Divestasi: Menutup Mandala, Menjual Vertu

mandala tigerair

April 2012, maskapai penerbangan bujet Tigerair Mandala masih mengantarkan penumpang dari Bandara Sukarno Hatta di Jakarta ke Bandara Polonia di Medan. Bahkan kemudian muncul pula rute penerbangan dari Medan ke Singapura.

Walau harga tiketnya luar biasa bersaing (murah), tampaknya pertumbuhan bisnis maskapai ini tidak memuaskan investornya. Tidak heran bila maskapai yang dimiliki terutama oleh Saratoga Investama Sedaya (Indonesia) dan Tiger Airways Holdings (Singapura) ini kemudian memutuskan tidak lagi mengarungi angkasa per 1 Juli 2014.

Kelebihan kapasitas maskapai dibandingkan dengan jumlah penumpang, melemahnya nilai tukar rupiah yang mencapai 20 persen sejak awal 2013 membuat meningkatnya biaya operasional secara signifikan.

Sejak beroperasi kembali April 2012, Tigerair Mandala terus mengalami kerugian. Perkembangan industri yang menantang membuat pemegang saham sulit terus memberikan dukungan keuangan sehingga direksi memutuskan bahwa perusahaan itu tidak memiliki sumber daya memadai untuk melanjutkan kegiatan operasional.

Fenomena yang terjadi pada Tigerair Mandala, satu unit usaha dari sekian banyak unit usaha Saratoga dan Tiger Airways, merupakan fenomena umum terjadi pada kelompok bisnis dengan banyak unit atau anak usaha.

Setidaknya ada sembilan alasan mengapa suatu unit usaha ditutup atau dijual ke pihak lain, yaitu:

  1. Unit usaha tidak menunjukkan kinerja setinggi yang diharapkan.
  2. Unit usaha terlalu banyak membutuhkan sumber daya (cash), padahal potensinya di masa depan masih meragukan.
  3. Perusahaan induk menyadari bahwa rentang diversifikasinya telah terlalu luas, sehingga ingin fokus kembali pada satu atau sedikit bisnis saja.
  4. Industri yang awalnya menjanjikan profit tinggi, kini semakin tidak menarik.
  5. Keputusan untuk membeli bisnis atau memasuki industri ini merupakan keputusan yang buruk.
  6. Posisi unit bisnis di industri sangat lemah, sementara induk tidak memiliki kemampuan atau peluang untuk mendukungnya.
  7. Unit bisnis tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk beroperasi dengan baik.
  8. Unit bisnis memiliki budaya yang berbeda dengan keseluruhan kelompok bisnis, dan sulit untuk berbaur.
  9. Unit bisnis mempunyai karakteristik yang relatif berbeda atau unik dibandingkan unit bisnis lain dalam kelompok bisnis tersebut.

Poin terakhir bisa dicontohkan dengan produk telepon seluler super mahal merek Vertu yang awalnya dimiliki oleh Nokia.

vertuVertu, yang didirikan oleh Nokia di Inggris ini merupakan produk high-end yang sangat berbeda dengan produk-produk Nokia. Vertu TI, produk Vertu pertama yang menggunakan sistem operasi Android dijual dengan harga US$ 9,600, sementara produk andalannya Vertu Signature Coba laku keras dengan harga US$ 310,000 (sekitar Rp. 3,7 miliar).

Kondisi Nokia yang sedang terpuruk di tengah dinamika industri telepon seluler serta karakteristik Vertu yang unik membuat Nokia memutuskan untuk menjual seluruh divisi Vertu ke EQT VI tahun 2012.

Ningky Risfan Munir blogDr. Ningky Sasanti Munir,
Staf Profesional PPM Manajemen
NKY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s