Lovers dan Haters

lovers hatersSemalam, ketika browsing-browsing iseng, secara tidak sengaja saya terbawa ke suatu halaman  yang membuat saya speechless. Halaman facebook itu dikhususkan buat para haters Agnes Monica. Isinya jangan ditanya, semuanya hal buruk dari selebriti Indonesia yang mendunia ini.

Bahkan tidak cukup menggali-gali keburukannya, beberapa prestasi pun dipandang melalui kacamata merah tanda kebencian. Beberapa foto dipasang dengan tujuan dicela dengan berbagai komentar “murahan.” Namun percayalah pada saya, jika kita yang menjadi objek cyber bullying seperti ini, belum tentu kita tahan menerimanya.

Fenomena haters jamak didapati pada sebagian besar selebriti. Mereka yang sering tampil di panggung publik memang mesti siap diamati gerak-geriknya hingga yang paling detil bahkan lebih dari itu, privat.

Tengoklah kegiatan paparazzi yang setiap saat menguntit bintang-bintang besar untuk mengambil momen tidak layak bahkan sangat pribadi. Dari detil-detil inilah muncul pro dan kontra, lovers dan haters.

Dalam kadar masing-masing, lovers dan haters juga sering pemasar muda jumpai dalam kegiatan sehari-hari. Kantor dan klien adalah panggung, presentasi dan cara kita bergaul adalah lagu dan akting kita, para selebritis lokal.

Sabotase para haters ini bervariasi, mulai dari menggunjingkan kelemahan dan kesalahan kita, memanipulasi lingkungan agar turut membenci, hingga yang paling parah melakukan berbagai hal agar tugas yang dibebankan pada kita terhambat.

Penting bagi para pemasar muda untuk memiliki pertahanan yang kuat pada haters semacam ini. Pertama, hal penting yang harus diperhatikan adalah cara kita memaknai hinaan. Para haters akan sangat bahagia jika cercaan, hinaan atau makian yang dilontarkannya melemahkan kita.

Dengan demikian, cara terbaik untuk mengagalkannya adalah dengan tetap berdiri tegak dan bahagia. Semakin bahagia Anda, semakin sengsara para haters. Tunjukkan bahwa semua komentar yang ditembakkan justru membuat Anda semakin kuat.

Hal yang paling parah dicederai oleh haters adalah rasa kebermaknaan dan rasa penerimaan. Inilah hal penting kedua yang perlu dilakukan, yaitu bangun kesadaran bahwa masalahnya bukan pada diri kita tapi pada haters.

Sesuci apa pun para nabi, tidak ada satu pun nabi yang tidak mempunyai haters. Jangan menyalahkan diri sendiri, gantilah dengan bertekad untuk terus memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik.

Walaupun tidak selangsung haters, lovers sama berbahayanya. Kekuatan dan kesuksesan yang terus disebut dan didramatisasi seringkali membuat pribadi menjadi cepat puas dan kehilangan roh perjuangannya, seakan-akan telah sampai pada tangga tertinggi. Perasaan ini justru lebih berbahaya karena menghalangi kita untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi.

Sebagai kesimpulan, lingkungan memang memberi pengaruh besar untuk mendorong atau menarik kita. Oleh karenanya, pribadi kuat yang berkarakter adalah yang terus menggali motivasi dari dalam dirinya yang asli. Menemukan motivasi asli ini akan memerdekakan kita dari lovers dan haters, kembali pada misi pribadi yang lebih hakiki dan lestari.

Salam pemasar muda, salam pembaharu!

*Tulisan dimuat di majalah Youth Marketers  edisi 16, Juli 2014.

Wahyu Tri SetyobudiWahyu T. Setyobudi.
Staf Pengajar PPM School of Management
WHY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s