Return to Neverland

neverland di manajemenppm wordpress comAnda yang tak ingin beranjak dewasa, datanglah ke Neverland. Tempat fiksional ciptaan penulis asal scotlandia JM Barrie ini, memanjakan fantasi kita tentang tempat ideal dimana segala hal yang menyenangkan di masa kecil disahkan.

Di sanalah tinggalnya Peter pan, The lost boys, Tinker bell, Mermaid dan Kapten Hook serta para bajak lautnya, yaitu tokoh-tokoh imajinatif idola setiap anak yang sedang mengeksplorasi versi abstrak dari kehidupan nyata.

Mereka berinteraksi satu sama lain, dalam berbagai versi, untuk berlomba menemukan emas berlian dalam peti harta karun tua. Salah satu fitur di pulau tersebut yang paling diimpikan oleh sebagian besar anak-anak yang memiliki masa kecil normal adalah, debu ajaib yang bisa membuat apa pun yang disentuhnya “terbang”.

Nama Neverland memang diambil untuk mencerminkan sifatnya, yaitu “never grow old”. Sifat yang digadang-gadang oleh semua orang. Jiwa kanak-kanak dalam diri Peter Pan membuatnya dapat terbang, bermain sepanjang hari, dan walaupun selalu riang, berhasil menyelesaikan setiap petualangan dengan gemilang.

Sifat kanak-kanaklah yang membuatnya pemberani karena tak pernah merisaukan kegagalan, membuatnya sangat kreatif karena tak pernah membatasi kemungkinan, serta membuatnya selalu bergembira karena baginya hidup adalah permainan.

Seorang ahli budaya asal Belanda, Johan Huizinga, pada tahun 1938 menyebut manusia sebagai homo ludens, mahluk bermain. Ia menekankan bahwa bermain adalah suatu elemen penting dalam budaya suatu masyarakat, atau bahkan penting dalam tataran yang lebih mikro, dalam diri seseorang.

Namun telah jamak dalam hidup bahwa seiring dengan usia yang menua, kebahagiaan kita merumit. Selepas masa kecil, aturan masyarakat membuat kita memiliki batas yang jelas antara bermain dan bekerja. Bekerja tidak boleh bermain, dan permainan menjadi tidak asik jika memikirkan pekerjaan. Tak heran jika rapat perusahaan harus dilakukan dalam mode serius otak kiri, lengkap dengan artifak-artifak keseriusan seperti jas, dasi, worksheet, tabel-tabel serta laporan beratus lembar jumlahnya.

Paling tidak dua kali saya pernah diminta untuk memandu proses penulisan roadmap perguruan tinggi yang dilakukan oleh senat Guru Besar. Alih-alih menggunakan proses standar seperti rapat kerja, kami memutuskan untuk menggunakan metode bermain.

Kembali ke masa kecil, ruangan kami dekor menggunakan poster-poster motivasi, sepatu dan kaos kasual lengkap dengan celana jins kami wajibkan, serta balon berukuran besar kami letakkan di sana-sini. Para profesor tersebut menggunting majalah untuk ditempel menjadi poster mewakili visi 20 tahun ke depan, menggubah lirik lagu dan menampilkan koreografi untuk menyampaikan rencana kerjanya. Sungguh pengalaman kembali ke masa kecil ternyata dapat membantu kita untuk menyelesaikan tugas dengan lebih cepat, lebih tepat, dan yang penting, lebih menyenangkan.

Jika para pemasar muda menemui persoalan yang membuat hidup sempit, mungkin itu karena Anda terlalu “tua”. Tua dalam berpikir dan bertindak. Mungkin saatnya Anda kembali ke Neverland, menemukan kegairahan baru untuk mengalahkan bajak laut dengan cara Peter Pan. Salam Pembaharu!

*Artikel ini dimuat di Majalah Youth Marketers Edisi 20/September/2014.

Wahyu Tri SetyobudiWahyu T. Setyobudi.
Staf Pengajar PPM School of Management
WHY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s