Menggapai Kemakmuran yang Berkeadilan

tunas bangsa

Tanpa disadari, selama sepuluh tahun terakhir ini Indonesia ‘tersandera’ oleh problematika di bidang energi. Di satu sisi kehidupan masyarakat tak dapat dilepaskan dari penggunaan bahan bakar minyak, di sisi lain kapasitas produksi nasional sudah tak lagi mampu menjawab kebutuhan pasar.

Alhasil impor BBM merupakan opsi terbaik. Bak demand menemukan supply-nya, realitas tersebut justru ‘memanjakan’ segenap elemen bangsa. Laju pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor meningkat lebih dari 12%. Tak hanya di kota-kota besar, sejumlah wilayah pinggiran juga mengalami hal serupa. Padahal tanpa disadari kondisi tersebut berhasil membuat anggaran kita kebobolan.

Tiga puluh persen pengeluaran negara selama sepuluh tahun terakhir didominasi oleh subsidi,80% di antaranya untuk subsidi BBM. Sisanya baru dialokasikan pada bidang-bidang lain seperti pangan, pupuk, dan benih.

Jika dicermati secara bijak tampak jelas bahwa subsidi BBM hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Sedangkan perhatian pada penguatan pangan yang notabene merupakan kekuatan ekonomi bangsa menjadi sangat minim.

Sejak 2009 rasio lahan pertanian per rumah tangga hanya 0,3 hektar. Angka ini amat rendah bila dibandingkan rasio di Malaysia, Thailand dan Filipina. Tak salah jika pemerintah tampak ‘kurang percaya diri’ dengan mengatakan bahwa sampai pertengahan 2014, baru terdapat 23 sektor yang memiliki daya saing internasional.

Problematika energi memang berhasil memikat perhatian segenap elemen bangsa. Namun meski rajin didiskusikan, solusi yang ‘mujarab’ kiranya cukup sulit tuk dirumuskan. Padahal bila tidak segera ditangani maka kuota subsidi BBM tak kan mampu bertahan hingga akhir tahun ini, mengingat target yang dipatok hanya 48 juta kiloliter.

Mencermati kondisi tersebut, ketegasan pemerintahan baru kini sangat dinanti. Meski keputusan yang diambil bak buah simalakama, namun pepatah berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian layak menggambarkan kondisi saat ini.

Generasi ini harus berani menelan pil pahit ketika perlahan namun pasti subsidi BBM dilepas. Efek inflasi pasti tak terelakkan lagi terlebih ketika ketergantungan pada BBM semakin hari makin tinggi. Namun jika itu akan memulihkan kehidupan generasi mendatang, maka segenap kalangan bisa mengibaratkannya dengan pemberian sistem kekebalan tubuh. Sakit saat ini untuk kehidupan yang lebih sehat di masa depan.

Satu hal yang kini perlu dicermati adalah bagaimana menempatkan rasional pasar akan rencana tersebut. Berikut beberapa solusi yang dapat diwacanakan.

Pertama, membangun infrastruktur energi alternatif seperti halnya gas. Fase komersialisme gas bumi kini sudah tiba. Mau tak mau pola konsumsi BBM harus tergantikan dengan gas alam. Jika ini dapat dilakukan dengan lancar, niscaya masyarakat pengguna BBM tidak terlalu shock dengan transisi yang terjadi.

Kedua, memindahkan alokasi subsidi dari yang berbasis energi menjadi non energi. Sektor pertanian merupakan bidang pertama yang layak memperoleh perhatian. Selain karena positioning Indonesia sebagai negara agraris, penguatan di bidang pertanian modern merupakan salah satu langkah dalam meremajakan bumi tercinta. Tak hanya itu, dengan kondisi geografis di alam tropis, bisa jadi sektor ini akan mampu memberikan sebuah daya saing bagi bangsa di kancah persaingan global.

Sektor berikutnya adalah kelautan dan perikanan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia menyimpan begitu besar sumber daya perairan dan kelautan. Dengan demikian perhatian untuk menumbuhkan sektor ini sekaligus membawanya ke kancah global akan memberikan kontribusi positif pada perekonomian daerah. Karenanya menjadikan potensi kelautan nusantara sebagai sebuah media investasi global yang sangat menjanjikan merupakan pekerjaan rumah terberat bagi pemerintahan baru nanti.

Meski terlihat sederhana, namun operasionalisasi kedua hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan pembentukan paradigma yang membuat masyarakat mampu melihat segala sesuatunya tidak lagi dalam jangka pendek, melainkan untuk kehidupan anak cucu kita.

Dengan demikian peran dunia pendidikan turut menentukan keberhasilan upaya yang dilakukan. Pemerataan program pendidikan di seluruh wilayah nusantara tanpa terkecuali akan membuahkan pertalian antara rasional dengan hati. Di situlah kemakmuran yang berkeadilan sosial akan tercipta.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 14 Juli 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s