Menyoal Pentingnya Strategic Action

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????Sejak era 80-an, para pengelola perusahaan meyakini betapa pentingnya suatu perencanaan strategis. Beberapa alat manajemen mulai dari balance scorecard, Malcolm baldrige hingga konsep-konsep total quality management digunakan sebagai pendekatan guna memperoleh sebuah rencana bisnis yang matang.

Namun kini selang tiga puluh tahun lebih, kehadiran rencana strategis yang baik tak lagi mampu menjamin bahwa setiap program telah mengarah pada target yang ditetapkan sebelumnya.

Tak hanya itu, beberapa perusahaan yang mengalami kebangkrutanpun ternyata juga memiliki rencana strategis. Bila itu terjadi, maka apakah cukup kita hanya menggunakan rencana strategis sebagai pedoman pengelolaan atau masihkah dibutuhkan kehadiran rencana-rencana yang lain?

Salah seorang ilmuwan (Kaplan) yang juga menggagas balance scorecard menyatakan bahwa sebuah rencana strategis harus dibarengi dengan suatu kedisiplinan dalam ‘mengawal’ pelaksanaan setiap proses. Tanpa adanya monitoring yang efektif niscaya rencana strategis tak kan dapat berjalan mulus.

Refleksi lain dapat kita lihat di dalam negeri. Era pemerintahan Presiden Jokowi dapat dikatakan sebagai era ‘strategic action’. Kepemimpinan berbasis tindakan nyata yang dijadikan roh selama ini setidaknya membuktikan bahwa ketegasan dalam mengawal pelaksanaan strategi akan membuahkan hal-hal yang positif. Tengoklah bagaimana kini para menteri beramai-ramai ‘turun’ ke lapangan melalui manajemen ‘blusukan’. Perlahan namun pasti perubahan ke arah positif mulai terjadi.

Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang selama ini dituding sebagai pelemah daya saing bangsa, melalui strategic action yang kuat telah berangsur-angsur menurun. Sebaliknya koordinasi antar lembaga dan direktorat menjadi semakin erat. Hal itu juga merupakan cerminan peningkatan produktivitas kerja para pemimpin negara.

Dengan konteks yang sama, kini strategic action mutlak dibutuhkan di kalangan bisnis. Para pemimpin harus dibekali dengan sebuah sistem ‘check list’ untuk memonitor program apa saja yang telah dilakukan dan mana yang belum terealisasi sesuai rencana. Kaplan menggambarkan aktivitas tersebut sebagai sebuah peluang bagi pemimpin perusahaan untuk mengenal entitas bisnisnya secara lebih dekat.

Ketika daftar pelaksanaan kegiatan belum dapat diisi oleh penanggung jawab yang tepat, maka di situlah peran pemimpin untuk mengembangkan staf juniornya diperlukan. Alhasil pendekatan ‘role modeling’ (yang dilakukan dengan menjadikan sang pemimpin sebagai tauladan serta contoh) dinilai sangat efektif.

Langkah selanjutnya adalah melakukan monitoring terhadap setiap program yang telah dijalankan. Untuk program yang belum berhasil mencapai target maka di sinilah tindakan korektif yang cepat harus segera dilakukan.

Inilah keuntungan metode ini, di mana setiap kegagalan dapat teridentifikasi secara cepat. Sebaliknya bagi program yang dinilai sukses maka muncul tantangan bagi peningkatan produktivitas di masa depan.

Proses menjawab tantangan tersebut juga terbilang tidak terlalu kompleks. Manajemen tinggal meningkatkan ‘kelas’ permainannya. Mereka harus berani ‘melirik’ pemain yang kelasnya lebih tinggi sehingga dengan demikian arah pertumbuhan perusahaan dapat lebih transparan dan pasti.

Terakhir, strategic action yang sukses tidak berhenti di situ saja. Model tersebut harus mampu diduplikasi pada projek-projek yang lain. Dalam pencermatan lebih lanjut pola inilah yang kemudian mampu membawa perusahaan untuk beroperasi secara lebih dinamis.

Semakin cepat perubahan yang berhasil diciptakan maka makin besar peluang untuk masuk pada ‘blue ocean strategy’ (baca; peta persaingan yang baru). Atau dalam konsep manajemen juga dipahami sebagai peremajaan siklus hidup bisnis. Sadar atau tidak, melalui mekanisme tersebut kelangsungan umur perusahaan akan terjaga secara otomatis.

Meski terkesan sangat sempurna, namun titik krusial dalam menggagas strategic action adalah kemampuan dari sisi sumber daya manusia. Keahlian di bidang inovasi, kreatif dan mampu berpikir cepat merupakan modal dasar yang harus dimiliki. Karenanya manajemen perusahaan perlu mencermati kembali sejauh mana budaya perusahaan telah mendukung kekuatan strategic action yang akan dibangun.

Bila simpulannya adalah belum maka itulah pekerjaan rumah yang patut segera diselesaikan. Sebab era integrasi ekonomi ASEAN telah siap di depan mata. Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!

Tulisan dimuat di harian Media Indonesia, 8 Desember 2014 Hal. 19.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s