Artefak Mimpi

graduateKarena tidak biasa, jenggot yang saya biarkan tumbuh bebas selama dua pekan ini, sering menjadi bahan pembicaraan ketika berbincang dengan rekan. Jenggot yang panjangnya tanggung, tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu pendek memang menggelikan untuk dipandang.

Akhirnya dari sekedar asesoris, fungsinya malah menjadi focal point, terutama bagi mereka yang baru melihatnya. Komentar-komentar mulai muncul, mulai dari dianggap ustadz, dipanggil Ahmad Dhani, bahkan ada yang memberi label JTH, singkatan dari jenggot tanpa harapan.

Komentar-komentar tersebut saya dengar dan perhatikan. Baik negatif ataupun positif, semuanya justru sesuai dengan harapan saya. Setiap perhatian yang orang tunjukkan, seperti mengafirmasi cause mengapa saya melakukannya.

Bukan tanpa sebab, saya membiarkan jenggot tanggung ini tumbuh. Pasalnya, saya berjanji pada diri sendiri, untuk membiarkan jenggot ini tumbuh sampai paper penelitian saya diterbitkan di jurnal internasional sebagai persyaratan kelulusan studi S3.

Hal yang sama pernah saya lakukan lima belas tahun lalu, ketika menyelesaikan skripsi dan sukseslah hasilnya. Saya berniat mengulangi dan sekarang, setiap kali saya mengelus jenggot, terbayang wajah para promotor dan beberapa paper yang masih mangkrak menunggu diselesaikan.

Hal seperti ini tentu bukanlah sesuatu yang teramat istimewa. Pada tataran yang lebih legendaris, Patih Gajahmada pernah bersumpah, tidak akan menikmati buah palapa, yang oleh sebagian ahli tafsir sejarah diartikan sebagai kenikmatan dunia, demi menyatukan Nusantara.

Hasilnya tampak hingga kini, Sumpah Palapa mewujud menjadi bentangan negara terbesar yang diwariskan beberapa puluh generasi, dan ratusan tahun lamanya. Sebuah mimpi besar yang mewujud menjadi kenyataan.

Mimpi adalah hal tak terlihat yang pergi semudah datangnya. Bagai bunga bougenville ungu-putih yang di musim panas merekah bersamaan hingga tak menyisakan ruang untuk daun-daun menghijau, namun tiba-tiba rontok bersamaan pula di saat hujan tiba, meninggalkan rantingnya kesepian. Di suatu waktu datang membangkitkan semangat bergelora, namun di waktu lain kehilangan aromanya, seakan kehilangan nafas, kehilangan tenaga.

Semua orang punya mimpi besar, namun hanya sedikit yang punya kekuatan niat dan endurance untuk berjalan terus-menerus sepanjang jalan ikhtiar menuju mimpi itu. Mimpi yang bersifat visi berbeda dengan mimpi hampa sahabat dari angan-angan kosong.

Mimpi yang mem-visi adalah yang bisa menerjemahkan dirinya pada tindakan saat ini. Dia menginspirasi, menumbuhkan gairah dan semangat untuk melakukan usaha sebagai syarat mahar keberhasilan. Oleh karenanya, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat penanda atau pengingat, sehingga di setiap waktu Anda hidup bersama mimpi tersebut. Saya menamainya Artefak Mimpi.

Beberapa training motivasi mengajarkan untuk menempelkan gambar Lambourghini di depan meja kerja, memasang foto artis di dompet, atau bahkan mencetak foto Anda di kartu nasabah prioritas suatu bank. Semuanya sah-sah saja, Anda dapat memanfaatkan seluruh kreativitas untuk mencipta artefak mimpi ini.

Esensinya, semakin sering Anda mengingat mimpi, semakin terarah aktivitas Anda padanya. Sebaliknya semakin jauh Anda melupakan mimpi, semakin pudar warna cahayanya di garis masa depan hidup Anda. Selamat mencoba, tetap semangat dan salam pembaharu!

Artikel ini dimuat di Majalah Youth Marketers Edisi 22, Oktober 2014.

Wahyu Tri SetyobudiWahyu T. Setyobudi.
Staf Pengajar PPM School of Management
WHY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s