Harga Premium dan Alokasi Risiko

Premium-Pertamax-dan-Pertamax-PlusHarga BBM bersubsidi menjadi masalah karena anjloknya harga minya dunia yang sangat drastis, yang merupakan salah satu pemicu demonstrasi dan kritik beberapa kalangan, dan ketidakpuasan sebagian masyarakat, baik penerima maupun bukan penerima BBM subsidi.

Persoalan tersebut bisa diminimalisasi bila pemerintah menerapkan model subsidi konstan dengan harga mengambang. Dengan mematok harga BBM subsidi tetap pada delapan ribu lima ratus rupiah per liter, model ini memudahkan komunikasi kepada masyarakat, sekaligus membantu masyarakat pengguna BBM subsidi dalam melakukan alokasi anggaran belanja rumah tangga.

Sayangnya, paling tidak ada dua risiko yang dihadapi dengan model subsidi harga BBM tetap. Pertama, persoalan muncul pada saat harga minyak dunia turun tajam, seperti saat ini. Pada saat harga minyak dunia turun sampai USD60, dan menurut perhitungan harga wajar atau harga pasar premium di bawah harga subsidi, maka timbul pertanyaan, di mana letak subsidinya.

Dengan harga minyak dunia yang rendah, dan harga wajar premium di bawah harga subsidi, masyarakat pengguna mengalami risiko sisi atas (upside risk), yaitu risiko karena seharusnya dapat mendapatkan manfaat, tetapi tidak mampu karena adanya pematokan harga.

Kedua, kondisi sebaliknya bisa terjadi, yaitu bila harga minyak dunia melonjak lagi jauh di atas USD90 sehingga harga wajar premium jauh di atas harga premium subsidi. Mau tidak mau, pemerintah harus menggelontorkan dana dari APBN. Artinya, pemerintah menanggung risiko keuangan (financial risk), khususnya risiko harga komoditas minyak.

Dengan demikian, penetapan harga tetap premium subsidi menjadi sejenis lindung nilai, atau hedging, bagi masyarakat pengguna premium. Lindung nilai, yaitu instrumen untuk menghilangkan ketidakpastian dari fluktuasi harga minyak, menghilangkan risiko sisi bawah (downside risk) bila harga BBM melambung, tetapi sekaligus menghilangkan risiko sisi atas (upside risk).

Pemerintah, selaku pelindung nilai atau hedger, mengambil seluruh risiko harga komoditas minyak dengan penetapan harga premium yang dipatok konstan. Bagi pemerintah, kondisi turunnya harga minyak dunia merupakan member keuntungan karena pengucuran dana subsidi dari APBN bisa ditekan. Sebaliknya, bila nantinya harga minyak dunia menanjak lagi, pemerintah menanggung kenaikan beban subsidi.

Apakah harga minyak dunia akan turun terus, atau akan kembali naik mencapai harga USD160-an, sepreti pernah terjadi di masa lalu? Ini sangat tergantung pada kondisi global dan kebijakan berbagai pemerintahan, khususnya pada produsen minyak dunia. Selama negara-negara Timur Tengah, selaku produsen minyak raksasa dunia, tidak mau menurunkan produksi minyaknya, sulit mengharapkan terjadi kenaikan harga minyak.

Sebagai alternatif, pemerintah dapat menetapkan harga premium subsidi mengambang, mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Kebijakan yang perlu dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat adalah harga premium subsidi mengambang dengan subsidi konstan. Artinya, pemerintah mengalokasikan besaran subsidi, yang diambil dari APBN, dengan besaran per liter dipatok dengan nilai rupiah tertentu.

Jadi, dalam kondisi harga minyak dunia anjlok seperti saat ini, bisa saja harga premium sangat rendah, jauh lebih rendah dari harga air mineral dalam kemasan. Di sisi lain, harga premium bisa sangat tinggi bila harga minyak dunia melonjak lagi.

Untuk mengurangi downside risk bagi pemerintah bila harga minyak dunia melonjak tajam, downside risk bagi masyarakat pada saat harga minyak dunia turun drastis, kebijakan harga premium subsidi mengambang bisa dimodifikasi dengan menambahkan batas atas (ceiling price), dan batas bawah (floor price).

Manfaat dari kebijakan harga premium subsidi mengambang bisa dirasakan oleh pemerintah dan masyarakat. Bagi pemerintah, dengan mematok besaran subsidi yang konstan maka alokasi APBN bisa lebih mudah, terlebih lagi saat ini pemerintah sedang membutuhkan dana yang sangat besar untuk membangun infrastruktur.

Dalam kondisi fluktuasi harga minyak secara normal, alokasi subsidi BBM sudah tetap sehingga besaran dana untuk pembangunan juga lebih mudah diproyeksikan. Hanya dalam kondisi pergerakan harga ekstrim saja, tambahan alokasi subsidi perlu ditambah.

Bagi masyarakat, fluktuasi harga premium diharapkan dapat meningkatkan kesadaran efisiensi pembelanjaan, yang ujungnya pada perbaikan alokasi anggaran belanja rumah tangga. Pencadangan dapat dilakukan secara konservatif, mengasumsikan harga pada harga maksimum (ceiling price) sebagai pengeluaran maksimum. Semakin rendah harga minyak bumi, semakin besar penghamatan yang dapat dilakukan oleh rumah tangga.

Sebagai catatan penutup, kebijakan tersebut tentunya tergantung pada temuan dan usulan tim Reformasi Tata Kelola Migas, dan sejauh mana pemerintah memutuskan dan bertindak berdasarkan usulan tersebut.

Bila pemerintah mempertimbangkan bahwa impor premium tidak diperlukan lagi, dan premium diganti dengan pertamax, maka objek subsidi akan bergeser. Namun demikian, prinsip harga subsidi mengambang bisa berlaku untuk objek yang berbeda.

*Tulisan dimuat di Koran Jawa Pos edisi Rabu 24 Desember 2014.

Bramantyo DjohanputroBramantyo Djohanputro
Dosen di PPM School of Management & pengamat bidang manajemen, keuangan, dan ekonomi
BRM@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s