E-Learning Sebagai Wahana Pendidikan Masa Depan

elearning
Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan manusia. Semakin besarnya populasi manusia maka semakin besar juga kebutuhan akan pendidikan. Jumlah kelas dan pengajar juga perlu ditambah untuk merespons pertambahan populasi ini. Tidak mengherankan apabila biaya pendidikan semakin tinggi, karena antara permintaan dan suplai tidak berimbang.

Bukan perkara yang mudah untuk mendapatkan lahan untuk mendirikan sekolah. Apalagi jika sekolah harus berdiri di lokasi yang strategis supaya mudah dicapai, maka harga tanah pun menjadi tinggi. Inilah tantangan pendidikan di masa depan dan disinilah peran e-learning merespons tantangan ini, dimana kecepatan, kemudahan akses, dan biaya yang lebih terjangkau, tetapi berkualitas dan bergengsi menjadi kunci keberhasilan bisnis e-learning.

Berbagai perubahan di dunia bisnis telah mengubah cara hidup dan bergaul manusia. Digitalisasi media dan munculnya smartphone dengan berbagai kemampuannya telah mengubah interaksi manusia hanya melalui sebuah perangkat yang dinamakan smartphone.

Belahan dunia satu dengan yang lainnya bisa terhubung dengan cepat, mungkin dalam hitungan detik. Inilah sebuah momentum yang harus segera dimanfaatkan agar perubahan yang ada membawa dampak positif bagi setiap bisnis, tidak terkecuali (apalagi) pendidikan melalui metode e-learning.

Menurut data Redwing Asia, Indonesia adalah pengguna smartphone terbesar keempat di dunia. Sedangkan menurut data dari Roy Morgan Research, dari tahun 2012 ke 2013 kepemilikan smartphone meningkat dari 12% menjadi 24% (double). Sedangkan penggunaan telepon genggam naik 10% mencapai 84% dari populasi.

Sebuah angka yang mengejutkan dan menunjukkan adanya kesempatan e-learning memiliki trend positif, karena internet akan bisa diakses dengan sangat mudah, cepat, dan murah melalui smartphone.

erni 01erni 02http://www.emarketer.com/Article/Smartphone-Penetration-Doubles-Indonesia/1010102

Indonesia banyak diprediksi akan menjadi salah satu pemain besar di dunia digital media. Tentu saja pernyataan ini harus dicermati kebenarannya. Berdasarkan rangkuman data yang diambil dari situs salingsilang.com dan BBH Asia Pacific, beberapa hal yang menjadi bukti bahwa era digital media akan booming di Indonesia adalah:

  1. Populasi pengguna internet di Indonesia pada tahun 2013 sebesar populasi penduduk Jepang, dengan tingkat penetrasi sebesar 12,5%;
  2. Indonesia merupakan negara dengan pengguna facebook terbesar ke-2 di dunia dengan jumlah pengguna sebanyak 35,4 juta;
  3. Pengguna twitter di Indonesia terbesar ke-4 di dunia yaitu sebesar 4,8 juta;
  4. Orang Indonesia mengakses internet mayoritas lewat internet cafe 86%, lewat smartphone 22%, dan yang mengakses lewat rumah hanya 16%;

erni 03http://dedysetyo.net/wp-content/uploads/2013/01/digital_media_in_indonesia_bahasa.jpg

erni 04http://imgsrv1.paseban.com/image/public/article/9c6919246f67150d4b487f9ef92cbbb6701ce2ad095c7144e8fd1c82384a072a.png

Selain itu terdapat 5 trend positif yang menunjukkan arah Indonesia akan menjadi pengguna digital media besar, yaitu:

  1. Peningkatan pemakaian handphone dan smartphone (seperti dijelaskan sebelumnya);
  2. Peningkatan pertumbuhan mobile marketing;
  3. Pertumbuhan e-commerce;
  4. Mulai terjadi peningkatan penggunaan teknologi digital;
  5. Adanya perubahan cara dari broadcasting menjadi terkoneksi via smartphone;

Momentum inilah yang perlu dimanfaatkan oleh pelaku bisnis pendidikan dengan meningkatkan isi dan kualitas program e-learning mereka. Karena setiap orang saat ini bisa terhubung dengan smartphone.

Harga smartphone yang semakin terjangkau membuat proses pembelajaran melalui e-learning berpeluang semakin meningkat. Sisi lain yang mendukung trend penggunaan e-learning ini adalah:

  1. Semakin meningkatnya populasi dan usia belajar penduduk, sedangkan di sisi lain kapasitas ruang belajar lebih sulit ditingkatkan akibat ketersediaan atau mahalnya lahan;
  2. Semakin cepatnya trend usia pensiun, sebagai imbas dari semakin cepatnya pertumbuhan golongan usia kerja. Sehingga harapannya, dengan proses belajar yang semakin cepat yaitu melalui e-learning maka usia kelulusan menjadi lebih muda, dan pada akhirnya umur produktif lebih panjang;
  3. Semakin mahalnya biaya sekolah (buku, kost, transportasi), maka diharapkan melalui e-learning bisa dipastikan biaya menjadi lebih murah;
  4. Tumbuhnya generasi Gen Y yang lebih intens berkomunikasi melalui media digital/sosial dan notabene merupakan usia sekolah;

erni 05http://www.moodlenews.com/wp-content/uploads/infograph.png

Berdasarkan data Moodlenews di atas, Eropa dan Amerika merupakan pengguna 70% e- learning di dunia. Terdapat 4,6 juta mahasiwa di Eropa dan Amerika setidaknya mengambil satu kursus secara online, dan diperkirakan 50% perkuliahan akan diajarkan secara online.

Penulis tidak serta merta menyerap informasi yang ada, tetapi juga dengan pengamatan langsung atas fenomena yang ada di sekeliling, dimana penggunaan smartphone semakin meluas, tidak hanya untuk tujuan berkomunikasi, tetapi juga sharing mengenai hal-hal lain.

Anak tertua penulis, sebut saja Andi, hampir setiap kali mengerjakan pekerjaan rumah dengan melakukan komunikasi dengan teman-temannya. Tentu saja mereka bertukar jawaban pekerjaan rumah. Apakah ini disebut mencontek?

Jika masih sebatas pekerjaan rumah maka masih wajar karena di sekolah pun mereka akan bertukar jawaban. Namun yang perlu dicatat disini adalah penggunaan smartphone telah menyatukan penggunaan internet, kamera, komputer, telpon, buku catatan, nonton film ke dalam satu alat yang disebut smartphone.

Sebuah keniscayaan yang harus diikuti perkembangannya dimana smartphone telah mengubah kebiasaan sebuah generasi. Perubahan ini harus diikuti dengan penyesuaian diri jika kita tidak ingin bernasib sama seperti kamera dengan film negatif, banyak jasa cuci film dan pencetakan foto yang gulung tikar akibat datangnya kamera digital. Sebuah keniscayaan yang harus disikapi dengan tepat dan cepat.

erni 06http://elearninginfographics.com/wp-content/uploads/Top-10-eLearning-Statistics-for-2014-Infographic-550×575.jpg

Sesuai dengan perubahan yang terjadi disekeliling kita (bahkan dunia) maka informasi yang disampaikan oleh situs e-learning di atas kemungkinan besar akan terjadi. Mereka menyampaikan bahwa prospek industri e-learning akan terbuka lebih lebar dan semakin meningkat.

Dari nilai transaksinya di seluruh dunia pada tahun 2011 mencapai 35,6 milyar USD dan meningkat 57,8% menjadi 56.2 milyar USD pada tahun 2013. Diperkirakan pada tahun 2015 akan naik 100% dibandingkan tahun 2013.

Faktor efisiensi media pembelajaran via e-learning ini juga sudah teruji dimana perusahaan-perusahaan yang disurvai menyatakan bahwa sedikitnya terjadi penghematan 50% jika instruktur/pengajar bisa digantikan dengan e-learning, meskipun disini sedikit mengabaikan faktor interaksi. Dan bukan berarti proses belajar melalui tatap muka terus bisa dihilangkan begitu saja. Namun setidaknya, berdasarkan survai yang dilakukan, terlihat bahwa 60% waktu instruktur training bisa dipangkas setelah digantikan dengan e-learning.

erni 07http://www.docebo.com/landing/learning-management-system/assets/img/2013/docebo_report_market_trends_forecast_v3.jpg

Asia menjadi pasar potensial untuk e-learning karena uang yang dibelanjakan di industri ini mencapai 7.1 Milyar USD, nomor 2 terbesar setelah Amerika Utara. Namun pertumbuhan terbesar ada di Asia yang mencapai 17,3% per tahun. Jadi sangat disayangkan apabila ada lembaga pendidikan nasional yang tidak memanfaatkan momentum bisnis ini.

Lembaga pendidikan nasional sudah seharusnya bertransformasi memangkas waktu mengajar konvensional mereka sebesar 60% dan dialihkan via e-learning. Waktu yang terluang adalah kapasitas ajar yang bisa diserap dengan memperbanyak jumlah siswa, sehingga lembaga pendidikan nasional memiliki pendapatan lebih besar sekaligus memperlebar kesempatan belajar hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Sebuah impian yang hampir pasti bisa direalisasikan.

Satu hal lagi yang memperkuat keyakinan bahwa trend penggunaan e-learning akan semakin meningkat seiring peningkatan penggunaan smartphone adalah munculnya sebuah generasi pendukung era digital ini. Mereka disebut Gen Y, yaitu mereka yang dilahirkan mulai tahun 90-an.

Generasi ini berbeda dengan Gen X, dimana generasi Gen Y ini lebih kreatif, easy going, pembawaannya cenderung santai, dan selalu berkomunikasi menggunakan gadget. Gen Y inilah yang menjadi customer utama dunia pendidikan saat ini dan yang akan datang, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka angin perubahan menuju era digitalisasi dan e-learning harus dihadapi dan diikuti momentumnya.

erni 08http://www.aquarius.biz/en/assets/images/blog/de/2012/08/age_internet_users.png

Marilah kita simak data yang disampaikan oleh Aquarius di atas, dimana pengguna internet terbesar saat ini adalah mereka yang berusia 15-24 tahun (Gen Y) sebesar 40%. Cobalah bandingkan antara jumlah pengguna internet pada usia tersebut di Indonesia dan negara lain, maka Indonesia memiliki persentase terbesar (beserta Philipina).

Jadi kesimpulan dari hal ini adalah Gen Y adalah pemakai internet terbanyak, dan ketika ada e-learning yang user friendly dan mudah diakses, maka bisa Anda simpulkan sendiri apakah e-learning ini bisa mudah mereka terima atau tidak. Tentunya mereka akan terima dengan senang hati karena e-learning sesuai dengan “life style” Gen Y.

erni 09http://www.tebays.co.uk/wp-content/uploads/2013/07/Tebays-eLearning-diagram-2.png

Selain karena momentum perubahan yang terjadi di sekitar kita yang membuat e-learning adalah suatu keniscayaan yang harus diikuti. Maka e-learning itu sendiri memiliki sisi positif yang bisa dilihat pada Gambar di atas:

  1. Cost Effective, hal ini jelas bisa dilakukan melalui e-learning karena akan menghemat tempat, material ajar, dan waktu instruktur. Biaya yang dikeluarkan benar-benar terarah untuk peningkatan pengetahuan peserta/anak didik;
  2. Consistant Delivery, penyampaian materi ajar menjadi konsisten karena materi yang diberikan via e-learning sama ketika diakses oleh siapa saja dan kapanpun. Tidak ada bias karena penyampaian tidak dilakukan secara verbal langsung oleh pengajar.
  3. At Employee Speed, artinya kecepatan proses belajar mengajar mengikuti ritme siswa ajar karena apabila perlu diulang maka siswa bisa mengakses kembali dan belajar berulang kali;
  4. Any Time/Place, karena bisa diakses kapan pun dan dimana pun ketika siswa merasa siap untuk belajar;
  5. Quick to Update, materi yang diberikan melalui e-learning dengan mudah bisa di-update dan bersifat serentak. Hal ini tidak seperti update materi dengan sistem pengajaran konvensional dimana materi didistribusikan secara fisik melalui buku atau print out materi;
  6. Good for Large Group, maksudnya e-learning ini bisa menjangkau jumlah orang secara banyak secara serentak karena masing-masing siswa belajar melalui layar komputer/gadget/smartphone masing-masing;

Namun e-learning juga memiliki kekurangan bila dibandingkan dengan proses belajar konvensional yang memiliki aspek tatap muka. Interaksi sesama manusia tidak bisa tergantikan dengan smartphone seluruhnya.

Seperti informasi sebelumnya di atas bahwa e-learning hanya menggantikan 60% waktu proses belajar-mengajar secara tatap muka langsung, sehingga sisanya tetap harus melalui tatap muka. Jadi e-learning menggantikan komunikasi langsung proses belajar-mengajar, tetapi tidak bisa menggantikan proses mendidik terutama terkait dengan pemberian motivasi.

Nilai-nilai hidup dalam pendidikan tidak bisa disampaikan dengan e-learning karena saat memotivasi dan memasukkan nilai-nilai tersebut, pengajar/pendidik membutuhkan feed back apakah nilai-nilai tersebut bisa diterima. Jadi tetap diperlukan kombinasi antara proses pengajaran via e-learning dan tatap muka langsung.

Inilah sekelumit gagasan akan pentingnya pengembangan e-learning di Indonesia baik karena faktor eksternal yang mengarah ke trend penggunaan e-learning yang semakin meningkat tetapi juga karena faktor-faktor internal di Indonesia yang semakin membutuhkan e-learning untuk mempercepat pencerdasan bangsa.

Sumber:
http://redwing-asia.com/market-data/market-data-telecoms/
http://www.emarketer.com/Article/Smartphone-Penetration-Doubles-Indonesia/1010102
http://dedysetyo.net/wp-content/uploads/2013/01/digital_media_in_indonesia_bahasa.jpg
http://imgsrv1.paseban.com/image/public/article/9c6919246f67150d4b487f9ef92cbbb6701ce2ad095c7144e8fd1c82384a072a.png
http://www.moodlenews.com/wp-content/uploads/infograph.png

erni ernawati copyErni Ernawati
Head of In-house Training Division, PPM Manajemen
ERN@ppm-manajemen.ac.id

 

3 thoughts on “E-Learning Sebagai Wahana Pendidikan Masa Depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s