Menyoal Isu Ketimpangan Infrastruktur

infrastructurePembangunan ekonomi nasional kini terkendala infrastruktur. Selain ketimpangan antara satu daerah dengan daerah lain, kendala infrastruktur tersebut lebih disebabkan karena minimnya integrasi antara kebijakan pusat dan daerah.

Realitas inilah yang membuat koefisien infrastruktur di tanah air lebih kecil bila dibandingkan Negara-negara lain khususnya di kawasan ASEAN. Situasi ini cukup mengkhawatirkan memang sebab dalam hitungan bulan, Indonesia akan segera memasuki era ekonomi bebas regional atau lazim disebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Pembangunan infrastruktur merupakan hal yang sangat strategis. Di China setiap 1% pembangunan infrastruktur berhasil menopang pertumbuhan ekonomi hingga 0,33%. Hal senada juga terjadi di India. Di negara tersebut setiap 1% pembangunan infrastruktur berhasil menopang pertumbuhan ekonomi sebesar 0,21%. Sedangkan di Indonesia baru 0,17%. Ini berarti bahwa kita masih jauh tertinggal di bawah kedua negara tersebut.

Prestasi itu memang belum layak tuk dibanggakan. Pemerintah beserta segenap elemen masyarakat hendaknya memandang pembangunan infrastruktur ini sebagai hal yang serius. Pertama, bahwa peluang pertumbuhan ekonomi nasional tercipta dari potensi alam dan lingkungan daerah di nusantara.

Nah mengingat wilayah geografis kita yang merupakan negara kepulauan maka upaya perbaikan infrastruktur di daerah-daerah akan membukakan akses pada eksploitasi ekonomi secara lebih optimal. 55% pembangunan infrastruktur selang sepuluh tahun terakhir ini masih terpusat di Jawa dan Sumatera, sisanya di luar Jawa, termasuk kawasan Timur Indonesia.

Alhasil pola tersebut telah membuat konsentrasi ekonomi baru di pulau Jawa. Sedangkan di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua hanya beroleh porsi 45%. Di sinilah ketimpangan itu tercipta. Bukan hanya akses pulau-pulau tersebut pada kegiatan perekonomian nasional melainkan juga pada upaya komersialisasi kekayaan daerah yang terbarukan.
Ke mana MP3EI?

Peta pembangunan ekonomi nasional telah dibahas tuntas dalam Master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, namun dalam realisasinya rencana tersebut masih terhadang oleh perbedaan cara pandang antara pusat dan daerah. Dalam sejumlah kasus terlihat bahwa keduanya belum menggunakan cara pandang yang sama.

Era otonomi daerah masih menyisakan pekerjaan rumah berupa sinkronisasi kegiatan pembangunan antara pusat dan daerah. Daerah berkepentingan untuk meraih pendapatan lebih dari hasil pembangunan infrastruktur sedangkan pusat (mengigat posisinya sebagai sponsor utama) berkepentingan tuk segera memperoleh pengembalian modal agar dapat dialokasikan pada daerah berikutnya.

Fenomena tersebut kiranya menjadi sangat wajar sebab dari tahun ke tahun anggaran untuk pembangunan sangat minim. Daya serap anggaran untuk subsidi energi jauh lebih kuat ketimbangan infrastruktur. Data Bappenas menunjukkan bahwa selama 2010 hingga 2014, kebutuhan investasi di sector ini sebesar Rp. 1.429 Triliun. Sedangkan realisasinya baru mencapai 70%. Itupun sudah mengkombinasikan antara sumber pendanaan pusat dan swasta. Kekurangan dana sebesar Rp. 511 Triliun merupakan PR besar bagi bangsa.

Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan adalah dengan menginisiasi obligasi pemerintah khusus untuk pembangunan infrastruktur. Instrumen ini diharapkan mampu menyerap dana dari sejumlah lembaga dana pension lokal yang umumnya ‘diparkir’ di luar negeri.

Melalui pola ini dalam jangka menengah diharapkan dapat terjadi penurunan biaya logistik nasional dari 26% menjadi 12%, setara dengan apa yang terjadi di Malaysia dan Thailand. Di situlah daya saing nasional tercipta.

Geliat pertumbuhan ekonomi daerah akan berjalan secara lebih merata. Tak hanya itu, percepatan pembangunan Indonesia Timur akan berpeluang besar terjadi. Dengan demikian kita dapat segera terhindar dari ketimpangan yang ada.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda.

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 18 Agustus 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s