Red Car Effect

VW-1303-S-Kaefer-Volkswagen-BeetleMobil pertama saya adalah VW 1303 tahun 1976 buatan Jerman. Mobil kesayangan yang saya gunakan dan rawat hampir 4 tahun ini sungguh berkesan di hati. Bersamanya saya menikmati masa-masa indah pertama kali bekerja, dan selalu berdua menikmati duka, apalagi suka.

Mobil itu pernah mogok tepat di tanjakan parkir mall sehingga menyebabkan kemacetan panjang dan sangat merepotkan. Jika hujan deras, atapnya bocor sehingga basah baju saya dari kepala hingga ke lengan. Namun semua itu akhirnya menjadi pengalaman manis dan unik untuk dikenang di masa kini. Model romantisme pada benda, yang sepertinya dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda.

Namun saya tak hendak bercerita banyak tentang mobil itu. Yang hendak saya bahas justru satu bagian menarik dari proses mendapatkannya. Saya bukanlah orang yang melek mekanik, bukan pula seorang auto freak yang memiliki pengetahuan luas tentang dunia otomotif sehingga ketika uang tabungan saya cukup banyak untuk membeli sebuah mobil bekas, dan berbagai alternatif telah tersedia, hati saya tertambat pada mobil VW, sekadar karena saya menyukai bentuknya.

Ada sekitar tiga bulan waktu saya untuk mempertimbangkan mobil ini. Herannya, begitu muncul ketertarikan saya pada mobil VW ini, tiba-tiba di setiap perjalanan saya berangkat kerja banyak mobil VW yang terlihat. Di parkiran depan ruko-ruko, mobil VW mejeng di sana, bahkan ketika jalan-jalan di mall ada miniaturnya dipajang seakan memanggil-manggil saya. Intinya, saat itu, kemanapun mata memandang, mobil VW selalu muncul.

Inilah yang disebut sebagai Red Car Effect atau dalam bahasa lain disebut fenomena Baader-Meinhof, ilusi frekuensi. Ilusi ini bekerja pada saat kita memiliki ketertarikan pada sesuatu, otak kita dengan segera memasang radar untuk menyaring informasi masuk sehingga selalu mengarah pada ketertarikan itu.

Dulu, ketika rumah saya baru jadi dan harus membeli gorden, tiba-tiba, setiap bertamu ke rumah lain, model, warna dan jenis kain gordennya selalu lebih menarik daripada bagian mana pun di rumah itu.

Ilusi psikologis ini sering dimanfaatkan oleh para fortune tellers, para peramal, sejak zaman dahulu kala. Beberapa orang yang diramal bernasib buruk hari itu, tiba-tiba merasa semua yang dilakukannya sial. Tersandung batu, tertumpah kopi, file dokumen tertinggal di rumah, dimarahi bos, dan berbagai peristiwa tidak menyenangkan datang bertubi-tubi seakan diundang.

Hal ini tak lain adalah ketika otak menyaring semua peristiwa dan menghilangkan hal-hal baik, seperti segarnya udara pagi, angkutan yang datang tepat ketika kita membutuhkan, senyum rekan kerja dan lain sebagainya. Ada, tapi tak terlihat karena radar diarahkan ke satu tempat.

Bayangkan jika seorang pemasar muda memiliki pandangan buruk dan pikiran-pikiran negatif yang mendominasi, niscaya setiap hari ketika matanya terbuka dan menghadapi dunia, hal-hal buruk akan terlihat lebih sering, lebih banyak. Otaknya mengkonfirmasikan pikiran negatif, dan bahkan lebih berbahaya lagi, mendramatisir.

Oleh karenanya, biasakan menyetel tuas pikiran kita untuk tertarik pada yang positif. Live life to the fullest, sadari dan nikmati semua hal baik yang diberikan oleh kehidupan, walaupun terlihat sepele.

Gemericik air hujan yang jatuh dari talang ke atas batu-batu di taman, sesungguhnya merupakan tanda bahwa telinga kita sehat, rumah kita nyaman, dan air hujan turun sebagai rahmat bagi hidupnya tunas-tunas daun muda di taman kita. Selamat menikmati kehidupan, dan salam pembaharu..!

*Artikel ini dimuat di majalah Youth Marketers edisi 19/September/2014.

Wahyu Tri SetyobudiWahyu T. Setyobudi.
Staf Pengajar PPM School of Management
WHY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s