Inovasi: Sebuah Paradoks

innoparadoxAldrin baru saja kembali dari perjalanannya menyusuri Mongolia hingga ke Spanyol. Hari ini ia memiliki janji bertemu dengan dua orang temannya, Dira dan Ben. Di sebuah kedai kopi kenamaan mereka bertemu. Setelah hampir satu tahun tidak bertemu, akhirnya siang hari ini mereka kembali berkumpul.

Berawal dari ajang show-off Aldrin akan iPhone barunya, ketiganya hanyut dalam sebuah perbincangan tentang revolusi teknologi.

“Guys, look, I got a brand-new iPhone 5S.”

Dira, yang pada dasarnya tidak tertarik sama sekali dengan tren smartphone, hanya menjawab sekenanya, “Yeah, so…?”

“Kok respon lo datar banget sih?” ujar Aldrin, sewot. “Dasar, laggards.”

“Kalau Dira laggards, dia nggak mungkin pake Samsung Galaxy S4, Bro,” ujar Ben, membela Dira.

“Ngomongin teknologi, gue udah nggak paham lagi deh, sama perkembangan teknologi sekarang. Berubahnya tuh cepet banget. Sekarang aja udah keluar Samsung Galaxy S5. Gue yakin, selang beberapa bulan Apple pasti udah ngeluarin iPhone 6,” ujar Dira menambahkan.

Ben tergelak, “Kayaknya pasar smartphone sekarang hanya milik Samsung dan Apple aja ya?”

“Iya, kasihan Nokia.”

“Tapi ya mau gimana lagi? Mereka paling inovatif sih,” ujar Ben memberikan pembelaan, “Perusahaan yang bisa bikin produk baru yang lebih canggih daripada produk sebelumnya, ya dia lah yang akan menguasai pasar.”

Ketiganya termenung sejenak. Dira menyesap sedikit hot chocolate yang dipesannya.

“Berarti perusahaan-perusahaan yang inovatif itu jahat juga ya. Ketika mereka melakukan inovasi, dan ketika inovasi mereka berhasil–dalam artian produk mereka diterima pasar, maka produk lainnya yang kalah canggih nggak akan ada yang beli lagi. Dan pada akhirnya produk itu bakalan mati. Jadi, secara nggak langsung, inovasi itu juga mematikan bagi produk lain. Kayak zaman dulu, waktu belum ada handphone. Orang-orang melakukan mobile communication pake pager. Begitu handphone ditemukan, pager nggak laku lagi dan akhirnya hilang dari pasar.”

Aldrin tersenyum. Ia menegakkan tubuhnya dan membetulkan letak kacamatanya.

“Inovasi itu sebuah paradoks, Dira.”

Dira mengerutkan keningnya, “Paradoks?”

“Apa yang lo ceritakan barusan itu sudah dipikirkan oleh Joseph Schumpeter dari zaman baheula.”

Ben tersenyum sekilas, “Gue pernah denger tuh, Joseph Schumpeter. Yang bikin buku ‘Capitalism, Socialism and Democrarcy’ kan?”

“Yoi, Bro. Tahun 1943 Schupeter ini bilang, Capitalism can only be understood as an evolutionary process of continuous innovation— ”

Ben memotong ucapan Aldrin dan menambahkan, “… and creative destruction.”

Aldrin tertawa sedikit, wajahnya sumringah, “Wah, lo tau juga, Bro?”

“Eh, tunggu-tunggu. Tadi gimana?”

“Capitalism can only be understood as an evolutionary process of continuous innovation and creative destruction.”

Dira merubah posisi duduknya, “Okay… gue nggak ngerti deh. Jadi, perekonomian, kapitalisme yang sekarang ini berjalan, itu sebenarnya adalah proses inovasi yang berkelanjutan?”

“Yep,” jawab Aldrin, seraya mengangguk tanda setuju.

“Terus kalau creative destruction itu maksudnya gimana?”

“Gini Dir,” Ben menyela perbincangan di antara keduanya, “Jadi creative destruction itu maksudnya adalah sebuah proses dimana cara-cara lama dalam melakukan sesuatu dihancurkan secara endogen dan digantikan oleh cara baru yang lebih baik.”

Ben menangkap raut kebingungan dari wajah Dira. “Gampangnya gini, dulu banget nih, lo kalau ngetik masih pakai mesin tik. Terus muncul teknologi yang namanya komputer. Kalau dulu dengan mesin tik lo hanya bisa ngetik, sekarang dengan komputer lo bisa bikin gambar, tidak hanya tulisan. Nah, sekarang, mesin tik udah nggak ada lagi, fungsinya sudah digantikan sepenuhnya oleh komputer.”

“Ooh.. I see. Jadi, secara nggak langsung, si komputer inilah yang menghancurkan mesin tik. Seperti handphone menghancurkan pager.”

“Yep. Disitulah letak paradoks inovasi. Di satu sisi, inovasi yang menggerakkan perekonomian dengan kemunculan produk baru, cara-cara baru. Tapi di sisi lain, dengan adanya inovasi pula produk dan cara lama itu menjadi binasa,” ungkap Aldrin.

*CIC Repository No. 06

fitri safiraFitri Safira
CIC Researcher/Staf Profesional PPM Manajemen
FFA@ppm-manajemen.ac.id

2 thoughts on “Inovasi: Sebuah Paradoks

  1. Menurut saya adalah sangat menarik melihat inovasi dari sudut pandang sosial seperti yang penulis lakukan. Ada banyak hal yang bisa digali dari berbagai teori atau pandangan yang sudah ada, salah satunya seperti pandangan Schumpeter (yang disebut sebagai ekonom dan ilmuwan politik) ini.

  2. Pernah denger tentang printer 3D? Ini salah satu innovasi yang bakal kita saksikan dalam generasi yang mendatang. Dan yang bakal dimusnahkan adalah industri manufaktur.

    Gimana dengan teknologi surya, mobil hibrida, angin? Yang bakal hancur industri perminyakan.

    Kesimpulan? Suatu hari innovasi yang ada sekarang bakal diganti. Termasuk pekerjaan, metode dan kebudayaan manusia. It is inevitable. Manusia juga terus beradaptasi dengan perubahan teknologi sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s