Menakar Efek Duplikasi Sektor Kreatif

creative industriyMemasuki abad 21 dunia seakan menatap tajam sektor kreatif. Sejumlah negara G20 bahkan secara eksplisit menyusun rencana strategis pengembangan sektor ini. Beberapa di antaranya telah meletakkan harapan pada pengembangan sektor ini sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Sejauh mana efek duplikasi yang berpeluang diciptakan sektor ini?

Saya teringat akan sebuah film dokumenter di salah satu kawasan Afrika yang berkisah tentang kesulitan masyarakat untuk memperoleh air bersih. Kejadian yang berlangsung selama puluhan tahun tersebut berhasil direkam oleh seorang seniman asing dalam bentuk cerita pendek. Meski durasinya hanya 12 menit, namun film yang kemudian diunggah ke youtube ini berhasil mencuri perhatian dunia internasional.

Tak pelak nurani pun terpanggil. Ribuan donator menunjukkan antusiasmenya untuk terlibat dalam proyek pengadaan air bersih di daerah tersebut. Hasilnya, kini masyarakat telah dapat menikmati air bersih. Di satu sisi kualitas higienitas kehidupan meningkat, di sisi lain terjadi peningkatan penghargaan kepedulian sebagai sesama warga bumi.

Pada refleksi tersebut kita dapat mencermati bagaimana hasil dari produk kreatif sangat bermanfaat pada peningkatan kualitas hidup sebuah peradaban. Di sinilah sektor kreatif mulai menunjukkan eksistensinya.

Di ranah komersial, pemberdayaan sektor kreatif dapat mengarah pada sektor lain. Satu di antaranya adalah teknologi. Kini telah menjadi rahasia umum bahwa perkembangan teknologi informasi dan internet dipicu oleh pola pikir inovatif sang pemain. Industri yang rata-rata dihuni oleh generasi ‘Y’ ini memandang dunia dalam konteks ‘tanpa’ batas.

Nafas nasionalisme pun meluas tidak lagi pada satu rumpun bangsa melainkan pada tataran global sebagai warga bumi. Produk kreatif dari satu pemain di salah satu negara dapat menjadi komoditas perdagangan di negara lain, demikian pula sebaliknya. Alhasil esensi komersialisasi ini mampu memicu perkembangan teknologi. Ketika intensitas perdagangan antar negara meningkat di situlah kehadiran teknologi informasi terbaru dibutuhkan. Maka tak ada pilihan kecuali pengembangan teknologi.

Sektor lain yang turut terimbas adalah pengembangan konsep ekologi. Pemberdayaan sektor kreatif telah membawa manusia pada pemahaman arti penting harmonisasi dengan alam. Itulah mengapa sekarang tercipta trend penggunaan produk-produk alami yang benar-benar bersih dari bahan kimia tertentu yang mengancam kelangsungan kehidupan.

Di sini, dukungan perkembangan teknologi dalam menghasilkan formula bagi keberlangsungan hidup mulai unjuk gigi. Penelitian budidaya pangan organik kini kian gencar seiring dengan peningkatan permintaan masyarakat akan produk tersebut. Dengan kata lain keberpihakan masyarakat pada produk-produk hijau telah membawa kehidupan pada ‘warna’ yang baru.

Bila dicermati lebih lanjut imbas perkembangan sektor kreatif telah membawa manusia pada upaya pemantapan harmonisasi ‘3P’ yakni people, planet dan profit. Dunia industri non kreatif pun kini memahami benar bahwa setiap upaya pelestarian lingkungan (planet) berimbas pada peningkatan kualitas hidup manusia (people) yang pada akhirnya akan berhasil meningkatkan keuntungan (profit) bersama. Dengan cara itulah siklus kehidupan dimaknai.

Sejumlah benefit pun kiranya dapat diperoleh dari perputaran siklus. Harmonisasi hidup dengan alam akan semakin terjaga. Dengan demikian penghargaan masyarakat akan sumber-sumber alam mineral akan semakin tinggi. Generasi saat ini akan melihat ketersediaan sumber daya alam nusantara sebagai sebuah kekayaan yang harus diwariskan pada generasi selanjutnya.

Dalam kerangka pikir ini, bangsa kita akan dengan mudah keluar dari jebakan masalah energi, baik dari sisi pasar maupun pendanaan. Di satu sisi, alokasi subsidi dapat terkonsentrasi pada bidang-bidang yang secara spesifik mampu meningkatkan kualitas hidup bangsa, di sisi lain kita data memperlambat proses penuaan bumi sebagai penyokong utama kehidupan.

Sungguh besar bukan imbas dari perkembangan sektor kreatif?. Tak salah jika sejumlah negara berkonsentrasi dalam pengembangan sektor ini. Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 29 September 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s