Menimbang Penaikan BBM dan Produktivitas Ekonomi

bbm naik ekonomiMeski telah sekian lama diwacanakan, hingga kini penaikan harga bahan bakar minyak sebagai konsekuensi pelepasan subsidi di sektor ini belum segera dilakukan. Tentunya pemerintah punya alasan yang kuat untuk itu.

Namun satu hal yang menarik untuk dikaji adalah relevansi kebijakan tersebut terhadap produktivitas ekonomi di tanah air. Apakah benar kebijakan itu akan berujung pada iklim kondusif bagi peningkatan produktivitas di tanah air, atau malah sebaliknya?

Sudah menjadi rahasia publik bahwa subsidi BBM kini menjadi ‘penghuni’ tetap anggaran negara. Tak jarang bahkan pemerintah harus mendanainya lewat utang. Trade-off tersebut yang kian hari dinilai tidak adil. Sebab di satu sisi pengguna BBM bersubsidi datang dari kalangan yang ‘mampu’. Pola tersebut diyakini sebagian kalangan sebagai pemicu tingginya deviasi dalam rasio gini kita.

Di lain sisi, fokus pada harga BBM telah membuat minimnya perhatian di bidang-bidang non migas, seperti pertanian dan maritim. Tingginya biaya produksi di sektor pertanian telah membuat petani menghentikan aktivitasnya untuk beralih ke sektor industri dengan bekerja sebagai buruh dan pekerja. Alhasil konversi lahan pertanian tidak dapat tertahan lagi. Kini ada begitu banyak lahan yang berubah menjadi peruntukan pemukiman ditandai dengan pendirian kompleks-kompleks perumahan menengah atas.

Komitmen pemerintah untuk segera mengakhiri era subsidi BBM sekaligus mengawali era produktivitas pertanian dan maritim perlu terus dijaga. Mengingat kedua sektor tersebut berpeluang besar menjadi pencipta daya saing nasional di skala global.

Peralihan subsidi dari BBM ke sektor pertanian diharapkan mampu menurunkan biaya produksi dengan penyediaan bibit dan pupuk pada harga yang kompetitif. Saat itu terjadi maka produk-produk hasil pertanian Indonesia akan mampu untuk kembali berbicara di persaingan global, mengalahkan produk-produk dari Thailand dan Vietnam.

Faktor selanjutnya yang turut menentukan produktivitas ekonomi adalah laju inflasi. Salah satu pertimbangan terbesar dalam memutuskan penaikan harga BBM adalah ancaman inflasi tinggi. Hitung-hitungan di atas kertas menunjukkan adanya tambahan inflasi hingga 8% bila wacana penaikan dieksekusi akhir tahun ini.

Jika rencana penaikan mengalami kemunduran menjadi awal tahun depan, inflasi tanah air diprediksi mencapai 9,5% lebih. Sebuah ancaman yang cukup serius terlebih karena tahun depan Indonesia akan memasuki era masyarakat ekonomi ASEAN.

Satu-satunya alternatif yang mungkin dilakukan adalah dengan memberlakukan skema subsidi tetap dengan mengacu pada harga pasar. Pola ini dapat dilihat seperti pergerakan harga Pertamax. Ketika rentang subsidi harga dijaga secara ketat, maka subsidi hanya diberikan pada saat harga minyak berfluktuasi negatif (di luar batas yang ditolerir). Itupun dibatasi hanya sampai level tertentu. Lepas dari batas atas maka konsumen jualah yang menanggung.

Mekanisme ini dipercaya mampu memberikan dampak positif tidak hanya bagi perubahan pola hidup masyarakat dalam kerangka hemat energyi, namun juga mampu menahan laju inflasi.

Peralihan subsidi pada sektor-sektor produktif diyakini dapat meningkatkan perputaran roda ekonomi. Secara skematis, kondisi tersebut akan menjadi ‘penghambat impor’ yang alami, sehingga sirkulasi produk-produk lokal akan mengalami peningkatan. Di situlah laju pertumbuhan ekonomi positif tercipta.

Pada hitung-hitungan kasar, kenaikan harga BBM bersubsidi hingga Rp. 3.000 per liter dapat menghemat anggaran sampai dengan trillunan Rupiah. Alhasil defisit neraca kita akan menurun ke level 2,5%.

Prestasi ini akan memicu kenaikan kinerja di tahun berikutnya (2016) sehingga perlahan namun pasti Indonesia akan kembali berjaya di pasar global. Jadi semakin cepat lampu hijau itu dinyalakan, maka makin besar peluang industri dalam negeri untuk segera merumuskan daya saing.

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 24 November 2014 Hal. 19.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s