Menyoal Kelangkaan BBM

Stok-BBM-di-SPBU-habis
BBM yang awalnya dikenal dengan bahan bakar minyak kini dapat dengan mudah diplesetkan menjadi ‘bahan bakar menghilang’. Keputusan untuk membatasi pasokan BBM telah membuat ketersediaan produk vital tersebut semakin susah ditemui. Alhasil antrian BBM pun telah menghiasi pandangan di sejumlah besar stasiun pengisian bahan bakar atau yang dikenal dengan SPBU baik di kota-kota besar hingga beberapa jalur logistik perekonomian.

Kondisi ini menandakan adanya ‘kesalahan’ yang perlu segera dibenahi. Sebab kelangkaan ini telah berhasil memicu sejumlah problematika sistemik mulai dari terganggunya sistem logistik khususnya bahan pangan dari satu wilayah ke wilayah lain hingga ancaman kenaikan harga-harga produk dan inflasi. Tak hanya itu, beberapa spekulasi terkait mundurnya sang direktur Pertamina pun kini mulai muncul. Namun terlepas dari semua itu ada beberapa upaya yang perlu segera diambil oleh pemerintah.

Pertama mengkaji ulang sistem kuota yang kini tengah berlangsung. Bila sistem ini tetap dinilai layak maka pemerintah kiranya perlu segera mencermati proporsi kuota yang diberlakukan di setiap wilayah. Wilayah dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi harus diberi jatah lebih besar dari daerah lainnya. Hal senada berlaku sebaliknya.

Sebagian kalangan menilai bahwa saat ini sistem yang berlaku masih belum melihat kebutuhan tersebut. Kelangkaan bahan bakar tidak hanya terjadi untuk kategori subsidi. Di sejumlah tempat kondisi tersebut juga terjadi pada kategori non subsidi. Alhasil publik dibingungkan dengan kebijakan yang ada.

Jika arahnya adalah untuk mengajak masyarakat lebih bijak dalam mengkonsumsi bahan bakar maka kini pertanyaannya adalah mengapa kebijakan di industri otomotif dibiarkan ‘tetap’. Sehingga jika dicermati, mampukah ajakan untuk beralih ke BBM non subsidi diterapkan pada kendaraan yang dilengkapi dengan teknologi berbasis dua bahan, yakni subsidi maupun non subsidi.

Deviasi harga yang sangat tinggi antara keduanya telah membuat pasar untuk menerapkan prinsip ekonomi secara utuh, yakni memilih produk dengan harga terendah. Dengan demikian bila kita ingin membatasi penggunaannya maka dalam jangka panjang teknologi kendaraan yang diproduksi harus berbasis pada BBM non subsidi.

Kedua, melirik skema pengurangan subsidi melalui peningkatan harga. Patut dipahami bahwa ‘sempitnya’ celah bagi kebijakan ini disebabkan karena adanya masa transisi pemerintahan. Namun kini masyarakat menilai ada baiknya jika harga dinaikkan daripada pembatasan pasokan yang ujung-ujungnya malah menciptakan kekhawatiran serta kepanikan pasar.

Ketiga, mempercepat peralihan ke energi berbasis bahan bakar non minyak. Batubara serta gas kiranya menjadi bahan alternative terbaik. Di titik ini, pemerintah perlu memberi perhatian lebih dengan memberikan porsi dukungan dana penelitian dan pengembangan teknologi secara lebih besar. Sebagai contoh, 60% pasokan batubara bumi pertiwi telah digunakan untuk mencukupi 90% kebutuhan bahan bakar industri di Malaysia. Alhasil gonjang-ganjing kenaikan harga minyak global tak membuat kekhawatiran di sana.

Kini patut disadari bahwa era primadona bahan bakar minyak di Indonesia telah berakhir. Untuk itu pekerjaan rumah berikutnya adalah dalam hal pengembangan teknologi berbasis bahan bakar alternatif itu pada tingkat penggunaan masal di masyarakat. Pola yang akan terjadi mungkin mirip dengan ketika pemerintah memutuskan untuk mengajak masyarakat beralih dari minyak tanah ke elpiji.

Meski awal terlihat bukan hal yang mudah, namun perlahan dan pasti pasca infrastruktur yang ada semakin mendukung maka masyarakat dapat dengan mudah beralih ke elpiji. Beberapa dimensi kunci seperti ketersediaan teknologi pendukung serta adanya jaminan pasokan bahan alternatif di pasar hendaknya menjadi pembelajaran yang positif. Di satu sisi kepanikan pasar hanya terjadi dalam jangka pendek, di sisi lain roda perekonomian tetap berputar.

Melalui pola di atas besar harapan bahwa ke depan pemerintahan baru hasil legitimasi 9 Juli lalu mampu mengembalikan BBM menjadi bahan bakar minyak. Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai anda.

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 1 September 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s