Jalan Menuju Kursi Presiden

Bagi masyarakat demokratis seperti Indonesia, menjadi presiden adalah masalah bagaimana memanajemeni rekam jejak, mengelola tim sukses dengan baik, menguasai media formal maupun non-formal, dan pada ujungnya kemampuan meyakinkan para pemilih untuk member suara kepada sang kandidat.

Rekam jejak, baik karir maupun kehidupan pribadi kandidat presiden merupakan salah satu kekuatan besar untuk meyakinkan para pemilih atau konstituen. Oleh karena itu, kandidat lawan beserta timnya berusaha menggali masa lalu lawan sekaligus mengeksploitasi kelemahan sebagai sasaran tembak.

Bagaimana peta masa lalu para presiden? Dari keseluruhan, ada dua presiden yang berlatar belakang insinyur (Sukarno dan B.J. Habibie) dan ada dua yang berlatar belakang militer (Suharto dan Susilo Bambang Yudoyono), satu dari ibu rumah tangga yang kemudian terjun ke dunia politik dan seorang lagi dari rohaniawan.

Ada baiknya kita kenali latar belakang presiden Amerika Serikat sebagai bahan pertimbangan. Mengapa Amerika Serikat? Sekalipun Amerika Serikat dan Indonesia tidak sama dalam banyak aspek, paling tidak keduanya menerapkan sistem negara demokrasi, negara dengan populasi yang besar, dan memiliki kekebasan bicara yang telah terbangun dengan baik.

Menurut data Wikipedia, dari 43 presiden Amerika Serikat, enam besar jenis latar belakang profesi sebelum menjadi presiden adalah: ahli hukum atau lawyer sebanyak 26; militer sebanyak 22 dengan Sembilan di antaranya pernah menjabat sebagai jenderal; representatif sebanyak 18; gubernur sebanyak 17 dengan Sembilan di antaranya menjadi gubernur hanya beberapa saat sebelum pemilihan presiden; senator sebanyak 16; dan wakil presiden sebanyak 14.

Berdasarkan pembandingan dengan latar belakang karir presiden Amerika Seikat di atas, kedua kandidat presiden Indonesia memiliki latar belakang yang mirip dengan dan dimiliki oleh presiden Amerika Serikat: Prabowo berlatar belakang militer dan menduduki posisi jenderal; Joko Widodo berlatar belakang gubernur, dan khususnya yang baru menjabat beberapa waktu sebelum masa pemilihan presiden.

Latar belakang yang menarik untuk disimak juga adalah pendidikan. Mayoritas presiden menyelesaikan kuliah tingkat sarjana atau bachelor, hanya ada satu presiden yang mencapai jenjang S3 dan mendapat gelar doctor. Mayoritas berpendidikan hukum, ada dua presiden dari sekolah bisnis, satu tamatan kedokteran, dan beberapa dari sekolah tinggi militer.

Yang menarik juga adalah terdapat sebelas presiden yang tidak memiliki ijasah sarjana atau sederajat. Beberapa di antaranya tidak menyelesaikan kuliah, seperti George Washington karena ditinggal mati ayahnya, Abraham Lincoln yang hanya mengecap pendidikan formal sekitar setahun, dan Muillard Fillmore yang tidak kuliah tetapi kemudian mendidikan perguruan tinggi.

Mengapa tidak kuliah, apakah memang tidak perlu? Kuliah, sebagai sarana untuk membentuk kepribadian sekaligus mengembangkan daya nalar seseorang sangatlah penting. George Washington sendiri mengakui, sekalipun tidak mampu kuliah dia menyadari pentingnya pendidikan formal.

Kalau latar belakang presiden bisa sangat beragam, apa yang mendorong seseorang memberikan suaranya untuk seseorang? Pada prinsipnya, ada hubungan antara kepemimpinan dan kepengikutan (leadership-fellowship principle).

Pada waktu seseorang akan menentukan siapa yang dapat dipercaya menjadi pemimpin, dia mempertimbangkan dua sisi. Sisi pertama pertimbangan adalah, apakah dia cocok untuk memimpin saya? Sisi pertimbangan kedua adalah, apakah saya bisa menjadi pengikut yang baik dari dia?

Kemampuan tim sukses mengemas informasi dan komunikasi dengan para pemilih untuk meyakinkan relasi pemimpin-pengikut itulah yang kemudian menjadi penentu bagi para pemilih untuk menetapkan pilihannya.

Relasi tersebut bisa tercermin dalam rupa atasan-bawahan, yang memerintah-yang diperintah, atau kemitraan-kesejajaran antara pemimpin dan pengikut. Proses pembentukan citra untuk merayu pemilih tersebut tinggal sebulan.

Selamat berjuang dalam pesta pemilihan presiden.

*Tulisan dimuat di harian Jawa Pos, 5 Juni 2014.

Bramantyo DjohanputroBramantyo Djohanputro. Dosen Corporate Finance, Risk, dan Governance di PPM School of Management Jakarta.
BRM@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s