PR Pertama Kabinet Kerja

Jokowi BBM NaikPasca resmi dilantik sehari sebelum peringatan Sumpah Pemuda, Kabinet Kerja versi Presiden Joko Widodo mulai bekerja dengan giat. Berbagai strategi dan program tengah disiapkan demi tercapainya target-target yang berujung pada peningkatan kesejahteraan bangsa di era perdagangan bebas.

Pekerjaan rumah (baca; PR) pertama yang sangat berat adalah masalah subsidi bahan bakar minyak. Sebagai PR ‘warisan’ pemerintahan sebelumnya, harus diakui bahwa kebijakan ini tidak terlalu popular, bahkan justru berpotensi menurunkan popularitas pemerintahan baru.

‘Bak menelan pil pahit’, pemerintahan di bawah komando Bapak Jokowi-JK harus siap dengan segala konsekuensi demi pertumbuhan ekonomi negara di masa depan. Data statistik menunjukkan bahwa selama empat belas tahun terakhir, harga BBM untuk jenis premium telah beranjak dari Rp. 1.150 per liter di bulan Oktober tahun 2000 menjadi Rp. 6.500 per liter di bulan yang sama 2014 (atau sekitar 4,6 kali lipat).

Wacana kenaikan harga minyak di pasaran internasional hingga upaya pengurangan subsidi disebut-sebut sebagai alasan mendasar realitas tersebut. Meski terkesan tinggi, namun perlahan upaya pelepasan subsidi untuk sektor BBM bukanlah hal yang baru. Malaysia contohnya, telah melakukan pelepasan subsidi sejak 2008 lalu. Pertimbangan perlunya alokasi dana bantuan di sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan merupakan alasan yang utama.

Merujuk pada kenyataan yang terjadi di beberapa negara tetangga, maka wacana pelepasan subsidi bisa jadi solusi terbaik bagi penyelesaian PR ini. Tinggal sekarang berapa besar kenaikan harga akan terjadi serta waktu yang tepat bagi kebijakan baru ini. Jangan sampai kenaikan harga berdampak signifikan pada pelambatan laju pertumbuhan ekonomi menjelang penutupan tahun 2014 sebab bila itu terjadi, maka efek psikologis pasar memasuki era perdagangan bebas ASEAN tahun depan bisa terganggu. Namun apakah itu berarti kebijakan ini harus putus di awal tahun depan?.

Tanpa wacana kenaikan harga BBM, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun ini diprediksi mampu mencapai 5,2%. Faktor pendorong yang cukup dominan adalah konsumsi masyarakat, sama dengan tahun lalu. Artinya, pemerintah perlu melindungi daya beli masyarakat agar konsumsi mampu terus memberikan kontribusi positifnya. Bila tidak, maka pemain lokal akan cukup sulit menembus pasar internasional mengingat konteks persaingan yang sengit.

Nah bila BBM naik pada kisaran Rp. 3.000 (seperti perhitungan pemerintahan sebelumnya) di tahun ini maka besar kemungkinan gangguang pasar hanya bersifat temporer. Meski demikian tambahan inflasi sebesar 3% diprediksi sebagai ‘paket’ dari kebijakan ini. Artinya inflasi hingga akhir tahun bisa mencapai 8% lebih.

Namun di sisi lain hal ini akan mampu menyisihkan anggaran Rp. 120 trilliun lebih sehingga dapat dialokasikan ke sektor lain seperti percepatan pembangunan di bidang pendidikan dan infrastruktur. Sebagai langkah yang dinanti-nantikan masyarakat, kebijakan tersebut berpeluang untuk membangun opini positif sekaligus upaya penyadaran masyarakat dalam mengalokasikan dana konsumsinya. Alhasil relokasi subsidi itulah yang nantinya diprediksi mampu meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional.

Bila hal tersebut dapat direalisasikan tahun ini niscaya inflasi di tahun depan akan lebih landai. Atau dengan kata lain kepastian pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2015 akan lebih tinggi. Inilah yang menjadi harapan investor. Dengan demikian kini langkah esensial ada pada keakuratan implementasi di lapangan.

Mengaca pada kebijakan serupa pada pemerintahan sebelumnya, putusan strategis yang sangat layak di atas kertas dapat menciptakan pelbagai masalah di lapangan. Ketidaktepatan alokasi dana bantuan seringkali menjadi bulan-bulanan opini masyarakat.

Karenanya, mengingat pemerintahan ini telah beroleh legitimasi dari seluruh komponen bangsa, maka panggilan nurani untuk mendukung rencana strategis pemerintah perlu dibangun. Pengawasan relokasi subsidi harus dicermati secara bijak dan obyektif agar strategi dapat berjalan secara efektif. Di satu sisi PR terselesaikan, di lain sisi masyarakat menikmati faedahnya.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s