Memasarkan Indonesia

jokowi ke korselBanyak orang masih memiliki persepsi keliru mengenai pemasaran. Pemasaran (marketing) disamakan dengan menjual (selling). Bahkan tidak sedikit orang menyamakan pemasaran dengan iklan atau promosi saja sehingga pada akhirnya akan berpendapat pemasaran hanya menghabiskan uang untuk beriklan yang tidak berujung pada peningkatan penjualan. Persepsi keliru kerap terjadi.

Definisi dari AMA (American Marketing Association), “Marketing is an organizational function and a set of processes for creating, communicating and delivering value to customers and for managing customer relationship in ways that benefit the organization and its stakeholders” (Pawitra, 2005) lebih menfokuskan peran pemasaran pada penciptaan nilai sebuah produk, mengkomunikasikan dan membawanya sampai pada customer yang menjadi sasaran pemenuhan kebutuhan.

Proses ini memerlukan pengelolaan hubungan jangka panjang dengan customer sehingga menghasilkan manfaat dan keuntungan bagi perusahaan. Ada kandungan peran strategis pemasaran yang sangat berbeda dari hanya sekadar menjual.

Produk (goods) dalam arti luas bukan hanya produk yang terdiri dari kemasan dan isinya seperti yang banyak ditemukan saat ini. Produk bisa juga merupakan ide, organisasi, people dsb yang memang mengandung nilai untuk pemenuhan kebutuhan dari pasar sasarannya.

Sebuah perusahaan konsultan, menjual ide untuk memenuhi kebutuhan klien akan solusi yang menjadi obat bagi penyakit perusahaan yang sedang dialami. Siapa saja bisa menjadi pemasar dan melakukan pemasaran dalam setiap segi kehidupannya.

Implementasi konsep pemasaran bisa dilakukan secara sederhana sekalipun. Seorang pria yang ingin memperistri seorang gadis, akan melakukan “pemasaran diri” di depan calon mertuanya. Presiden Joko Widodo baru saja melakukan perjalanan keliling ke luar negeri dan dengan gayanya yang khas menginformasikan dan mempromosikan nilai dan manfaat yang akan didapatkan bila melakukan investasi di Indonesia. Pak presiden ‘memasarkan’ Indonesia.

Ada penciptaan nilai yang dikomunikasikan dengan bahasa sederhana namun dapat dimengerti. Ada hubungan jangka panjang yang coba dibina. Hal ini sejalan dengan pemahaman bahwa Indonesia memiliki sumber daya unggulan (comparative advantage) dari hasil migas dan tambang, produk kayu, hortikultura, flora dan fauna, dan masih banyak lagi.

Semuanya merupakan aset tangible yang menjadi cikal bakal terwujudnya Strategi Pemasaran yang bila dipadukan dengan aset intangible, seperti teknologi, budaya dan reputasi sumber daya manusia, maka akan memberikan kontribusi pada penciptaan kompetensi inti negara (Susanto dkk., A.B., 2004).

Kenaikan harga BBM yang baru saja diumumkan pemerintah merupakan upaya untuk mengalihkan subsidi kepada rakyat yang memang berhak menerimanya. Pemerintah melakukan upaya memasarkan idenya dengan meluncurkan program-program untuk membantu meringankan dampak yang terjadi.

Namun, daripada berkeluh kesah dengan kenaikan BBM yang memang tidak pernah turun seiring dengan tunutan biaya kehidupan yang semakin naik, perlu disimak saran dari Pratomo (2002) yakni kenaikan BBM dapat dihadapi dengan Bujet-Belanja-Menabung.

Artinya buatlah kebiasaan melakukan perencanaan keuangan, coba lakukan pengecekan apakah biaya yang dikeluarkan selama ini merupakan ketubuhan utama atau hanya untuk mendukung gaya hidup yang melebihi besar pasak daripada tiang.

Gaji belum tentu naik sehingga yang dibutuhkan adalah melakukan kebiasaan untuk menabung, caranya mulai menyeleksi pos-pos pengeluaran selama ini yang bisa dihemat, gaya hidup pun perlu disesuaikan.

Kalau dari gaji yang tidak naik-naik, bisa membuka bisnis baru. Masuk dalam musim hujan saat ini, yang akan diperkirakan baru berakhir Februari mendatang, bisnis cuci mobil sangat menjanjikan. Jumlah mobil meningkat terus, sementara mencuci mobil membutuhkan tenaga dan waktu tidak sedikit, apalagi kalau hidup di Jakarta, energi sudah terkuras di jalan dan di kantor.]

Pemilik mobil yang cukup memiliki uang, pasti tidak betah melihat mobilnya setelah kehujanan dan kena lumpur. Modal untuk membuka usaha ini juga relative tidak besar, dengan pengelolaan yang tidak rumit (Tim Penulis PPM Manajemen).

Apa nilai yang coba dipasarkan oleh sang pemilik cuci mobil? Kalau ia memilih usahanya dengan menggunakan mesin cuci mobil, maka kecepatan merupakan nilai jitu yang ditawarkan. Dibandingkan cuci mobil tradisional, maka menggunakan mesin hanya membutuhkan waktu paling banyak 30 menit.

Bagaimana dengan pengusaha cuci mobil yang hanya menggunakan tenaga manusia, nilai yang ditawarkan adalah harga lebih murah dan bersih. Tidak sekadar hanya menjual jasa sebagai produknya, sang pemilik juga memasarkan dengan menerapkan strategi yang membuat pemakai jasa betah duduk menunggu sambil menghirup minuman dan menonton TV. Membuat hubungan jangka panjang yang membentuk loyalitas dan menghasilkan keuntungan jangka panjang.

*Tulisan dimuat di harian Kontan, 10 Desember 2014.

Pepey RiawatiPepey Riawati Kurnia.
Koordinator PDMA Indonesia, PPM School of Management
prk@ppm-manajemen.ac.id, kurniapepey@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s