Competitive Industries

Competitive Industries hanya dapat diwujudkan dengan semangat untuk saling bersinergi antar sesama pelaku bisnis di Tanah Air.

ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), si pembawa gelombang perubahan sudah berada di depan mata, tapi sejujurnya tidak banyak yang telah kita persiapkan untuk menghadapinya.

Alih-alih bersiap masih banyak pelaku bisnis yang bahkan belum mengetahuinya! Padahal, 10 negara yang berada di kawasan Asia Tenggara telah mengikat janji untuk saling membuka pasar sehingga beragam produk, jasa, termasuk tenaga kerja, modal dan investasi akan menggelontor mulus, baik yang bersifat tariff maupun non-tariff.

Dengan situasi seperti itu, maka dunia bisnis tidak punya pilihan lain selain harus berubah! Tingkat persaingan pasar semakin meruncing, karena pilihan produk semakin banyak, sektor tenaga kerja juga akan semakin ramai, modal semakin lancar mengalir serta bahan baku yang semakin tersedia.

Bukan hanya perusahaan yang harus memiliki daya saing yang kuat, industri pun harus memiliki daya saing. Persaingan industri antar-negara tak terhindarkan. Sama seperti yang dilakukan oleh pabrikan mobil Jepang. Di dalam negeri mereka bersaing sengit, namun di luar negeri mereka bersatu dalam semangat nasionalisme Jepang. Hal yang sama dilakukan oleh pabrikan elektronik asal Korea.

Indonesia sudah sepatutnya juga melakukan hal yang sama, para pelaku bisnis di Tanah Air harus mau dan mampu membangun industri-industri yang memiliki daya saing atau yang lazim disebut sebagai competitive industries.

Jika kita tengok profil negara yang tergabung di MEA, terutama dilihat dari catatan ekspor-impor terhadap GDP, lima negara diantaranya menunjukkan rasio ekspor impornya terhadap GDP (Gross Domestic Product) di atas 100%.

Kelima negara itu adalah Singapura (298%), Vietnam (161%), Malaysia (144%), Thailand (132%) dan Kamboja (113%). Sementara Indonesia hanya sekitar 45%. Data ini menunjukkan bahwa kegiatan perdagangan kelima negara tersebut lebih ramai dibandingkan kegiatan ekspor-impor Indonesia.

Kesimpulannya, kita sedang berhadapan dengan negara para saudagar. Negara yang memiliki sifat layaknya saudagar, bergerak cepat dan agresif! Indonesia, dengan limpahan sumber daya alam dan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara, tentunya akan menjadi target pasar yang sangat menggiurkan.

Apakah kita hanya akan jadi objek limpahan produk dan tenaga kerja semata? Jawabannya sangat tergantung pada kesiapan kita dengan inovasi dan kerjasama memperkuat barisan. Industri lah yang harus menjawab semua tantangan itu.

Bagaimana membangun industri yang memiliki daya saing? Terdapat tujuh hal penting yang harus didukung dan dilakukan oleh seluruh praktisi bisnis,

  • pertama, adanya konsumen yang senantiasa menuntut produk yang terbaik (demanding customer) keberadaan mereka akan memaksa perusahaan terus berinovasi,
  • kedua, infrastruktur tersedia dengan biaya murah sehingga barang bisa bergerak secara cepat dan efisien,
  • ketiga, persaingan sehat diantara perusahaan sehingga pilihan untuk menjadi innovator akan lebih menguntungkan ketimbang hanya menjadi imitator,
  • keempat, desain strategi yang tepat dan kuat sehingga perusahaan konsisten bergerak maju ke arah yang benar,
  • kelima, kesiapan teknologi sehingga bisnis proses menjadi lebih sederhana dan fleksibel,
  • keenam, pemasok yang siap mendukung inovasi produk baru sehingga perusahaan dapat selangkah lebih maju dari pesaingnya dan
  • terakhir adalah keberadaan SDM yang unggul dan produktif yang dapat mendukung perusahaan untuk bisa melakukan perubahan secara cepat dan tepat.

Untuk mencapai ketujuh hal di atas, diperlukan peran simultan dari tiga pilar pendukung industri yakni; pemerintah, bisnis, dan akademisi.

Pemerintah perlu mendukung dari sisi persiapan infrastruktur, regulasi, dan fiskal. Sementara bisnis perlu bersinergi melalui melalui wadah asosiasi untuk kemudian bekerja sama dalam melakukan riset dan pengembangan produk hingga lahirnya produk baru. Baru disini artinya tidak hanya baru dan laku di dalam negeri, namun juga mampu ‘berbicara’ di manca negara.

Demikian pula kalangan akademisi dengan serangkaian perangkat lunaknya, Perguruan Tinggi diharapkan mampu menggelar beragam riset dengan dukungan tenaga ahli dan fasilitas riset yang mumpuni.

Kejadian masa lalu tentang ketidaktepatan hasil riset yang dihasilkan kalangan akademisi dibandingkan dengan kebutuhan industri, tidak boleh terulang kembali. Karena kejadian seperti itu tidak hanya menguras dana penelitian, namun juga menyebabkan tanggungan utang pemilik paten hingga miliaran rupiah karena tidak mampu membayar hak paten.

MEA dapat disikapi sebagai ancaman atau sebagai peluang, tergantung pada seberapa kuat kita secara bersama-sama dan terintegrasi melakukan persiapan. Saatnya kita untuk bersatu dan menujukkan jati diri kita sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.

*Tulisan dimuat majalah BUMN Track No. 82 Tahun VIII Mei 2014. Hlm. 175.

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph.D.
Direktur Utama PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s