Audit Quick Count: Mengungkap Malpraktek dalam Proses Hitung Cepat

hasil-quick-count-pilpres-2014Pemilihan langsung untuk menentukan pasangan presiden dan wakil presiden Indonesia lima tahun ke depan baru saja terlaksana. Proses penghitungan suara resmi masih berjalan, namun prediksi atas hasil akhir telah disebarluaskan oleh beberapa lembaga penghitung cepat.

Sebagian memperkirakan bahwa pasangan kandidat nomer dua memperoleh suara terbanyak, sementara yang lain mengunggulkan pasangan nomer satu.

Publikasi hasil hitung cepat ini kemudian menjadi dasar bagi setiap calon untuk menyatakan kemenangan kubunya. Suhu politik semakin memanas, saling tuduh kecurangan dilemparkan, dan perang fisik antar pendukung membayang. Mengapa perbedaan hasil semacam ini bisa terjadi?

Proses hitung cepat hanya mengandalkan proporsi kecil dari keseluruhan data suara pemilih. Sebagai gambaran, jumlah TPS di seluruh Indonesia dalam pemilu sekarang adalah 478.828, sementara hitung cepat yang dilakukan oleh SMRC hanya memanfaatkan informasi dari 3.990 TPS. Keterbatasan data ini yang membuat hasil dapat diketahui dalam waktu singkat, namun angka yang diperoleh tidak sama persis dengan penghitungan menyeluruh.

Mengingat sampel responden yang digunakan oleh setiap lembaga survei berlainan, maka sebetulnya wajar bila terjadi perbedaan pada hasil hitungan mereka. Akan tetapi, ketika selisih angka sangat besar sehingga kesimpulan yang didapat bertolak belakang, maka patut dicurigai ada kesalahan dalam penerapan metode statistik terkait.

Kesalahan ini dapat disebabkan ketidakcakapan maupun ketidakjujuran dari penyelenggara hitung cepat. Kedua hal tersebut merupakan malpraktek yang tidak selayaknya terjadi pada sebuah lembaga survei yang kompeten, apalagi dalam situasi sepenting pemilihan presiden. Audit terhadap proses hitung cepat dapat mengungkap bukti-bukti akan adanya ketidakjujuran atau ketidakcakapan tersebut. Bagaimanakah sebaiknya proses audit dijalankan?

Audit atas proses hitung cepat dapat dibagi dalam dua tahap. Kegiatan awal perlu diarahkan untuk memverifikasi keakuratan data dan hasil pengolahannya. Validasi terhadap data bisa dilakukan dengan membandingkan antara catatan lembaga survei dengan angka resmi yang tertulis pada formulir C1 untuk TPS terkait.

Selanjutnya perlu diperiksa apakah ada kesalahan dalam proses perhitungan menggunakan data yang telah diuji kebenarannya. Bukti kecurangan tampak jelas apabila hitung cepat tidak disertai data pendukung, atau ada data yang berlainan dengan laporan resmi, atau bila kalkulasi ulang oleh tim audit menunjukkan hasil berbeda dengan yang telah dipublikasikan oleh lembaga survei.

Tahap kedua audit dapat menyorot pada proses penentuan TPS yang menjadi responden. Perlu dikaji apakah kaidah ilmu statistik untuk penentuan sampel yang tepat telah diikuti. Misalnya, apakah responden TPS dipilih secara acak tanpa bias, ukuran sampel memadai, serta cukup mewakili keragaman populasi pemilih.

Contoh kesalahan fatal adalah mengambil responden TPS hanya dari daerah-daerah yang sebelumnya telah diduga akan dimenangkan oleh pasangan kandidat tertentu. Melalui analisis lebih lanjut dapat disimpulkan apakah kesalahan semacam ini disebabkan oleh ketidakcakapan atau ketidakjujuran penyelenggara hitung cepat. Lantas, kapan sebaiknya audit dilakukan, apakah perlu menunggu pengumuman hasil resmi oleh KPU?

Audit akan memberikan informasi mengenai pelaksana hitung cepat mana saja yang diduga tidak jujur atau kurang kompeten berdasarkan bukti-bukti yang terpercaya. Pedoman dalam melaksanakan audit adalah kaidah ilmu statistik terkait hitung cepat, sehingga proses ini dapat berjalan tanpa perlu menunggu pengumuman hasil akhir oleh KPU.

Di tengah kesimpangsiuran informasi dan rendahnya kepercayaan terhadap lembaga penghitung resmi, maka ada baiknya audit dilakukan sesegera mungkin. Lebih baik lagi apabila setiap lembaga hitung cepat bertindak pro-aktif dengan memaparkan secara lengkap data yang menjadi acuan mereka.

Dengan demikian masyarakat luas dapat menilai sendiri sumber informasi mana yang terpercaya, dan tidak mudah tertipu oleh retorika berbasis manipulasi. Kita tahu bahwa bukan tanpa alasan ungkapan kuno “Lies, damned lies, and statistics” masih tetap populer.

Hendrarto K. SupangkatHendrarto K Supangkat.
Staf Pengajar Sekolah Tinggi Manajemen PPM
HEN@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s