Keluar dari Benang Kusut Infrastruktur

infrastruktur kusutMenghadapi persaingan perdagangan bebas ASEAN tahun depan, Indonesia perlu segera memperbaiki sistim logistik nasionalnya. Hal ini muncul sebagai respon atas prestasi negara kita dalam peringkat logistik ASEAN.

Tahun ini (2014) Indonesia berada di peringkat kelima, di bawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Artinya tanpa strategi yang jelas niscaya akan sulit bagi negara kita untuk mengejar ketertinggalan dengan sesama anggota ASEAN sekaligus menciptakan daya saing nasional. Sebab mengacu pada realitas yang tengah terjadi saat ini, buruknya kualitas logistik nasional berdampak pada peningkatan biaya transportasi dan distribusi produk hingga lebih dari 20%. Fakta inilah yang membuat posisi pemain domestik sulit berkompetisi dengan asing.

Penelusuran lebih lanjut terkait benang kusut ini menyimpulkan bahwa tidak terselesaikannya masalah infrastruktur dipicu oleh beberapa hal.

Pertama, sebagian besar pendanaan pembangunan infrastruktur domestik diperoleh dari utang luar negeri, sementara pembiayaan yang bersumber dari ekuitas masih sangat minim. Meski secara ‘market timing’ pola pendanaan itu cukup menguntungkan, namun tingginya potensi pelemahan kurs lokal sering menciptakan masalah baru saat jatuh tempo tiba.

Aksi melemahnya Rupiah relatif terhadap Dolar Amerika sering membuat dana yang harus dikembalikan menjadi membengkak. Di lain sisi minimnya pendanaan yang bersumber dari ekuitas menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya melirik sektor ini.

Kedua, adanya ‘mismatching’ antara jangka waktu pendanaan dengan karakter investasi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa investasi di bidang infrastruktur menuntut pengembalian dalam jangka panjang. Namun di sisi lain skema pendanaan yang tersedia masih didominasi oleh jangka pendek.

Alhasil sistem tambal sulam jualah yang dipilih untuk membangun infrastruktur yang ada sehingga upaya mengubah pola menjadi jangka panjang mutlak memerlukan respon aktif dalam meminimalkan risiko pendanaan yang ada.

Minimnya ketertarikan pasar dalam bidang ini dipicu oleh hal-hal teknis seperti rendahnya kepastian tarif dan pembebasan lahan. Di sana-sini masih terlihat bahwa upaya pembebasan lahan untuk pembukaan akses infrastruktur masih terkendala oleh ketidakjelasan prinsip ganti rugi yang diberikan kepada masyarakat. Tak jarang bahkan aksi penolakan mewarnai proses tersebut.

Tingginya risiko investasi itu secara otomatis memicu tingginya biaya yang harus ditanggung oleh para investor. Satu alternatif solusi yang dapat menjadi perhatian adalah peluang penerbitan surat utang (baca; obligasi) khusus di bidang infrastruktur. Proses ini lazim digunakan sebelum kita membuka investasi ekuitas di sektor infrastruktur.

Coupon obligasi perlu dihitung secermat mungkin agar benar-benar menarik bagi calon investor. Melalui mekanisme pembagian ‘semi annually’ di mana coupon dibagi tiap-tiap semester maka instrumen ini diprediksi akan mampu mengubah cara pandang pasar akan sektor infrastruktur.

Tak hanya itu, sejumlah lembaga dana pensiun juga diperkirakan akan melirik instrumen tersebut. Jika itu terjadi maka bukan hanya problem infrastruktur saja yang berhasil dibenahi melainkan juga relokasi dana investasi besar ke dalam negeri sehingga bisa dikatakan bahwa pembangunan infrastruktur Indonesia kali ini merupakan upaya konkret anak bangsa.

Selanjutnya, bila instrumen itu yang dipilih maka pemerintah perlu meningkatkan transparansi penggunaan dana. Kehadiran lembaga pengawas pembangunan infrastruktur dinilai penting dalam menjaga unsur objektifitas penilaian yang akan terjadi. Sebab tugas monitoring fase per fase akan dilakukan dan dilaporkan oleh lembaga tersebut. Dengan demikian kredibilitas pembangunan infrastruktur akan menjadi lebih baik. Pada posisi itulah keterlibatan sektor swasta dapat diperbesar.

Satu pola kerja sama yang perlu dikembangkan adalah public private partnerships. Pada pola ini, pemerintah membuka ruang gerak dari swasta untuk turut berperan aktif dalam pembangunan infrastruktur skala nasional. Jadi bukan mustahil bila ke depan terjadi peningkatan permintaan instrumen ekuitas yang secara khusus bertujuan untuk pembangunan infrastruktur.

Terakhir, saat pembangunan sudah dapat berlangsung secara merata di seluruh wilayah tanah air, maka di situlah daya saing tercipta. Marilah kita bangun optimsime tuk segera keluar dari benang kusut infrastruktur yang ada. Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 22 September 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s