Fenomena Ratu Semut

Ratu_AtutBerita-berita yang ditayangkan televisi beberapa bulan silam membuat penonton seringkali terkaget-kaget. Dapat dikatakan, dari sepuluh frame, tujuh frame menayangkan wajah wanita, mulai dari putri yang menjadi istri ketiga jenderal polisi tersangka koruptor, model majalah dewasa yang berhubungan dengan gembong narkoba terpidana mati, hingga ratu yang duduk di tampuk pimpinan daerah.

Menyedihkan melihat betapa media mengeksploitasi kaum hawa, yang berujung pada efek snowball, semakin lama intensitasnya semakin tinggi dan semakin dalam.

Ketika orang ramai bicara tentang good governance dan good corporate governance, tak ada yang berinisiatif untuk menciptakan good media governance, misalnya, sehingga media tidak salah arah atau sengaja nyasar kesana kemari, ikut blusukan tanpa arah yang jelas.

Namun tak ada yang perlu disalahkan memang, karena ujung-ujungnya semua berpangkal dari praktek good governance. Pemerintahan yang dapat dianalogikan dengan perusahaan selayaknya memenuhi persyaratan untuk dinyatakan berstatus GOOD, yaitu GOOD dalam Transparency, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness (TARIF).

Ambillah contoh sang Ratu Banten yang saat ini sedang ‘bermimpi buruk’ dipindahkan dari kursinya yang empuk ke ruang sel yang harus dibaginya dengan beberapa orang. Sang Ratu dikenal membangun dinasti di kepemerintahannya, dengan sikap kekeluargaan yang sangat kental dikelilingi oleh saudara dan kerabat yang juga menduduki posisi-posisi penting pemerintahan. Tentu saja hangat dan mangan ora mangan yang penting ngumpul.

Tidak usahlah berharap yang muluk-muluk bagi pemerintahannya untuk menepati seluruh komponen dari TARIF di atas, ambil saja contoh salah satu faktor, yaitu Independensi. Seberapa objektif beliau atau anak buah beliau menentukan pemenang tender ini itu jika ia atau mereka paham si peserta adalah masih kerabat sang Ratu? Atau dalam kasus lain faktor yang sering terjadi adalah utang budi.

Jangan kira hanya di wilayah Sang Ratu saja terjadi pembangunan dinasti kepemerintahan, tetapi di wilayah-wilayah lain juga menjamur praktek demikian. Pertanyaannya, apakah fenomena dinasti di pemerintahan daerah di Indonesia dapat dianalogikan dengan payahnya praktek penegakan Independensi pada good governance?

Lalu apa pengaruhnya bagi penerapan good corporate governance pada dunia bisnis? Bayangkan saja, jika seorang pemimpin menempatkan adik kandungnya pada posisi penting di sayap kanan dan sepupunya pada sayap kiri. Belum lagi jika mereka membantu para kerabat dengan berbagai kemudahan untuk menarik keuntungan dari posisi penting yang mereka duduki.

Hal itu dapat berupa proyek, jangka panjang maupun jangka pendek. Utang budi yang melibatkan kehidupan pribadi sangat bernilai tinggi bagi budaya masyarakat Asia, termasuk Indonesia. Jangan sampai terlaksana apa kata pepatah, air susu dibalas dengan air tuba. Tetapi budi dibalas budi. Utang budi dibalas kebaikan pula. Bagaimana dapat mengambil keputusan objektif yang jika dijalankan dapat merugikan pihak tempat seseorang berutang budi?

Dari kondisi ini dapat lahir praktek-praktek penggelembungan dana proyek yang diatur sedemikian rupa sehingga berakhir dengan kondisi win-win baik bagi pelaksana proyek maupun pemberi proyek yang sudah memberikan budinya lebih dulu.

Ibarat Ratu Semut yang tugasnya hanya makan dan bertelur, memaksa rakyatnya untuk mencari gula dan mengumpulkannya untuk persembahan dengan latar belakang yang dibikin begitu mulianya, yaitu demi kelangsungan hidup rakyat semut.

Berkurangnya profit perusahaan akibat ‘persembahan’ atau upeti yang harus disetorkan itu dapat berakibat pada strategi pengencangan ikat pinggang perusahaan secara internal, atau strategi yang banyak didengungkan belakangan ini, yaitu cost reduction strategy, yang dapat dilakukan dengan beberapa alternatif, yaitu antara lain melalui business process reengineering, mengurangi waste pada proses bisnis perusahaan. Hal ini masih dapat ditolerir, tetapi pada kenyataannya banyak perusahaan yang menembak pengurangan itu pada sasaran-sasaran yang keliru.

Hal yang menyedihkan adalah jika perusahaan memutuskan untuk menganggap hubungan mereka dengan sumber daya manusia yang bekerja di sana hanya berupa hubungan transaksional, beli putus. Maka tidak ada lagi pembicaraan tentang pengembangan sumber daya manusia, human capital, atau apa pun yang diluar upah standar.

Sumber daya manusia yang merasa tidak dipenuhi kebutuhannya yang berbeda-beda sesuai dengan level kebutuhan, salah satunya adalah level kebutuhan yang telah dianalisa oleh Abraham Maslow, akan mencari alternatif lain untuk memenuhinya. Celakanya, jika ada kesempatan, tekanan atau kebutuhan dan pembenaran dalam diri manusianya dapat memicu terjadinya Fraud atau kecurangan dalam perusahaan.

Bukan itu saja, bagi manusia dengan level kebutuhan pangan yang tidak terpenuhi misalnya, keterpaksaan dapat memicu perilaku kriminal atau perilaku menyimpang lain yang prinsipnya menghalalkan segala cara asalkan perut tidak lapar.

Mereka ini akan muncul di monitor televisi sebagai pelaku dan korban dari keseluruhan rantai pencederaan terhadap Independensi, salah satu komponen dalam TARIF. Dapat dibayangkan jika tidak hanya faktor I saja yang cedera, tetapi juga T, A, R dan F. Lalu bagaimana solusinya?

Untuk memutus rantai tersebut tidak mudah, meskipun mungkin dilakukan. Bermimpilah bahwa seluruh pelaku industri serempak bertekad untuk menjalankan good corporate governance, dengan menepati aturan tidak tertulis maupun tertulis tentang TARIF.

Pemerintah memang regulator, tetapi jika seluruh pelaku bergerak ke arah yang sama tanpa kecuali, hal ini bukan hanya menjelma people power saja, tetapi tercipta industry power. Pertanyaannya, beranikah?

Diyah Ratna FauzianaDiyah Ratna Fauziana.
Core trainer PPM Manajemen
DRF@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s