Ketika Politik Meminang Ekonomi

capres 2014Selang dua pekan terakhir perekonomian nasional diwarnai dengan aksi ‘menunggu’. Masa penantian bursa calon presiden dan wakil presiden itu ternyata tidak hanya dimaknai investor dengan mencermati siapa nama-nama yang diusung, melainkan juga peta kekuatan ekonomi yang disasar.

Semakin tinggi daya jual nama pemimpin di dunia internasional maka respon positif jualah yang tercipta di pasar, demikian pula sebaliknya.

Realitas tersebut seakan memperkuat temuan mahasiswa PPM School of Management terkait studi keperilakuan pasar domestik. Sejak Februari lalu hingga awal Mei ini, pasar modal Indonesia terdientifikasi mengalami efisien bentuk setengah kuat (atau yang dikenal dengan sebutan semi strong form).

Konsep pasar efisien yang diusung oleh salah satu ‘bapak’ keuangan dunia Eugene Fama tersebut menegaskan bahwa dalam bentuk setengah kuat, harga yang terjadi di pasar modal merefleksikan semua pergerakan data historis di masa lalu serta semua informasi publik.

Dalam penelusuran lebih lanjut, sepanjang empat bulan terakhir informasi publik yang diyakini memiliki ‘value’ adalah peta politik sejumlah partai peserta Pemilu. Mulai dari isu sentral yang diusung ketika kampanye untuk pemilihan legislatif hingga nama-nama presiden dan wakil presiden yang diangkat.

Mendekati Pemilu legislatif, sadar atau tidak, sensitivitas pasar semakin meningkat bila dibandingkan periode pemilihan lima tahun lalu (2009). Kala itu isu korupsi belum menjadi trendsetter yang mengarahkan pergerakan harga saham di pasar modal.

Berbeda halnya dengan periode ini. Ketika hasil rekapitulasi suara menegaskan bahwa belum terdapat partai yang memperoleh suara di atas 20%, maka ketidakpastian akan pemberantasan korupsi sebagai penyebab biaya ekonomi tinggi direspons pasar dengan posisi ‘wait and see’.

Tengok saja pergerakan indeks harga saham gabungan di bursa yang malah menurun lebih dari 50 basis poin pasca 9 April. Situasi itu yang seharusnya lekas direspons oleh para elite politik. Berita-berita tentang koalisi yang dilakukan para calon presiden masih didominasi oleh content politik dan belum menyentuh strategi pengembangan ekonomi nasional menghadapi era pasar bebas ASEAN maupun dunia.

Agenda-agenda seperti pemetaan kekuatan politik serta retorika kemakmuran masih sebatas wacana dan belum menyentuh sendi-sendi bisnis seperti harapan investor. Ini sebenarnya hal-hal yang perlu diwaspadai secara bijak. Sebab saat ‘wait and see’ kali ini dibarengi dengan optimisme perbaikan perekonomian di Amerika Serikat. Artinya ketika rapor biru ekonomi negara Paman Sam itu teraih maka investor global akan segera melarikan dananya dari Indonesia. Di titik itu, kita akan menghadapi kesulitan untuk menciptakan daya saing.

Pemahaman bahwa pada pasar bentuk setengah kuat investor lebih sensitif pada berita-berita publik hendaknya dapat dimanfaatkan partai untuk tidak hanya memenangkan hati rakyat melainkan juga hati investor dunia.

Gejolak politik yang terjadi beberapa waktu lalu di Thailand serta problematika ras yang terjadi di Vietnam telah membuat investor menarik dana besar-besaran dari sana. Itulah yang harus dimanfaatkan oleh bangsa kita.

Dengan kekuatan sumber daya alam serta manusia yang sangat besar, seharusnya Indonesia mampu menjadi cawan investasi yang sangat menjanjikan. Belum lagi ditambah karakter masyarakat yang cenderung konsumtif, maka bumi pertiwi bak lahan produksi dan konsumsi produk-produk berskala internasional.

Cara pandang inilah yang perlu diwacanakan secara luas. Di satu sisi mengajak segenap calon pemilih untuk mencermati hasil pinangan dimensi politik terhadap pertumbuhan ekonomi tanah air. Sedangkan di sisi lain mengajak para partai politik untuk mengarahkan agendanya pada misi kemakmuran yang berkeadilan sosial, searah dengan cita-cita para founding father negara kita.

Saat itu terjadi, niscaya Indonesia akan mampu menahan aliran dana investasi asing dalam jangka pendek seraya memperkuat permodalan nasional menjelang perdagangan bebas ASEAN tahun depan. Di situlah pinangan politik mampu menciptakan sinergi dengan sendi-sendi ekonomi nasional.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 26 Mei 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s