Membangun Fondasi Opini Bagi Ekonomi Masa Depan

mea-2015Ketika Indonesia disibukkan dengan agenda politik nasional lima tahunan, Malaysia terlihat begitu antusias menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dalam suatu pertemuan khusus antara para pejabat pemerintahan dengan investor, Pimpinan negara dengan tegas memposisikan Malaysia sebagai ‘pintu gerbang’ investasi di ASEAN.

Meski disampaikan dengan cara yang sederhana, namun pernyataan tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. Pintu gerbang identik dengan tempat masuknya produk (barang dan jasa), termasuk arus modal.

Itu berarti ketika investor global ingin menanamkan modalnya di kawasan ASEAN maka mereka harus melalui Malaysia. Besar harapan ketika investor berbondong-bondong masuk maka ‘impulse baying’ dalam perspektif strategis dapat dilakukan.

Sejumlah besar agenda investasi yang melibatkan negara sebagai pemain utama diyakini mampu berkembang menjadi magnet perekonomian di masa depan. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Dalam diskusi kesiapan negara kita menghadapi era MEA, salah satu simpulan menyatakan bahwa penelitian tentang corporate ownerships di bumi pertiwi nyata-nyata mulai didominasi oleh asing, termasuk negeri jiran tersebut.

Entah itu karena kealpaan atau terdapat unsur kesengajaan, namun satu yang pasti adalah bahwa kini terdapat begitu banyak sumber daya alam yang dikuasai oleh asing. Artinya secara tak langsung Indonesia telah ‘termakan’ oleh opini ‘kolaborasi’ berbasis hubungan yang saling menguntungkan. Mungkin itu juga yang memicu keberanian negara-negara tetangga untuk menyatakan dirinya sebagai pintu gerbang di era MEA.

Bila realitas itu yang harus dihadapi, maka Indonesia perlu segera ‘mengejar’ ketertinggalan. Pemerintahan baru sangat diharapkan mampu menjadi ‘conductor’ perekonomian nasional. Di antara sekian banyak sektor industri, bidang industri kreatif diyakini mampu bertumbuh menjadi primadona di masa depan.

Industri yang konon pertumbuhannya dipicu oleh kekuatan inovasi ini telah membuktikan bahwa selama tiga tahun terakhir mampu mencetak angka pertumbuhan di atas rata-rata kenaikan ekonomi nasional 6,5%.

Kondisi itu diprediksi akan mengalami kenaikan yang lebih tinggi di tahun-tahun berikutnya berkat perkembangan dunia internet termasuk jejaring sosial. Kemudahan penjualan melalui sejumlah media sosial dipandang sebagai langkah jitu dalam membawa produk-produk lokal ke ranah internasional.

Meski hal tersebut sangat ideal secara konseptual, namun upaya menjadikan sektor kreatif sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia di masa depan tidak selesai begitu saja. Malaysia, Singapura dan Filipina juga tengah berjuang untuk melakukan hal yang sama. Ketiga negara tersebut juga telah memiliki strategi multiplatform dalam mengembangkan sektor kreatif. Satu di antaranya adalah dengan mengedepankan positioning ‘apresiasi atas hak cipta’ baik di dalam maupun luar negeri.

Beberapa studi yang mempelajari daya saing nasional berhasil mengungkap bahwa penghargaan masyarakat suatu negara pada hak atas kekayaan intelektual merupakan komponen dasar dalam menarik perhatian investor global.

Pada fase selanjutnya, hasil penelitian tersebut telah diafirmasi oleh kebijakan sejumlah pemain internasional sebut saja Samsung, Coca Cola, dan Nike yang menegaskan bahwa investasi diarahkan pada negara-negara yang secara eksplisit telah mampu menunjukkan penghargaannya pada kekayaan intelektual yang ada.

Upaya menjunjung positioning tersebut harus diakui bukanlah hal yang mudah. Selain memerlukan waktu yang panjang, positioning itu juga harus disampaikan dengan bahasa yang lugas namun sederhana sehingga makna yang tercipta dapat benar-benar mengarahkan pasar untuk berpikir dalam jangka panjang. Hanya dengan cara itulah positioning akan menciptakan opini pasar. Di situlah peluang Indonesia seharusnya jauh lebih besar daripada negara-negara tetangga.

Dengan merujuk pada sumber daya alam (dan manusia) yang berlimpah serta tak jarang menjadi bahan baku utama produksi di negara-negara tetangga, Indonesia dapat memposisikan dirinya sebagai ‘pusat investasi sektor kreatif ASEAN’.

Di situlah efek kolaborasi dengan negara-negara tetangga berpangkal. Ketika opini apresiasi atas hak cipta telah terbentuk dengan kuat di nusantara, maka semakin kuatlah positioning tersebut. Bila ini berhasil tercipta niscaya bangsa kita akan mampu mempertahankan daya saing dalam jangka panjang baik di pasar regional maupun internasional.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda.

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 23 Juni 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s