Total Immersion

swimmingBerselancar di Youtube memang tidak ada matinya. Mulai sekadar iseng, mencari hiburan, mengundang inspirasi, merancang sebuah konsep, belajar suatu skill, atau sekedar iseng saja, keasyikan berselancar di situs berbagai video ini merupakan kemewahan yang hanya didapat di era baru.

Statistik menunjukkan bahwa setiap bulan, lebih dari 6 miliar jam video telah ditonton oleh para netizen, yang artinya hampir 1 jam dibagi buat seluruh penduduk dunia. Fantastis bukan?

Beberapa hari yang lalu, ketika sedang jalan-jalan santai di Youtube, saya menemukan beberapa video menarik tentang Total Immersion Swimming Style. Teknik yang ditemukan oleh Terry Laughlin, pelatih renang asal Amerika ini berpendapat bahwa laju renang yang baik didapat pada saat seluruh tubuh terendam sempurna dalam air sehingga stroke yang dilakukan lebih efisien.

Alhasil, jika berkesempatan menikmati video-video tersebut, maka Anda akan mendapati betapa tenang dan indahnya perenang total immersion ini. Sedikit gerak, namun efisien. Totalitas, itu menjadi kunci.

Dalam beberapa kasus, hal ini tampaknya yang sering menjadi sisi lemah seorang pemasar. Banyak pemasar yang memposisikan dirinya hanya sebagai penyedia, lupa merasakan menjadi pengguna. Totalitas dalam konteks ini berarti melebur sempurna untuk merasakan produk dari kacamata pelanggan.

Jika Anda pemasar bergenerasi senior (gen X atau baby boomer) yang memasarkan produk-produk bagi remaja, harus ada waktunya dimana Anda berkumpul dengan remaja-remaja itu. Jangan segan untuk berpakaian seperti mereka, nongkrong di tempat nongkrong remaja, ngobrol dan bersosial media ala remaja.

Dengan demikian, kita jadi tahu materi obrolan, idiom yang digunakan, kegelisahan mereka, dan yang paling penting, pandangan jujur atas produk dan brand kita. Totalitas melebur ini jauh lebih mahal, daripada ratusan juta yang kita spending untuk membeli riset pemasaran, penelitian dalam ruang terkontrol.

Saya sering penasaran dengan kesuksesan seorang rekan yang bekerja di bidang kosmetik wanita. Baru sekarang saya memahami bahwa totalitas telah mengantarkannya ke puncak karier.

Beberapa kesempatan bincang-bincang, beliau menceritakan bagaimana ia memakai produknya sendiri agar bisa memahami kelebihan dan kekurangan secara detail. Bukan hanya data, namun feel-nya. Selain itu, beliau juga mencoba seluruh produk pesaing. Lengkap sudah. Hal ini menginspirasi, karena sahabat saya itu adalah seorang pria.

Seorang pemasar digembleng dan ditempa agar memiliki kekuatan persuasi, baik melalui komunikasi interpersonal, maupun komunikasi massa. Kekuatan persuasi ini yang akhirnya menjadi modal untuk memasarkan produknya.

Beberapa trainer pemasaran mengklaim bahwa pemasar yang baik bisa memasarkan apa saja, kepada siapa saja dengan harga berapa saja. Tentu klaim ini sangat bombastis dan terdengar “too good to be true”.

Namun jikalaulah kita berandai-andai bahwa training seperti itu memang ada, seorang pemasar tidak boleh menjual “apa saja” kepada konsumennya. Pemasar hanya menjual produk yang memiliki nilai tambah bagi kebaikan konsumen.

Nah dalam konteks inilah totalitas menjadi sangat penting. Jika kita bisa berdiri di atas sepatu pelanggan, melihat menggunakan kacamata pelanggan, maka empati akan muncul dan pada akhirnya strategi dan program pemasaran yang kita kreasikan akan lebih efisien dan mengena di hati.

Tetap semangat dan salam pembaharu!

*Artikel ini dimuat di majalah Youth Marketers Edisi 24, Desember 2014.

Wahyu Tri SetyobudiWahyu T. Setyobudi.
Staf Pengajar PPM School of Management
WHY@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s