Debat Cherrybelle

http://cdn0-e.production.liputan6.com/medias/689005/big/DEBAT+CAPRES+%26+WACAPRES+-+Faisal+R+Syam+(9).JPG

Beberapa hari ini debat antara dua pasang capres dan cawapres, yang akan bertanding pada tanggal 9 Juli 2014 nanti, hangat menjadi topik diskusi di keseharian masyarakat Indonesia. Di warung kopi, pool kendaraan hingga menjadi trending topic di twitter dan media sosial lainnya. Walaupun dampaknya bagi para pemilih yang telah menetapkan hati sepertinya tidak terlalu signifikan, namun debat memiliki arti penting sebagai salah satu usaha untuk memenangkan hati swing voter di sisa masa kampanye yang tinggal menghitung hari.

Tanpa mengurangi perayaan atas ekspresi demokrasi baru yang terbangun indah di negara ini, saya hendak mengajukan otokritik atas debat yang saya sebut sebagai debat cherrybelle. Terminologi ini memperkaya idiom debat yang biasa dipakai antara lain debat kusir, pokrol bambu, dan lain sebagainya. Debat cherrybelle dalam pandangan saya adalah debat yang enerjik, cantik, ideal dan menggairahkan, namun sayang hanya eksis di layar kaca dan panggung-panggung, tidak dapat dimiliki. Singkat kata berkutat pada zona-zona ideal namun tidak memberikan gambaran jelas mengenai strategi mencapainya, apalagi program untuk membumikannya.

Menurut Merriam Webster Dictionary, debat didefinisikan sebagai “a discussion between people in which they express different opinions about something”. Jadi tulang punggung yang secara prinsip harus ada dalam debat adalah rangkaian argumen yang berbeda terhadap suatu masalah tertentu. Debat pada tanggal 9 Juni lalu agaknya masih jauh dari pemenuhan prinsip ini. Kedua kandidat masih banyak menawarkan visi atau misi yang sifatnya end goal atau mimpi normatif atas negara, yang tentu saja semua orang akan sependapat dengannya.

Barang jualan para kandidat tentang negara yang mensejahterakan rakyatnya, pemerintahan yang bersih, berdaulat dan dikagumi di mata dunia, serta pengelolaan aset kekayaan alam demi rakyat, pada dasarnya hanyalah parafrase dari pembukaan UUD 45 yang telah dicetuskan oleh bapak pendiri bangsa. Debat seperti ini dapat dianalogikan seperti taruhan bola antara dua orang yang dua-duanya menjagokan Real Madrid. Di mana serunya?

Dalam kerangka manajemen strategis, rencana jangka panjang perusahaan dibangun melalui organization aspiration atau dream yang kemudian diturunkan menjadi suatu inisiatif strategis. Disinilah seninya. Strategi adalah cara untuk meraih tujuan, dimana terdapat berbagai macam alternatif yang memiliki maslahat dan konsekuensi masing-masing. Dalam tataran strategis inilah perdebatan dapat dilakukan dengan lebih berwarna, menguji kecerdasan berpikir para kandidat dalam membangun argumentasi yang holistik.

Selain Itu, inisiatif strategi harus dibedakan dari apa yang disebut sebagai operational effectiveness. Sang filosof manajemen Michael E. Porter dalam salah satu tulisannya di Harvard Business Review (1996) berpendapat bahwa walaupun keduanya mirip, dan dibutuhkan dalam meraih tujuan jangka panjang, namun harus dibedakan dengan jelas.

Operasional effectiveness adalah cara melakukan sesuatu yang sama dengan kompetitor, namun dengan cara yang lebih baik. Sedangkan strategi adalah melakukan sesuatu yang berbeda dari kompetitor. Memang tidaklah salah jika pemimpin menekankan pentingnya efektivitas operasi dalam pemerintahan, dan memang demikianlah salah satu permasalahan yang ada. Namun dalam kerangka jangka panjang, orientasi ini tidaklah cukup.

Telah lama operational effectiveness dilakukan oleh Jepang dan berhasil mencengangkan dunia dengan menyaingi produk-produk barat yang telah hadir jauh sebelumnya. Menggunakan total quality management (TQM), continous improvement dan benchmarking, perusahaan manufaktur Jepang dapat menekan biaya melalui turunnya buangan dengan tetap mempertahankan kualitas dalam rentang toleransi.

Namun demikian, cara-cara efektivitas ini kemudian menjadi umum dalam industri sehingga terjadi saturasi dan kesetimbangan persaingan. Strategi di sisi lain, adalah cara berbeda yang dipilih dari sekian alternatif yang ada. Sebagai contoh, sebuah perusahaan penerbangan dapat memilih strategi biaya rendah atau biaya premium. Singapura mendeklarasikan dirinya sebagai service country dan membangun seluruh platform dukung untuk itu, bagaimana dengan Indonesia?

Sebagai contoh, seluruh kandidat menyatakan dengan tegas untuk membangun pemerintahan yang bersih, dengan sebelumnya mengelaborasi pentingnya pemerintahan yang bersih. Tentu saja tidak ada seorang pun yang akan membantah pentingnya pemerintahan yang bersih. Masalahnya disini bagaimana strategi untuk menjalankannya, dari sekian banyak elemen pembentuk pemerintahan yang bersih, mana yang akan menjadi prioritas, apa hambatan potensialnya dan bagaimana mengatasi hambatan potensial tersebut. Masyarakat belum dapat melihat jelas dalam debat sebelumnya.

Pada beberapa kesempatan sebenarnya terbuka peluang menarik untuk mendapatkan debat yang bermutu seperti pandangan Probowo-Hatta tentang perlunya meningkatkan kesejahteraan aparatur negara untuk menghindari korupsi melawan pandangan Jokowi-JK yang justru menekankan pada sistem politik berbiaya rendah dan transparansi anggaran pemerintah. Jika kedua strategi ini dibedah lebih dalam, maka akan muncul berbagai macam argumentasi yang kaya dan mencerdaskan. Dengan demikian, format debat agaknya perlu diubah sehingga lebih fleksibel dan mampu mengangkat hal seperti ini.

Beberapa hal yang bisa diubah antara lain, pertama, mengenai atmosfer, format debat dibuat lebih rileks dalam studio yang tertutup sehingga konsentrasi para kandidat tidak terganggu dan dapat fokus pada masalah. Dengan demikian, efek demam panggung dapat diminimalisir. Kedua, para kandidat harus diberi kesempatan untuk mengevaluasi dan mengkritisi konsep yang dibawa oleh kandidat lainnya, sehingga dokumen strategi tertulis perlu diberikan dan dipertukarkan sebelum acara. Dengan demikian ada kontra argumen yang dapat disajikan dalam acara puncak. Ketiga, moderator perlu dilengkapi dengan hak untuk memperdalam dan mengadu ketajaman argumen kedua kandidat. Dengan demikian, flow pembicaraan dapat lebih luwes dan memberikan ruang lebih luas bagi moderator untuk mencairkan suasana.

Masih ada empat seri debat lagi yang akan diadakan pada tanggal 15, 22, 29 Juni dan debat akhir pada 5 Juli 2014 nanti. Kita berharap KPU dapat mengevaluasi dan memperkaya debat berikutnya sehingga masyarakat dapat terbantu untuk melabuhkan hatinya pada calon pasangan capres dan cawapres yang benar-benar memiliki wawasan luas dan holistik pada permasalahan bangsa.

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 13 Juni 2014. Hal. 7.

Wahyu Tri SetyobudiWahyu T. Setyobudi.
Staf Pengajar PPM School of Management
WHY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s