Mempertegas Positioning Negara Agraris

Realitas bahwa 40% lebih tenaga kerja produktif di tanah air bekerja di sektor pertanian merupakan modal kuat bagi bangsa untuk berdaya saing tinggi di bidang ini. Dengan dukungan tingkat kesuburan bumi pertiwi yang cukup tinggi maka sudah seharusnya Indonesia mempunyai kekuatan lebih untuk menjadikan agraris sebagai soko guru perekonomian.

Namun sayang sejak periode 2004 hingga 2013, laju pertumbuhan ekonomi di nusantara rata-rata mencapai 5,8% dan hanya digerakkan oleh konsumsi rumah tangga yang berasal dari sektor jasa. Ini berarti bahwa arah kebijakan yang saat ini berlangsung tanpa disadari telah membuat Indonesia ‘lupa’ akan posisinya sebagai negara agraris.

Di satu sisi terdapat kelemahan sektor industri manufaktur dan pertanian yang berbasis ekspor, di sisi lain masyarakat telah‘terdidik’ untuk menjadi konsumtif. Kondisi ini jelas merupakan pekerjaan rumah yang harus ditangani secara serius oleh pemerintahan hasil Pemilu 9 Juli tahun ini.

Data di lapangan menunjukkan bahwa selang sepuluh tahun terakhir telah terjadi sedikitnya 18% peralihan bentuk lahan pertanian menjadi peruntukan sektor properti. Bila tak segera dihentikan maka swasembada pangan hanya akan menjadi cita-cita absurd.

Bila kita kembali ke UUD 1945 yang memberikan arahan jelas bagaimana bangsa ini harus mencapai kesejahteraan masyarakat, terlihat jelas proses pengelolaan kekayaan alam yang digariskan. Artinya kehadiran negara dalam mempertegas positioning Indonesia sebagai ‘lumbung pangan’ baik dalam skala nasional, regional maupun internasional sangat diperlukan.

Indonesia sejatinya harus dilihat dalam konteks sebuah perusahaan pertanian skala nasional. Dibutuhkan sebuah grand strategy yang mampu mengarahkan setiap kebijakan produksi, pemasaran, sumber daya manusia serta keuangan untuk menjalankan misi demi tercapainya visi bangsa. Sebab hanya dengan cara pandang itu maka UU no. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman akan dapat dioperasionalkan secara efektif.

Problematika di lapangan kini telah menunjukkan bahwa pemerintah belum mampu memberikan jaminan harga dan ketersediaan pasokan. Di beberapa kasus panen bahkan terlihat bahwa alih-alih beroleh keuntungan yang besar, ketidaktepatan masa panen seringkali memperhadapkan hasil bumi dalam negeri dengan produk asing. Alhasil keuntungan yang diperoleh petani menjadi sangat kecil.

Selanjutnya, pertanian tak lagi menjadi sektor yang menarik untuk dikelola. Data statistik kini menunjukkan bahwa kepemilikan lahan per rumah tangga petani hanya 0,3 hektar. Artinya pada angka tersebut, beban yang harus ditanggung setiap lahan menjadi besar. Disitulah cikal bakal problematika kemiskinan di tanah air tercipta.

Memecahkan masalah tersebut harus diakui bukanlah perkara yang sederhana, mengingat di tahun 2025 (sepuluh tahun ke depan) Indonesia akan memperoleh bonus demografi. Penduduk usia produktif (19-65) tahun diprediksi lebih banyak daripada mereka yang berusia di bawah 18 tahun atau di atas 66 tahun. Ini artinya sejak dini pemerintah perlu melihat pertanian sebagai modal bagi pengalokasian tenaga kerja produktif di tahun tersebut.

Kehadiran aspek teknologi serta konsep pertanian modern sangat dibutuhkan saat ini. Rekayasa yang akan mempertemukan antara dukungan alam (baca; cuaca), kebutuhan serta daya beli pasar merupakan kunci sukses dalam memajukan sektor pertanian di tanah air.

Terbayang jelas betapa besar keuntungan yang akan diperoleh jika di musim paceklik bumi pertiwi malah berfungsi bak ‘lumbung pangan’ bagi dunia. Spontan investasi di bidang ini akan mengalir deras. Di satu sisi kualitas kesejahteraan para petani akan membaik, di sisi lain daya serap tenaga kerja pada sektor ini akan meningkat.

Dalam kondisi itulah positioning sebagai negara agraris akan semakin kuat. Sejarah mencatat bahwa selama orde baru 1% lapangan usaha mampu menyerap hingga 450.000 tenaga kerja. Kini angka itu menurun dengan hanya 200.000 orang. Kiranya persoalan ini harus menjadi keprihatinan bersama demi masa depan Bangsa yang jauh lebih baik.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 30 Juni 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s