Procrastinate

Now Or Later Keys Shows Delay Deadlines And UrgencyKetika seorang pemimpin dihadapkan pada situasi yang sulit, dimana ia harus mengambil keputusan yang sarat dengan risiko, adakah pilihan keputusan yang paling aman?

Seringkali menunda keputusan menjadi pilihan, karena jarang sekali orang mempertanyakan risiko keputusan yang ditunda, dan orang lebih sering mempersoalkan risiko dari keputusan yang salah, atau bahkan risiko dari keputusan yang benar sekali pun.

Lalu bagaimana dengan risiko yang timbul dari keputusan yang tertunda? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya jika kita lihat kasus berikut:

Mega Proyek Mass Rapid Transportation (MRT) dan Monorail Jakarta. Keduanya telah ditunda selama lebih dari lima tahun, seandainya lima tahun yang lalu MRT dan Monorail telah diputuskan untuk dibangun, sejatinya kedua proyek tersebut sudah beroperasi, yang tentunya diharapkan mampu mengurai kemacetan Jakarta.

Dampak dari penundaan keputusan MRT dan Monorail juga tidak pernah dihitung, apalagi sampai dipidanakan. Dapat dibayangkan berapa banyak pemborosan waktu dan energi, yang harus kita tanggung bersama-sama. Belum lagi jika kita lihat dari aspek biaya, tentunya lima tahun yang lalu biaya yang dibutuhkan relatif lebih murah dibandingkan dengan sekarang.

Hal serupa juga terjadi ketika Bank BTN diakuisisi oleh Bank Mandiri. Keputusan untuk melakukan merger antara-kedua bank, yang telah dikaji secara seksama oleh para ahli, serta-merta ditunda dengan alasan maraknya demo Karyawan Bank BTN dan waktunya yang bertepatan dengan ajang Pemilu. Setidaknya ada dua dampak dari penundaan keputusan tersebut, yakni hilangnya momentum, dan juga kurang mendidik masyarakat.

Sekarang, bagaimana membuat seorang decision maker agar lebih berani membuat keputusan? Pertama, setiap keputusan perlu dilengkapi dengan analisa dampak positif dan negatif. Melalui kajian yang lengkap, seharusnya manfaatnya jauh lebih baik ketimbang dampak negatifnya.

Biasanya kajian ini telah dilakukan secara seksama yang dituangkan dalam Kajian Kelayakan Proyek. Dalam Kajian Kelayakan tergambar bagaimana alternatif keputusan yang ada, apakah telah memenuhi kriteria yang dikehendaki. Pada tahap ini dikaji terlebih dahulu kriteria keputusan beserta bobot kepentingannya yang kemudian dipergunakan untuk membandingkan dengan alternatif keputusan lainnya.

Selanjutnya, pada sisi dampak negatif, biasanya disebutkan konsekuensi yang mungkin akan merugikan. Pada tahap ini hal yang dikaji adalah pada setiap konsekuensi adalah; seberapa besar kemungkinan yang terjadi dan seberapa serius bila kemungkinan hal tersebut terjadi.

Seorang risk taker, pastilah akan memaksimalkan benefit dan mengelola risiko dengan melakukan mitigasi risiko. Sebaliknya seorang yang risk avoider, akan cenderung melihat konsekuensi, semakin kecil konsekuensinya maka keputusan itu akan dipilihnya meskipun untuk itu manfaat juga harus dikorbankan.

Pemimpin yang bertipe risk avoider akan menyebabkan perusahaan bergerak lamban dan selalu gagal meraih peluang-peluang besar yang biasanya terjadi dengan cepat dan agak berisiko.

Kedua, perlu juga melengkapi kajian keputusan yang menggambarkan dampak positif dan negatif jika keputusan tidak diambil. Inilah yang seringkali tidak dilakukan sehingga kasus menunda keputusan sering kali menjadi pilihan terbaik untuk mengamankan diri.

Padahal, seringkali dampak negatif yang ditimbulkan jika menunda keputusan sangat besar, meskipun tidak langsung dirasakan karena umumnya berdampak jangka panjang. Kondisinya akan lebih parah lagi jika dihubungkan dengan kenyataan bahwa setiap pemimpin memahami bahwa periode kepemimpinan punya batas waktu. Moral hazard pun terjadi.

Pemimpin yang tidak visioner, akan cenderung memilih keputusan populer yang bersifat jangka pendek dan biasanya dampaknya langsung dirasakan, ketimbang mengambil keputusan jangka panjang yang tidak populer dan harus mengeluarkan biaya dan investasi jangka panjang, yang kemungkinan akan mengurangi nilai pencapaian kinerja jangka pendeknya.

Dalam benaknya seorang pemimpin yang tidak visioner, berpikir “Siapa yang peduli terhadap dampak jangka panjang, masa jabatan saya hanya tinggal beberapa bulan lagi. Buat apa saya bersusah payah, toh yang akan menikmati adalah pengganti saya”.

Tentu, tidak selamanya penundaan terjadi karena pemikiran jangka pendek seperti itu. Bisa juga karena ketidaktahuan. Itulah sebabnya, ketika mengajukan usulan bersifat stratejik berdampak jangka panjang, sebaiknya juga secara lengkap menggambarkan kajian negatif jika keputusan tersebut ditunda.

Tergesa-gesa mengambil keputusan bisa berbuah kekeliruan, namun lamban memutuskan juga dapat memicu kekalahan sebelum bertanding. Cermat dalam memutuskan berarti mempertimbangkan dengan seksama dan memutuskan dengan mantap “Think Big, Start Small, and Act Now!”

*Tulisan dimuat majalah BUMN Track No. 83 Tahun VIII Juni 2014. Hlm. 63.

Andi Ilham SaidIr. Andi Ilham Said, Ph.D.
Direktur Utama PPM Manajemen
ais@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s