Mengisi Kemerdekaan Dengan Perilaku Profesional

profesi-professionWah, bukan main! Itu kesan pertama ketika mendengar kurang lebih judul artikel yang diminta ke saya. Reaksi pertama, tentu menolak. Saya merasa bukan ahli dalam menulis masalah ‘kemerdekaan’ atau ‘profesionalisme.’ Saya juga sangat tidak tertarik untuk terlibat dalam sesuatu yang terkesan bombastis plus basa-basi. Dengan alasan itu, mestinya saya menolak.

Tetapi, tunggu dulu. Bukankah selama ini saya – seperti juga Anda, kita semua – menikmati kemerdekaan yang telah diperjuangkan habis-habisan hingga ratusan tahun oleh para pejuang negeri ini? Jadi, mengapa tidak menulis sesuatu untuk lebih menghayati kemerdekaan itu.

Menurut wikipedia di internet, kemerdekaan berarti sebuah negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayahnya. Baiklah, walau negeri ini sedang didera bencana dan berbagai krisis yang tiada akhir, kita bisa cukup nyaman melakukan berbagai kegiatan seperti bersekolah, bekerja, berolah-raga, beribadah, dan lain sebagainya tanpa tekanan.

Untuk semua itu, rasa syukur dan terimakasih yang tulus jangan hanya dengan kata-kata atau spanduk atau e-mail merah-putih atau lomba makan krupuk. Kita perlu mengisi kesempatan yang luar biasa ini dengan kegiatan yang memberikan multiplier effect yang positif bagi stakeholders perusahaan kita.

Cara mengisi kemerdekaan ini juga tidak sembarangan. Tentu. Selama ini kita bekerja dilarang keras seenaknya, tidak boleh ‘menurut kepercayaan masing-masing’, melainkan harus profesional. Apa sih profesional itu?

Contoh perilaku yang tidak profesional mudah sekali diberikan. Seperti tidak ramah pada nasabah, tidak akurat, tidak memegang janji, memperlakukan karyawan dengan diskriminatif, dan seterusnya.

Di sisi lain, beramah-tamah sambil bermain golf atau makan siang di tempat mewah dengan nasabah belum tentu merupakan perilaku profesional. Mengenakan jas mahal dan minyak wangi impor (dan asli) juga bukan ciri profesional. Padahal bermain golf dan makan siang sering merupakan cara yang efektif dalam membangun jejaring. Sedangkan untuk profesi dan kesempatan tertentu, dress code adalah sesuatu yang sangat perlu untuk diperhatikan.

Perilaku yang dipandang profesional oleh satu orang bisa dianggap tidak atau kurang profesional oleh orang lain. Ini bisa membingungkan bagi kita yang ingin berperilaku profesional

Namun jangan bingung, karena esensi profesionalisme pada dasarnya sama. Profesionalisme merujuk pada sifat profesional yang dapat disederhanakan menjadi empat komponen: jujur, bertanggung jawab, hormat pada orang lain, dan berorientasi pada kualitas.

Pertama, isilah kemerdekaan yang kita nikmati ini dengan perilaku jujur. Komponen ini sengaja diletakkan di bagian pertama karena merupakan fondasi bagi komponen lainnya. Bagaimana bisa bertanggung jawab untuk sesuatu yang kita tahu tidak benar. Bagaimana bisa menghormati orang lain bila tidak jujur. Dan rasanya sulit menemukan contoh yang menyandingkan antara kebohongan dan kualitas.

Dalam bekerja kita perlu jujur. Tidak saja pada pelanggan, atasan, kolega, atau pada bawahan, tetapi terutama pada diri sendiri. Sukakah kita pada pekerjaan kita? Pada tanggung jawab yang mengikuti pekerjaan kita?

Seringkali dalam bekerja seseorang terkena penyakit yang disebut stone-faced sydrome atau sindroma wajah batu. Sindroma ini mengenai para dokter yang sebenarnya tidak senang bertemu pasien, polisi yang enggan berlaku tegas, atau petugas pelayanan pelanggan yang malas membantu nasabah. Hati-hati, ketidakjujuran sedalam apa pun disembunyikan akan tampak juga di permukaan.

Kedua adalah tanggung jawab. Anda menjanjikan sesuatu pada nasabah dalam waktu dua hari. Tepatilah. Bila ternyata tidak mampu, hadapilah nasabah Anda dan tawarkan solusi. Jangan pernah membebankan ‘biaya’ pada nasabah. Komitmen adalah kata kunci dalam komponen tanggung jawab.

Ketiga adalah menghormati orang lain. Berperilaku santun adalah refleksi dari penghormatan pada orang lain dan diri kita. Kesediaan untuk mendengarkan orang lain dan keterbukaan akan kritik juga bagian dari profesionalisme. Hal sederhana seperti datang tepat waktu dan mempersiapkan diri sebelum rapat adalah cara menghormati orang lain. Tidak sulit bukan?

Keempat adalah orientasi pada kualitas. Seorang profesional selalu berupaya untuk melakukan tanggung jawabnya dengan sebaik mungkin. Tidak penting produk Anda adalah produk paling handal di dunia atau jasa Anda terbaik di muka bumi, yang lebih penting berikanlah lebih dari yang diharapkan pelanggan.

Jadi begitulah sebaiknya kita isi kemerdekaan. Dengan perilaku yang profesional di mana saja, kepada siapa saja. Namun perlu diingat bahwa kemerdekaan juga berarti bahwa seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi. Dengan demikian, berperilaku profesional adalah pilihan. Anda merdeka untuk memutuskan, mau berperilaku profesional atau tidak.

Selamat hari kemerdekaan!

*Tulisan ini dimuat di majalah Info BCA No.157, Juli 2006.

Ningky Risfan Munir blogDr. Ningky Munir, dosen pasca sarjana Sekolah Tinggi Manajemen, Jakarta.
NKY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s