut. Sehingga pertanyaan yang layak diajukan pada wacana ini adalah apakah terdapat jaminan bahwa di antara rentang umur 55 tahun sampai dengan 58 tahun seseorang masih mampu berkinerja seperti saat usianya 50 – 54 tahun.

Berbagai hipotesis selama ini diajukan pada penelitian tentang usia produktif di setiap negara. Satu hipotesis ada yang menghubungkan antara usia produktif dengan angka harapan hidup umum di negara tersebut. Hasil uji menunjukkan semakin tinggi angka harapan hidup masyarakat di suatu negara maka perpanjangan usia produktif dapat dilakukan. Sebaliknya, semakin rendah angka harapan hidup maka usia produktif juga makin pendek.

Hipothesis selanjutnya ada yang menghubungkan penentuan usia produktif ini dengan struktur piramida penduduk masing-masing negara. Makin kecil ruas usia yang menuju tingkat produktif maka batasan usia pensiun akan semakin tinggi. Inilah realitas yang dihadapi negara-negara maju seperti Singapura.

Minimnya minat pasangan muda di sana untuk beroleh keturunan secara perlahan memberikan dampak bagi ketersediaan tenaga kerja produktif. Sehingga saat ketersediaan tenaga kerja berkurang sedangkan permintaan tetap naik, maka kebutuhan tenaga profesional akan dipenuhi dengan meminta kaum produktif yang sedang berada di usia puncaknya untuk tetap berkontribusi di perusahaan. Di situlah perpanjangan usia pensiuon sangat dimungkinkan.

Data statistik Indonesia menunjukkan bahwa selama tujuh tahun terakhir, pertumbuhan jumlah pekerja swasta di Indonesia rata-rata berada di level 11% per tahun. Sedangkan pada kategori pegawai negeri sipil, peningkatan ada di level 9% per tahun.

Itu artinya jika batas tunjangan pensiun ada di umur 100 tahun, maka dengan perpanjangan usia pensiuon di 58 tahun berarti setiap individu berhak memperoleh tunjangan selama 42 tahun berikutnya. Di situlah beban perusahaan terlihat jelas.

Atas situasi tersebut, segenap pemangku kepentingan hendaknya memandang setiap problematika secara proporsional dan adil. Alasan utamanya adalah mengingat kebijakan tersebut berdampak pada iklim investasi di dalam negeri.

Jika tak dibarengi paket-paket insentif lain, niscaya kebijakan tersebut akan mengancam arus investasi asing di tanah air. Menempatkan kepentingan karyawan dan pengusaha secara adil kiranya menjadi kunci solusi permasalahan klasik ini.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 19 Mei 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s