Percepatan Transformasi Ekonomi

economic_recoveryArahan transformasi ekonomi memang sudah digulirkan lebih dari sepuluh tahun yang lalu, namun hingga kini hampir setiap evaluasi kinerja ekonomi lima tahunan menunjukkan bahwa kinerja proses masih jauh dari harapan.

Kenaikan kontribusi sektor industri belum dibarengi dengan kenaikan daya serap tenaga kerja. Sebagian tenaga produktif kita masih tersebar di sektor pertanian. Artinya, jika salah satu penggerak industri adalah investasi asing, maka dengan mengusung tema efisiensi di mana mesin akan menggantikan posisi tenaga kerja, sudah pasti ini akan menghambat upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sampai dengan akhir tahun 2013, kontribusi sektor pertanian pada PDB (pendapatan domestik bruto) sebesar 15,21% dengan daya serap tenaga kerja sebesar 34,36%. Sedangkan sektor industri pengolahan kini telah berkontribusi sebesar 23,11% terhadap PDB, namun baru mampu menyerap 13,43% tenaga kerja.

Dari kedua data tersebut terlihat jelas bahwa sektor industri belum mampu menciptakan sebuah daya serap yang tinggi sehingga dapat diartikan bahwa proses transformasi ekonomi dari agraris menjadi industri yang bernilai tinggi masih belum terjadi.

Bila dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand, prestasi kita masih jauh di bawah kedua negara tersebut. Untuk Malaysia, hingga akhir 2013 kontribusi sektor pertanian terhadap PDB menurun hingga 7,3% (dari 19,8% di 1987) dengan daya serap tenaga kerja sebesar 10,18% (dari 30,86% di tahun 1987). Sedangkan untuk sektor industri, sumbangan terhadap PDB mencapai 26,2% dengan daya serap tenaga kerja hingga 19,20%.

Dalam pencermatan lebih lanjut terlihat bahwa peran tingkat pendidikan tenaga kerja sangat menentukan. Data BPS mencatat bahwa pada Februari 2013, 54,62 juta jiwa tenaga kerja menamatkan pendidikan tertingginya di tingkat sekolah dasar. Sedangkan untuk tingkat universitas baru 7,94 juta jiwa.

Di sinilah pangkal permasalahan itu mulai terlihat. Realitas tersebut mau tidak mau telah menuntut pemerintah untuk melakukan program percepatan. Mulai dari peningkatan keahlian di setiap profesi hingga memperbanyak program pendidikan formal bagi karyawan.

Artinya, kita tidak dapat menggantungkan pada program pendidikan formal wajib belajar yang kini tengah dijalankan. Kedua program tersebut hendaknya dapat dilakukan secara parallel. Di satu sisi program wajib belajar akan memberikan pasokan tenaga kerja dengan pendidikan tinggi di lima hingga sepuluh tahun mendatang, di sisi lain tenaga kerja produktif yang saat ini mengisi berbagai posisi pekerjaan juga dibekali dengan pendidikan yang cukup.

Merujuk pada rendahnya subsidi untuk biaya pendidikan pada APBN kita (bila dibandingkan alokasi subsidi BBM), para wakil rakyat hasil Pemilu tahun ini hendaknya mampu melihat hal ini secara strategis.

Pengalaman sejumlah negara yang sukses melakukan transformasi ekonomi menunjukkan bahwa program pendidikan wajib bagi warga negaranya berimplikasi signifikan pada daya serap sektor industri.

Dengan cara pandang ini meski industri yang berkembang adalah padat modal, namun pemerintah akan tetap mampu mengalokasikan ketersediaan sumber daya manusianya. Tak hanya itu, mereka bahkan mampu ‘mengekspor’ sejumlah tenaga kerja untuk menjadi tenaga ahli di berbagai negara.

Kini Indonesia perlu menyiapkan infrastruktur proses industrialisasi secara lebih kuat. Percepatan penguatan sektor pertanian harus terjadi. Sebab dengan ketahanan pangan nasional yang baik maka ekonomi akan berjalan dengan stabil.

Ini merupakan prasyarat kuat bagi perbaikan upaya pendidikan bagi setiap warga negara yang nantinya memberikan efek sistemik pada peningkatan daya saing sektor industri.

Jika ini mampu dilakukan, niscaya transformasi ekonomi itu dapat terjadi sebelum Indonesia memasuki pasar bebas ASEAN di akhir 2015 mendatang. Di situlah harapan daya saing nasional akan tercipta. Setidaknya kita akan mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara maju anggota ASEAN lainnya.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 4 Agustus 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s