Saatnya Indonesia Berhemat

Hemat_Energi02Wacana penghapusan subsidi listrik di enam golongan pelanggan spontan mendapat reaksi keras dari dunia industri. Kenyataan bahwa dengan tarif yang berlaku saat ini, sejumlah sektor masih menyisakan pekerjaan rumah besar dalam menciptakan daya saing menjelang pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Kini PR tersebut harus ditambah dengan ancang-ancang kenaikan harga bahan baku serta pendukung produksi. Artinya dengan kondisi pendapatan masyarakat yang tidak meningkat, maka jika kenaikan rata-rata tarif mencapai 11% mulai hulu ke hilir, bisa jadi konsumsi masyarakat akan meningkat sekitar 20%. Beban tersebut diyakini akan meningkatkan rasio gini di tanah air. Lalu apa yang perlu dilakukan?

Satu-satunya alternatif kini tinggal ‘berhemat’. Patut disadari bahwa pemberian subsidi di bidang energi telah menaikkan pagu dari Rp. 110 triliun menjadi Rp. 392 triliun. Angka tersebut juga telah menyedot anggaran pemerintah hingga 31% lebih. Jika kita meletakkan kepentingan anggaran bagi bidang lain seperti kesehatan dan pendidikan maka peningkatan kebutuhan subsidi tersebut secara langsung akan menyedot anggaran sektor lain yang mungkin lebih penting.

Meski wacana ini masih menjadi perdebatan sejumlah kalangan, namun penghematan penggunaan energi mutlak perlu segera dilakukan. Kemajuan teknologi industri dewasa ini telah berhasil menciptakan produk-produk yang lebih hemat. Sebut saja teknologi listrik bertenaga surya, atau produk-produk eletronik yang mampu menduplikasi daya.

Dengan input energi yang kecil, beberapa produk mampu menghasilkan kinerja output yang lebih besar. Sehingga ketika pola konsumsi dijumlahkan maka efek pengurangan akan diperoleh secara langsung. Di satu sisi kita mampu menjaga stabilitas pertumbuhan kebutuhan energy listrik, di lain sisi konsumen diuntungkan dengan pengeluaran yang terkendali.

Selanjutnya, upaya penghematan dalam konteks ini juga dinilai mampu mendorong terciptanya ide-ide inovatif dalam memanfaatkan energy. Memang untuk itu dibutuhkan dukungan modal yang sangat besar. Namun secara bertahap biaya investasi tersebut akan dikompensasi oleh penghematan yang terjadi.

Salah satu ide inovasi yang perlu dikembangkan dari kacamata komersil adalah konversi dari penggunaan bahan bakar minyak ke pemanfaatan gas. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kini ketersediaan minyak mentah di nusantara telah mulai terkikis. Nah dalam konteksnya sebagai sumber daya alam yang tak dapat diperbarui maka eksplorasi atas mineral ini akan sama halnya dengan meninggalkan ‘lubang’ kosong.

Butuh ratusan bahkan ribuan tahun untuk mengembangkannya kembali secara alamiah. Kondisi tersebut diperparah dengan kenyataan bahwa hingga kini pengolahan menjadi bahan bakar siap pakai masih tergantung di beberapa negara. Alhasil untuk menutup kebutuhan dalam negeri, aktivitas impor masih menjadi putusan terbaik. Nah dengan kurs Rupiah yang semakin lemah, maka kenaikan harga bahan bakar minyak di pasar internasional akan membuat produk ini semakin mahal.

Tahun ini kuota BBM bersubsidi ada di 48 juta kiloliter atau 8% di atas perhitungan wajar. Jika langkah penghematan dapat dilakukan maka setidaknya terdapat 8% anggaran yang dapat dialokasikan ke sektor lain. Meski di atas kertas wacana tersebut sangat ideal, namun mempertimbangkan psikologis pasar kiranya menjadi sebuah keharusan. Sebab di satu sisi keputusan strategis ini harus menjadi sebuah putusan ekonomi dan bukan politik.

Dalam konteks tersebut efek sistemik dari kenaikan terhadap kesejahteraan masyarakat harus tetap diperhatikan. Pemerintah harus mampu memastikan bahwa relokasi dana dari subsidi energi ke sektor lain secara langsung berdampak positif pada kehidupan masyarakat. Monitoring kenaikan harga-harga produk yang berpotensi memicu inflasi tinggi harus diimbangi dengan penurunan tuntutan pemenuhan kebutuhan di bidang lain (sebut saja kesehatan). Dengan demikian kompensasi kenaikan biaya akan tercipta. Di satu sisi negara tak lagi menanggung beban yang berat, di lain sisi dalam jangka menengah masyarakat akan mampu beradaptasi dengan pola kehidupan yang baru.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 16 Juni 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s