Asa Bagi 2015

aec-2015Tahun 2015 tinggal hitungan hari. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, 2015 dipandang lebih istimewa, sebab di tahun ini rencana integrasi ekonomi ASEAN akan segera diterapkan.

Itu berarti ada setidaknya 12 sektor pertama yang akan menerapkan prinsip perdagangan bebas, di mana arus faktor produksi diberi tarif nol dan kemudahan-kemudahan lainnya.

Alhasil realitas tersebut dipandang secara optimis oleh sejumlah pemain domestik, termasuk pemerintah. Sejumlah upaya pembenahan terus dilakukan secara konsisten. Namun apa saja sebenarnya asa bagi perekonomian di 2015?

Pertama terkait penguatan Rupiah. Menjelang penutupan tahun 2014, Rupiah sebagai primadona mata uang di nusantara tengah ‘meredup’. Tekanan pasar akibat membaiknya perekonomian Amerika Serikat telah membuat investor beramai-ramai menarik dananya dari Indonesia untuk ditempatkan di negeri Paman Sam tersebut.

Sebagian kalangan menilai realitas ini sebagai rendahnya kecintaan investor global pada potensi pertumbuhan ekonomi di tanah air. Padahal di lain sisi ada begitu banyak sumber daya alam yang siap diolah menjadi komoditas unggulan dunia. Beberapa faktor, seperti kompleksitas birokrasi, aturan ketenaga kerjaan yang belum sepenuhnya transparan disebut-sebut sebagai penyebab munculnya opini tersebut.

Meski di satu sisi kita mengakui hal-hal itu, namun berpangku tangan kiranya bukan sikap yang bijaksana. Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperkuat Rupiah. Pada skala nasional, upaya positif yang perlu dikembangkan adalah kecintaan masyarakat lokal pada Rupiah.

Setidaknya kalangan industri perlu kembali mencermati bahwa kebutuhan dana dalam Rupiah hendaknya ditutup dengan aliran dana pada dominasi mata uang yang sama. Selain berpotensi menghindarkan perusahaan dari risiko perubahan nilai tukar, langkah ini diyakini mampu menghambat laju penukaran Rupiah terhadap Dollar. Dengan kata lain akan menghambat laju pelemahan Rupiah.

Kedua, terkendalinya inflasi. Sebagai konsekuensi langkah percepatan pertumbuhan ekonomi, rangsangan kepada masyarakat dalam hal konsumsi akan mempengaruhi tingkat inflasi. Sebagai catatan, sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak beberapa bulan yang lalu inflasi ada di level 6%-7%. Pasca pelepasan subsidi BBM, inflasi diperkirakan naik hingga 8%-10%.

Satu kekhawatiran yang perlu disikapi adalah jangan sampai kenaikan tersebut terjadi dalam jangka menengah dan panjang sebab akan berpengaruh pada daya beli masyarakat. Apalagi bila pendapatan mereka tidak bertambah secara signifikan.

Pendidikan terkait pengelolaan keuangan pribadi hendaknya dapat didistribusikan secara merata, agar masyarakat dari berbagai tingkat sosial mampu mengendalikan pola konsumsi secara teratur. Inilah yang akan menahan laju inflasi domestik.

Kini harga minyak dunia kembali mengalami penurunan. Di sinilah transparansi dan akuntabilitas pemerintah diuji. Besar harapan akan terjadi penyesuaian harga BBM di awal tahun depan sehingga kebijakan tersebut akan mampu mengembalikan inflasi di bawah 7%.

Ketiga terkait upaya tuk keluar dari jebakan krisis energi. Patut disadari bahwa penurunan beberapa kualitas layanan publik, seperti pasokan listrik yang masih rendah (khususnya di kawasan timur Indonesia), buruknya infrastruktur jalan penghubung antar wilayah merupakan dampak dari ‘krisis energi’.

Ajakan kepada masyarakat tuk mulai menghemat pemakaian energi mungkin bisa menjadi salah satu jalan keluar. Namun upaya eksplorasi sumber-sumber energi terbarukan harus mendapat apresiasi dan dukungan lebih.

Beberapa temuan anak bangsa terkait energi alternatif kiranya perlu mendapat perhatian khusus. Infrastruktur pendukung proses komersialisasi temuan tersebut harus menjadi agenda utama. Sebab bila hal ini dapat direalisasikan maka perlahan namun pasti kita dapat terbebas dari jebakan problematika tersebut.

Perwujudan ketiga asa di atas mutlak membutuhkan kolaborasi dari segenap elemen bangsa. Sebab melalui mekanisme tersebut ide-ide inovasi tuk menemukan solusi terbaik dapat dengan mudah ditemukan.

Semoga wacana ini mampu meningkatkan daya saing Indonesia di era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Selamat memasuki Tahun Baru, sukses senantiasa di 2015, Jayalah Indonesiaku.

*Tulisan dimuat pada harian Media Indonesia, 29 Desember 2014.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s