Otokritik

self-criticismWalaupun banyak pro dan kontra, dalam beberapa hal saya kagum dengan Sacha Stevenson. Beberapa bulan yang lalu nama ini belum pernah saya dengar, hingga kemudian ramai dibicarakan di media sosial.

Perempuan asal Kanada ini meng-upload, melalui youtube, beberapa seri video yang berjudul “How to Act Indonesian”. Singkatnya video tersebut adalah parodi berbagai sisi kehidupan masyarakat Indonesia yang dikemas dalam bentuk sketsa.

Menonton short video 5-menitan ini, mengaduk-aduk perasaan saya. Ada shock dan sedikit ketersinggungan karena beberapa adegan dapat ditafsirkan sebagai penghinaan, namun ketersinggungan itu kemudian diredam oleh pembenaran atas realitas yang terjadi di keseharian masyarakat kita. Kemarahan dan pengakuan yang datang bersamaan itu justru menggelikan, dan akhirnya kita menertawakan diri sendiri.

Tidak semua orang memiliki kematangan yang cukup untuk melakukan pendalaman atas apa yang dilihat dan didengar, apalagi jika hal tersebut menyangkut keburukan atau kelemahan dirinya.

Reaksi paling normal adalah munculnya self defense mechanism dalam bentuk menyalahkan pihak lain atau mencari alasan untuk excuse. Tapi percayalah, kedua reaksi terhadap kritik tersebut tidak akan membawa kita kemana-mana, selain menjadi lebih terpuruk.

Pemasar muda yang sukses akan melihat kritik sebagai tangga emas menuju perbaikan. Oleh karenanya mereka justru haus akan kritik. Sebagaimana cermin yang memberikan bayangan paling jujur, kritik memberikan arah mendetail atas hal-hal yang membutuhkan tindakan segera.

Kematangan seorang profesional muda pemasaran naik ke level berikutnya apabila telah sanggup melakukan otokritik, mengajukan kritik pada dirinya sendiri. Dengan demikian, ia tidak bergantung pada pihak lain untuk menunjukkan arah perbaikan dan senantiasa dapat melakukan evaluasi atas perbaikan yang dilakukannya.

Proses otokritik dimulai dari pengenalan masalah, yaitu penginderaan terhadap kegelisahan yang sedang dirasakan. Uring-uringan adalah salah satu tanda kurangnya pengenalan masalah, yaitu ketika perasaan negatif tidak dilokalisasi sehingga menular ke mana-mana.

Berikutnya perlu dilakukan evaluasi kemungkinan penyebab terjadinya masalah tersebut, fokus pada hal-hal internal, seperti mindset, perilaku, kebiasaan, atau kepribadian yang kita miliki.

Saat terbaik melakukan otokritik adalah ketika relaks dan tidak dalam tekanan waktu, yaitu sebelum istirahat malam. Sempatkan waktu beberapa menit untuk memutar kembali video kejadian sehari penuh dalam ruang ingatan Anda.

Ucapkan apresiasi dan pujian bagi diri sendiri apabila melakukan tindakan yang membanggakan dan evaluasi apabila ada yang kurang memuaskan. Dua hal yang paling penting adalah pengakuan dan niat perbaikan. Tutup dengan pengharapan, semoga esok hari kesalahan yang sama tidak terulang. Salam semangat pembaharu!

Dimuat di majalah Youth Marketers Edisi 14, Juli 2014.

Wahyu Tri SetyobudiWahyu T. Setyobudi.
Staf Pengajar PPM School of Management
WHY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s