Langkah Terjal Meraih Kedaulatan Energi

energi-baru-dan-terbarukan

Masalah energi dewasa ini telah menciptakan efek ‘snow ball’ ke pelbagai dimensi. Mulai dari ketersediaan hingga tarik ulur rencana pelepasan subsidi BBM. Tak hanya itu, di tataran operasional krisis energi kini mulai dirasakan.

Pasca disepakatinya regulasi yang membatasi distribusi BBM bersubsidi di ibu kota, antrian kendaraan di sejumlah pom bensin mulai terlihat. Belum terhitung berapa penurunan produktivitas ketika karyawan menjadi terlambat menjalani akivitas kerjanya karena hal tersebut. Namun satu hal yang pasti adalah di manakah letak kedaulatan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil minyak dunia?

Era primadona energi di bumi pertiwi kiranya kini berangsur mulai sirna. Pemerintah sendiri berkali-kali mendengungkan ajakan untuk berhemat. Ini menunjukkan bahwa mereka telah mengkonfirmasi pemberitaan yang ada. Untuk memenuhi kebutuhan domestik kini sistem impor bahan bakar minyak sudah menjadi rutinitas.

Alhasil ketika nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dollar Amerika maka harga BBM spontan meningkat (dalam dominasi Rp). Efeknyapun bisa tak terkendali, mulai dari inflasi yang tinggi hingga penurunan daya beli masyarakat. Realitas tersebut menyiratkan perlunya rencana strategis yang matang guna menjaga stabilitas energi nasional.

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan mempertegas kebijakan transparansi lifting minyak kepada seluruh produsen. Studi lapangan menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan celah bagi terjadinya manipulasi antara hasil eksplorasi dengan nilai yang dilaporkan. Realitas itu pulalah yang disebut-sebut menyebabkan ketimpangan supply demand energi nasional.

Untuk memperkuat sisi produksi, recovery bagi sumur-sumur tua yang tersebar di sejumlah lokasi merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan. Sebab melalui langkah tersebut akan terdapat tambahan pasokan walau mungkin tidak terlalu signifikan.

Meski terlihat sederhana, namun upaya tersebut membutuhkan komitmen kuat dari pemerintah dan masyarakat, sebab bisa jadi lokasi sumur-sumur tua yang dimaksud kini telah berubah menjadi lahan pemukiman penduduk. Itu berarti proses recovery sama halnya dengan menambah pekerjaan rumah berupa relokasi pemukiman serta ancaman penolakan dari masyarakat. Di sinilah rasa nasionalisme berbagai kalangan diuji. Ketika kepentingan nasional yang dijunjung maka sudah pasti kekhawatiran tersebut dapat diminimalkan.

Langkah selanjutnya adalah mengelola sisi permintaan. Sepintas, ajakan untuk hemat energi sering dipandang sebagai sebuah retorika. Namun patut disadari bahwa kini angka pertumbuhan kendaraan bermotor di kota-kota besar sudah jauh di atas kemampuan infrastruktur jalan serta ketersediaan bahan bakar.

Hingga akhir tahun lalu (2013) populasi kendaraan bermotor di Indonesia telah menembus 104 juta unit, atau meningkat 11% dari tahun sebelumnya. Itu berarti potensi kenaikan permintaan energi bisa mencapai 22% lebih. Dengan demikian dua alternatif solusi yang tersedia adalah meninjau kembali kebijakan kepemilikan kendaraan di seluruh wilayah Indonesia serta meningkatkan layanan fasilitas moda transportasi umum.

Langkah ketiga adalah menjaga efektivitas dan aplikasi prinsip keadilan distribusi ke daerah-daerah terpencil. Sudah menjadi rahasia umum bahwa frekuensi kelangkaan BBM di pulau Jawa berada jauh di bawah frekuensi di luar Jawa. Kondisi ini yang membuat harga energi sangat melambung.

Ketika BBM mutlak dibutuhkan bagi pendukung distribusi komoditas pangan maka secara otomatis harga bahan kebutuhan hidup akan meningkat. Tanpa terjadinya kenaikan pendapatan niscaya kondisi tersebut akan berpotensi memicu peningkatan angka kemiskinan.

Langkah terakhir yang tak kalah mujarabnya adalah dengan mempercepat peralihan dari bahan bakar minyak ke gas, batu bara dan panas bumi serta sumber-sumber alam yang dapat diperbarui. Sebagai bahan refleksi, lebih dari 60% pasokan batubara bagi industri di Malaysia amat tergantung dari Indonesia. Alhasil kontrak dagang jangka panjang jualah yang telah menyelamatkan mereka dari krisis energi.

Namun miris, realitas itu terjadi tatkala negara kita tengah dihadapkan pada rasio kelistrikan yang rendah oleh karena pasokan bahan baku yang minim. Bila mereka bisa sukses menggunakan bahan bakar selain minyak, mengapa kita tidak?. Sebab jika ini dapat terwujud niscaya ketergantungan industri domestik pada bahan ini dapat dikurangi. Di situlah kedaulatan energi tercipta.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!.

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 25 Agustus 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s