Inikah Saatnya Untuk Hedging?

HedgingKabar melemahnya nilai tukar Rupiah ternyata ‘setia’ mendampingi disahkannya RUU Pilkada baru yang menghentikan pemilihan langsung. Selama sebulan terakhir (September 2014) Rupiah berhasil mencatat pelemahan terbesar di Asia sepanjang tahun ini, yakni 4,2%. Di pasar non deliverable forward berjangka satu bulan ke depan, Rupiah malah melemah hingga 4,7%. Alhasil kini mata uang kebanggaan kita dihargai Rp. 12.209 per Dollar Amerika.

Bagi pelaku ekonomi yang berorientasi ekspor, aksi pelemahan ini mungkin menjadi ‘berkah’ tersendiri. Namun tidak demikian bagi pelaku impor. Melemahnya nilai Rupiah secara langsung berdampak pada kenaikan biaya impor. Saat kenaikan masih tertolerir oleh daya beli masyarakat mungkin kerugian yang diderita tidaklah terlalu signifikan. Namun bila tak dapat ditolerir lagi niscaya masyarakat akan dengan mudah beralih ke produk substitusi lain. Di sinilah potensi kerugian itu tercipta.

Meski aksi pelemahan yang tengah terjadi diyakini juga turut dipicu oleh kondisi politik dalam negeri akhir-akhir ini, namun realitas ini mengingatkan kita akan arti penting sebuah mitigasi risiko. Pada perspektif manajemen, risiko dapat dilihat dari dua sisi; risiko yang dapat diprediksi dan risiko yang tak dapat diprediksi.

Contoh risiko yang tak dapat diprediksi adalah datangnya bencana alam. Meski symptom bencana kini dengan perkembangan teknologi telah dapat diukur namun tanggal dan waktu kejadian masih tak dapat dipastikan. Di situlah risiko tercipta.

Hal tersebut berbeda dengan risiko nilai tukar. Sesaat ketika perusahaan menjalin kontak dagang yang melibatkan penggunaan mata uang asing (dalam hal ini USD), maka secara otomatis ia terbuka pada ancaman risiko melemahnya mata uang lokal relatif terhadap mata uang global sehingga dengan basis pengalaman di masa lalu, manajemen seharusnya dapat memprediksi langkah-langkah antisipatif atau yang bersifat mitigatif.

Saya teringat akan pola pendanaan sebuah kelompok media di tanah air yang ‘suka’ menggunakan utang dalam denominasi mata uang asing (USD), padahal pendapatan berskala globalnya hanya kurang dari 8%. Sedangkan modal kerja didominasi dalam Rupiah. Setelah dicermati lebih lanjut ternyata manajemen memandang rendahnya tingkat bunga pinjaman dalam USD berikut potensi hasil konversi sebagai pertimbangan utama.

Tak ada yang salah dengan pandangan itu. Namun lambat laun keputusan tersebut akan membawa konsekuensi besar di kemudian hari. Sebagai contoh ketika perusahaan meminjam satu juta Dollar Amerika, kurs yang terjadi Rp 11.100. Kini saat nilai kurs mencapai Rp 12.200 maka secara otomatis nilai total utang perusahaan meningkat di atas 10%, dan ini merupakan beban besar bagi manajemen.

Apalagi jika perusahaan tidak mempunyai sistem ‘aging schedule’ yang dapat mempertemukan aliran pendapatan masuk di waktu lebih cepat dari jatuh temponya utang. Bisa jadi ia akan membutuhkan suntikan modal kerja. Tak hanya itu, pola ini terbukti sukses menghantar beberapa perusahaan untuk gulung tikar dengan mengajukan kepailitan ke pengadilan.

Alhasil merujuk pada semua realitas yang terjadi maka hedging sebagai aktivitas pelindung nilai saat-saat ini mutlak diperlukan. Kini saat yang tepat bagi perusahaan untuk melirik penggunaan instrument keuangan seperti kontrak baik forward maupun future atau pembelian vanilla option.

Beberapa perusahaan yang membutuhkan sejumlah komoditas internasional sebut saja fuel, batu bara, energi hingga bahan baku non fuel kiranya perlu mempertimbangkan aktivitas lindung nilai ini.
Tak hanya digunakan untuk operasional, hedging juga perlu digunakan dalam aktivitas pendanaan. Hal ini bertujuan agar aksi pelemahan Rupiah tidak terlalu berdampak signifikan pada peningkatan nilai utang dalam denominasi lokal.

Demikian pula halnya dari sisi pendapatan. Ketika perusahaan memiliki piutang yang cukup besar dalam denominasi USD pada waktu-waktu di mana Rupiah diprediksi akan menguat, maka hedging diperlukan agar manajemen memperoleh kurs yang memberi keuntungan optimal.

Satu hal yang membuat manajemen enggan melakukan hedging adalah biaya pembelian instrumen. Meski secara eksplisit mungkin dinilai tinggi, namun secara ekonomis selama biaya yang dikeluarkan masih di bawah inflasi maka itu akan menjadi wajar. Sudahkah anda melakukan hedging? Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 6 Oktober 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s