Plus Minus Pendanaan Agresif

© Copyright 2010 CorbisCorporationDalam perspektif anggaran kita mengenal adanya konsep aggressive financing. Pada konsep tersebut suatu anggaran disebut-sebut menggunakan paradigma agresif jika sebagian besar porsi kebutuhan tetap maupun variabel didanai dengan sumber-sumber jangka pendek.

Uniknya, banyak literatur yang menyatakan bahwa pola itu adalah yang terbaik dalam menghadapi turbulensi pasar. Tanpa berupaya untuk menjustifikasi tepat tidaknya konsep tersebut, artikel ini berusaha memaparkan hasil pemotretan dari sudut yang berbeda.

Pada suatu kesempatan pelatihan bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah, seorang pebisnis mengatakan dengan polos bahwa meski kini omzet per bulan dari bisnisnya yang berorientasi ekspor telah mencapai dua miliar lebih, namun ia belum sepenuhnya paham bagaimana menyusun anggaran.

Pernyataan tersebut sangat menarik tuk dicermati. Sebab saat saya menanyakan bagaimana ia mengelola pemasukan dan pengeluaran, dengan lugu beliau mengungkapkan bahwa setiap pembayaran selalu didahului dengan adanya aliran kas masuk. Meski sederhana, namun di situlah dasar anggaran yang sesungguhnya. Tak hanya itu, tanpa disadari pola yang beliau lakukan lebih condong mengarah ke pendanaan agresif.

Sebagian kalangan mengatakan bahwa pendanaan agresif mengandung banyak risiko sebab kekuatan likuiditas sangat menentukan ketersediaan dana. Artinya semakin kuat likuiditasnya maka makin siaplah sumber pendanaan menutup kebutuhan yang ada. Situasi yang sama berlaku sebaliknya. Lalu di mana posisi plus dan minusnya?

Pertama, dari sisi biaya modal pola agresif diakui memberikan biaya yang lebih rendah daripada pola konservatif. Prinsip ‘just in time’ antara kebutuhan dana dan ketersediaannya telah membuat manajemen perusahaan mampu terhindar dari tuntutan beban biaya tinggi.

Terbayang jika pos-pos kebutuhan yang sifatnya ‘seasonal’ ditutup oleh ketersediaan dana jangka panjang. Itu berarti dana sudah tersedia ketika saat penggunaannya belum tiba. Disadari atau tidak, selama waktu itulah perusahaan harus menanggung beban biaya atas dana.

Kedua, aggressive budgeting harus diakui mampu memberi kesempatan kepada pengelola untuk mencari sumber dana berbiaya rendah. Saya teringat akan kesaksian salah satu pebisnis di Tanah Abang. Saat tuntutan ketersediaan dana itu tiba, beliau memberanikan diri mengajukan pinjaman jangka pendek ke sebuah bank. Ketika itu jenis pinjaman yang dipilih adalah kredit tanpa agunan, dengan bunga 13,5% per tahun. Setelah semua persyaratan diajukan, tanpa menunggu hitungan minggu, dalam satuan hari kredit pun segera mengucur.

Bagi sebagian orang persentase bunga sebesar itu cukup memberatkan perusahaan. Namun tidak demikian jika kita melihat secara lebih rinci. Dengan target margin 9% maka ketika potensi keuntungan sudah di atas 23% maka pendanaan seperti itu dapat dikategorikan layak. Sebab di satu sisi dukungan dana memungkinkan perusahaan untuk menjalankan operasional, di sisi lain cara itu memungkinkan perusahaan hanya perlu melunasi tagihan beban bunga selama periode pinjaman.

Selain nilai plus, pendanaan agresif juga menciptakan beberapa nilai negatif yang perlu diwaspadai. Pertama, pola ini mutlak membutuhkan akses pendanaan yang sangat kuat. Kapan pun dana dibutuhkan maka di saat itulah dana tersedia dan siap tuk dimanfaatkan. Terbayang jika prinsip ‘just in time’ ini macet maka dapat dipastikan bahwa operasional perusahaan akan terganggu. Bisa jadi kondisi tersebut malah memperlambat roda operasi yang tengah berjalan.

Kedua, pola pendanaan ini terkesan ‘tidak terencana dengan baik’ alias ‘not well planned’. Beberapa testimoni di lapangan terlihat bahwa pendanaan agresif sering membuat pengelola perusahaan tidak disiplin dalam menyusun perencanaan secara strategis. Prinsip ‘toh nanti kita pasti mampu menutup setiap kebutuhan yang ada’ perlahan namun pasti diamini sebagai suatu hal yang rutin. Lama kelamaan ini akan menjadi kebiasaan (baca; habits) sehingga melemahkan tingkat kedisiplinan yang dulu terbangun.

Meski bernada negatif, ketika dua hal tersebut mampu diantisipasi sejak dini, maka besar kemungkinan perusahaan akan beroperasi secara lebih efisien. Manakah yang menjadi pilihan anda? Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 8 September 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s