Paradigma Pengalaman Otomatis

Banyak pemasar muda mengalami professional bulying di kantor. Salah satu yang paling umum adalah dipandang sebelah mata karena kurang pengalaman. Afirmasi berjamaah kemudian terbangun dalam bentuk istilah-istilah seperti bau kencur, kurang mateng atau masih hijau.

Masalah ini diperparah ketika para pemasar muda kemudian seiring waktu mengamini, sehingga muncul rasa minder, dan menyerah. Kombinasi rasa jumawa para senior dengan mindernya anak muda yang tertekan, dapat menjadi racun berbahaya buat perusahaan, karena dapat menarik perusahaan dalam lingkaran business as usual tanpa inovasi. Tampaknya akar dari masalah ini adalah definisi pengalaman yang dipersaudarakan dengan masa kerja.

Life begin at 40 adalah suatu peribahasa yang umum menunjukkan bahwa puncak karir seseorang yang dinilai dari kemapanan hidup, didapat pada kisaran usia 40 tahun. Namun nampaknya peribahasa tersebut masih belum lengkap benar. Life begin at 40 harus dilanjutkan dengan only if you have enough competencies.

Kemapanan hidup yang dinilai dengan besarnya penghasilan dan kematangan kejiwaan memang hanya bisa didapat jika pada usia tersebut, seorang professional memiliki akumulasi kompetensi yang cukup, sehingga bisa menjadi bekal baginya untuk unggul dalam berkompetisi di bidang profesinya.

Keadaannya akan berbalik 180 derajat bagi mereka yang tertinggal dalam membangun kompetensi tersebut. Profesional di bidang pemasaran sering terjebak dalam paradigma pengalaman otomatis, yaitu seakan-akan pengalaman akan dengan sendirinya terakumulasi seiring lamanya pekerjaan dilakukan. Hal ini tidak selamanya benar.

Pekerjaan akan membangun pengalaman apabila diiringi dengan pembelajaran dan variasi yang cukup. Di kantor kami ada kelakar tentang bedanya pengalaman dan penglamaan. Pengalaman adalah 10 tahun di bidang kerjanya mengerjakan dan belajar 10 tugas yang berbeda, sedang penglamaan berarti mengerjakan tugas 2 tahun selama lima kali, singkatnya terjebak rutinitas.

Bagi para pemasar muda, mari belajar dari fakta ini. Jangan berkecil hati apabila Anda masuk tanpa pengalaman di suatu perusahaan. Kecepatan Anda untuk belajar hal barulah yang paling menentukan. Waktu dan tekad adalah aset paling utama Anda.

Jika ingin eksis dalam lingkaran yang dipandang, maka investasikanlah waktu dan tekad Anda untuk mempersingkat learning curve dalam industri tersebut. Jangan bersantai, manfaatkan kekuatan Anda dalam mencari informasi di dunia digital dan kreativitas yang tanpa batas untuk menjadi dua sisi mata pedang. Jutaan konten digital diciptakan setiap hari dan akses yang terbuka untuk bertanya pada para ahli di dalam dan luar negeri melalui berbagai platform menjadi pengalaman Anda.

Jika proses belajar ini dilakukan dengan baik, maka tidak ada lagi sebutan bau kencur atau masih hijau, melainkan diganti dengan bintang perusahaan, anak muda yang bersinar memberikan ide-ide cemerlang. Tetap semangat.

*Tulisan ini dimuat di Majalah Youth Marketers Edisi 11/II/26 Mei-8 Juni 2014.

Wahyu Tri SetyobudiWahyu T. Setyobudi.
Staf Pengajar PPM School of Management
WHY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s