Indonesia di Mata Profesional Regional

indonesia ASEANDaya tarik Indonesia harus diakui masih sangat tinggi baik dari kacamata supply maupun demand. Tengok saja sejumlah pemberitaan beberapa waktu terakhir yang mengindikasikan tingginya minat investasi asing di tanah air.

Industri hulu-hilir dalam otomotif pun tak mau ketinggalan langkah. Beberapa produsen kaca global seperti Asahi Glass kini telah menempatkan negara kita sebagai salah satu tujuan pengembangan dana usahanya. Artinya jika industri domestik bertumbuh maka potensi peningkatan kebutuhan jumlah tenaga kerja juga diprediksi sangat tinggi. Dengan banyaknya jumlah angkatan kerja produktif di tanah air, niscaya realitas tersebut merupakan peluang emas untuk meraih peningkatan kesejahteraan.

Satu permasalahan yang diprediksi akan timbul adalah apakah segmen tenaga kerja dalam negeri mampu mengisi pos-pos manajerial yang tersedia. Sebab di satu sisi kompetisi persaingan tenaga kerja di era Masyarakat Ekonomi ASEAN diyakini menjadi semakin sengit. Beberapa dimensi seperti tingkat pengetahuan, level kemampuan dan keahlian serta lama pengalaman kerja menjadikan tenaga kerja kita harus berhadapan langsung dengan para professional asing.

Perang dalam tataran skilled labor harus diakui tak dapat dihindari lagi. Masifnya pertumbuhan industri di tanah air yang didukung oleh optimisme pemerintahan hasil legitimasi 9 Juli lalu telah membuat Indonesia muncul sebagai target untuk memperoleh kesejahteraan lebih. Belum lagi ditambah dengan realitas bahwa tidak semua kebutuhan tenaga kerja dapat tertutupi oleh pasokan dalam negeri.

Profesi seperti dokter berkeahlian khusus, perawat, arsitek, akuntan hingga praktisi media dinilai masih di bawah kebutuhan. Alhasil peluang inilah yang akan dimanfaatkan secara optimal oleh para pencari kerja global.

Meski pemerintah telah menyiapkan regulasi di bidang ini, namun dapat dipahami bahwa arus deras tenaga kerja asing di level profesional (baca; pakar) berpotensi tak terbendung. Cara pandang bahwa lulusan asing memiliki kemampuan lebih tinggi dari lokal membuat realitas itu menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi pemerintah. Alhasil kehadiran strategi guna menghadapi persaingan tersebut kini menjadi salah satu kebutuhan mutlak.

Sebagai bahan rujukan, untuk spesialisasi keperawatan, di Indonesia masih didominasi oleh lulusan D3. Padahal pengakuan internasional kini sudah ada di level sarjana. Hal ini dipandang sebagai penghambat karier internasional dari tenaga keperawatan lokal. Padahal di Thailand dan Vietnam, perawat di kedua negara tersebut telah didominasi oleh lulusan Sarjana. Di kalangan ASEAN mungkin tinggal Indonesia dan Laos yang hingga kini belum memiliki undang-undang keperawatan.

Selain di bidang akademis, pekerjaan rumah lainnya adalah klasifikasi pendapatan (baca; gaji) yang akan diterima oleh para pekerja. Telah menjadi rahasia umum bahwa di beberapa tenaga kepakaran khusus seperti insinyur, ketersediaan di pasar domestik hingga kini masih jauh di bawah target kebutuhan.

Persoalan rendahnya gaji yang diterima telah membuat tenaga pakar tersebut bekerja tidak pada sektor sesuai keahliannya. Nah, ketika posisi kosong ini berhasil diisi oleh tenaga profesional global dengan gaji tinggi niscaya bidang kepakaran tersebut semakin tak menarik bagi tenaga lokal.

Di sinilah peluang ‘penguasaan’ industri oleh sekelompok kaum profesional dari negara tertentu akan terjadi. Karenanya pemerintah perlu melihat kembali skema penyetaraan keahlian dan pendapatan yang diterima. Satu yang harus dihindari adalah adanya kesenjangan antara gaji tenaga kerja lokal dengan asing pada tingkat keahlian yang sama.

Dari paparan di atas terlihat jelas bahwa satu-satunya ‘bahasa’ yang digunakan di masa depan adalah kompetensi tenaga kerja (yang diwakili oleh sertifikasi profesi). Instrumen ini akan dapat dianalogikan sebagai ‘syarat’ utama untuk berkarier di Indonesia maupun dunia.

Dengan demikian, secara internal Indonesia perlu menelaah kembali persyaratan khusus bagi pekerja asing yang berkarier di bumi pertiwi sembari menyusun strategi jitu untuk mempercepat peningkatan daya saing yang ada.

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 15 September 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

One thought on “Indonesia di Mata Profesional Regional

  1. Peningkatan daya saing, kata terakhir tersebut justru sangat bermanfaat bila dielaborasi. Semoga PPM bisa meningkatkan kontribusinya untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Jangan sampai warga Indonesia kalah bersaing dengan warga asing. Have a great day..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s