Bersinergi Antar Generasi

multi-generational-workforceStudi di sejumlah perusahaan beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa titik krusial yang kini dihadapi adalah budaya organisasi. Kehadiran generasi Y di dalam organisasi harus diakui telah memberikan corak tersendiri bagi arah gerak perusahaan.

Hal ini terlihat jelas pada platform sarana komunikasi pemasaran yang digunakan. Perusahaan yang tadinya dikenal sangat konvensional, kini berubah menjadi pencipta opini lewat situs-situs media sosial. Itu bisa menjadi salah satu bukti kehadiran gen Y di dalam perusahaan.

Meski terlihat sederhana namun mengubah pola pikir dari yang bersifat konvensional menjadi agresif bukanlah hal yang mudah. Dalam penelusuran lebih lanjut tak jarang pimpinan puncak perusahaan yang didominasi gen X atau bahkan angkatan baby boomers melihat tuntutan perubahan itu dengan sangat hati-hati. Beberapa di antaranya memutuskan untuk tidak mengikuti arus zaman dan tetap dalam kondisi konvensionalnya, namun ada juga yang berani keluar dari zona nyamannya untuk mencoba berdialog dengan lingkungan.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa gen Y memiliki kekuatan untuk membentuk opini yang berujung pada perubahan sistem kerja. Agar perubahan tersebut dapat diakomodir oleh generasi-generasi sebelumnya, perusahaan perlu merumuskan strategi guna menciptakan sinergi antara gen Y dengan gen X. Berikut beberapa tips yang perlu dicermati.

Pertama, terkait pola komunikasi di dalam tim kerja. Harus dipahami bahwa setiap generasi mempunyai preferensi komunikasi sendiri-sendiri. Gen X dan baby boomers sering memandang bahwa pertemuan fisik tetap dibutuhkan untuk membangun interaksi antar karyawan. Jadi pelaksanaan rapat koordinasi rutin masih diharapkan mampu menjadi ajang bagi setiap karyawan untuk saling menemukan titik temu.

Bagi generasi Y, prinsip bahwa komunikasi dapat terjalin melalui berbagai macam media termasuk internet memungkinkan mereka untuk dapat bekerja lebih dari delapan jam per hari. Penggunaan beberapa fasilitas telpon seluler, seperti sms, video call maupun conference call dipandang sebagai sesuatu yang dapat menggantikan pertemuan formal.

Satu nilai plus dari pola ini adalah peningkatan produktivitas kerja. Namun kesenjangan cara pandang antar generasi terkadang membutuhkan waktu bagi masing-masing pihak untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

Kedua, terkait ritme kerja. Salah satu karakteristik dari gen Y adalah tidak terlalu menyukai hal-hal yang prosedural. Mereka cenderung lebih produktif bila diberi kebebasan secara utuh dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan. Realitas itulah yang memicu gen Y untuk bekerja di luar waktu kerja standar. Pola inilah yang kurang disukai oleh gen X dan baby boomers yang cenderung bekerja sesuai standar dan prosedur yang rigid.

Alhasil satu-satunya langkah kompromi yang dapat dilakukan adalah meningkatkan fleksibilitas proses kerja dari generasi sebelumnya. Di sisi lain gen Y harus mau berkompromi dengan memahami esensi prosedur dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan.

Ketiga terkait loyalitas dan etos kerja. Beberapa studi berhasil mengungkap bahwa gen Y relatif loyal dan setia pada profesinya, namun tidak demikian dengan kepada lembaga atau entitas bisnis. Inilah yang oleh sebagian kalangan digunakan untuk memberi stigma ‘kutu loncat’ pada generasi ini.

Meski saya pribadi kurang sepakat dengan pemahaman tersebut, namun bila temuan ini benar adanya maka perusahaan perlu menciptakan sebuah ikatan batin yang kuat. Satu celah yang dapat menjadi alternatif adalah dengan memberikan peluang bagi generasi ini untuk bertumbuh bersama-sama perusahaan, seperti dengan melimpahkan tugas-tugas khusus yang membuat mereka mampu melakukan aktualisasi diri atau menempatkan mereka di tingkat manajemen yang lebih tinggi.

Sadar atau tidak mekanisme tersebut mampu menciptakan ikatan antara karyawan dengan organisasi. Di sisi lain generasi-generasi ‘seniornya’ harus mau turun tangan dalam memperkuat budaya organisasi agar tetap mampu berdialog dengan perubahan zaman. Di situlah sinergi tercipta.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

*Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 13 Oktober 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s