Menggali Esensi Dasar Strategi

strategy-2Anda mungkin pernah mendengar ungkapan ‘untuk memperbesar peluang menang dalam persaingan maka strategi mengikuti kemauan pasar adalah yang terbaik’. Beberapa kalangan bahkan menerjemahkan ungkapan tersebut dalam tagline amati, tiru, lakukan. Sebagian lagi menamakannya dengan strategi amati, tiru, modifikasi. Meski keduanya mungkin terbukti memberi keuntungan pada perusahaan atau organisasi, namun ada baiknya jika kita menggali esensi dasar dari ‘strategi’.

Salah satu Bapak Manajemen dunia Michael Porter di tahun 1996 pernah menulis sebuah artikel di Harvard Business Review dengan judul What is strategy? Kala itu sejumlah besar pemain global (khususnya yang berasal dari Jepang) tengah sibuk dengan tujuan menjadi perusahaan yang dikenal dalam kemampuannya melakukan efisiensi operasional.

Alhasil istilah strategi sering dikait-kaitkan dengan pencapaian tertinggi dalam hal penekanan biaya. Gejala tersebut juga melanda negara-negara di kawasan Asia. Perlombaan mencari sumber daya dengan harga rendah serta menyusun mekanisme produksi yang menjamin terciptanya biaya murahpun marak dilakukan. Hasilnya adalah serbuan produk-produk yang ditawarkan pada harga rendah.

Satu realitas yang menarik untuk dicermati adalah bahwa ketika hampir semua perusahaan melakukan hal serupa, maka harga rendah yang terkadang memangkas margin untuk setiap produk belum berhasil memberi keuntungan sperti yang diharapkan.

Di situlah Porter menyimpulkan bahwa efisiensi operasional belumlah cukup. Strategi harus dipandang secara ‘helicopter view’, dan bukan terbatas pada satu bidang manajemen sehingga dengan semangat tersebut cara pandang manajemen akan strategi perlahan mulai bergeser.

Opini bahwa untuk meraih prestasi emas, perusahaan wajib berkinerja jauh di atas rata-rata kinerja pesaing serta mampu mempertahankannya dalam jangka panjang mulai diamini kebenarannya.

Dalam pemahaman tersebut ide untuk menciptakan uniqueness mulai menyeruak. Munculnya kewajiban perusahaan untuk berbeda dengan para pesaing dimaknai sebagai sebuah strategi yang harus dilihat secara serius. Sehingga sejak saat itu, penggunaan kata strategi identik dengan adanya faktor pembeda yang jelas antara aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan dengan para pemain dalam industri yang sama.

Nah berbicara tentang kebutuhan untuk menggagas faktor yang indifference dengan pemain lain mau tak mau harus berangkat dari konsep inovasi. Pada medio 2000-an, literatur manajemen secara eksplisit menyatakan bahwa inovasi muncul dari semangat entrepreneurships yang ada di dalam perusahaan. Artinya semakin banyak jiwa-jiwa entrepreneur di dalam organisasi maka potensi munculnya inovasi yang akan mengarahkan perusahaan pada sebuah karakteristik unik semakin besar.

Alhasil sejak saat itu peta persaingan mulai berubah. Perusahaan tak lagi bertanding melulu dalam hal biaya. Menjual produk dengan harga tinggi bahkan terkadang mampu menyedot pasar secara besar-besaran. Di situlah pemahaman strategi secara komprehensif tercipta.

Sadar atau tidak, pola tersebut telah membawa dunia pada kualitas kehidupan yang lebih baik. Tengoklah bagaimana peningkatan daya beli diiringi oleh kenaikan pendapatan masyarakat. Realitas tersebut mendorong dunia industri untuk berlomba-lomba dalam hal inovasi kualitas produk serta pemasaran.

Bahkan tak jarang tuntutan inovasi juga memperhadapkan perusahaan pada kewajiban untuk merestrukturisasi organisasinya. Dengan ukuran yang lebih ramping, perusahaan dipercaya semakin mampu memberi dukungan terbaik bagi karyawannya dalam berinovasi.

Kini mendekati pemberlakuan era perdagangan bebas, fokus strategi pun diyakini mulai bergeser. Perusahaan tak boleh hanya terfokus pada kebutuhan pasar yang sudah ada saat ini, melainkan juga prediksi tuntutan pasar global.

Ketepatan prediksi manajemen akan kehidupan di lima hingga sepuluh tahun ke depan akan membuka peluang bagi organisasi untuk menjadi mitra setia konsumen (baca; pasar). Inilah kunci dari strategi.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai anda.

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 9 Juni 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s