Kepemimpinan dan Sumber Daya Manusia dalam Inovasi

leader and InnovationTidak dapat dipungkiri, MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015 sudah di depan mata. Untuk tetap bertahan hidup terhadap perubahan lingkungan dari dalam maupun dari luar, perusahaan harus melakukan adaptasi. Adaptasi dapat dilakukan melalui inovasi, dari sisi produk, proses kegiatan, dan model bisnis.

Dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, setiap perusahaan dituntut dapat meningkatkan daya saing produk-produk yang dihasilkannya. Karena dengan peningkatan daya saing membuat perusahaan dapat mengungguli perusahaan-perusahaan lain yang juga menghasilkan produk sejenis.

Sepertinya ulasan diatas sudah seringkali diungkap, malah banyak orang sudah paham tentang itu. Tapi nyatanya (bicara perusahaan) hanya sekitar 50 persen saja perusahaan di Indonesia yang siap melakukan inovasi. Padahal inovasi merupakan kunci untuk menghadapi persaingan dalam MEA yang akan berlaku akhir 2015 ini.

Hal itu terkuak dari hasil riset Center of Innovation and Collaboration (CIC) PPM Manajemen yang melibatkan 230 responden perusahaan. Riset dilakukan selama tujuh bulan sejak Februari 2014. Faktor sumber daya, terutama sumber daya manusia, menurut riset CIC-PPM Manajemen, menjadi titik lemah yang paling dominan dari 230 perusahaan yang menjadi responden.

Pemimpin (leader) dan manusia (people) merupakan bagian yang krusial dalam aktivitas dan keberhasilan inovasi perusahaan. Salah satu pertanyaan utama terkait pemimpin dan inovasi adalah, siapakah penggerak yang memimpin inisiatif jalannya perubahan atau terkait dengan inovasi? Acapkali perusahaan menyatakan posisi manajemen puncak, yakni direktur atau yang setara sebagai motor penggerak dibandingkan dengan jajaran manajer atau yang segaris, sertakaryawan.

Pemimpin yang hanya memiliki visi tidak serta merta berarti inovasi di sebuah perusahaan tersebut akan muncul. Lebih berpengaruh dan berimbas nyata adalah seorang pemimpin yang memiliki keberanian dalam melakukan perubahan, memiliki jejaring yang kuat, serta memberi kesempatan pada karyawannya dalam melakukan perbaikan-perbaikan dan dalam mengeksekusi sesuatu.

Bicara lingkup perseorangan dalam membentuk inovasi, sejatinya dibutuhkan tidak hanya academic smart tetapi juga harus punya street smart, yaitu kondisi dimana faktor pembentuk kompetensi lengkap sudah, yakni knowledge, skill, dan attitude. Ditambah lagi olah rasa kreatif dan berani menerobos arus.

Pintar dan Cerdik

Orang bisa disebut pintar karena mengenyam pendidikan tinggi, hanya sebatas akademis, indeks prestasi komulatifnya tinggi. Orang cerdik ialah mereka yang dapat membaca peluang dan bisa membuat keuntungan dari hal itu.

Alangkah baiknya sudah pintar lalu cerdik, mereka bisa memanfaatkan kepintarannya lalu dengan cerdik menjadikannya sebuah bisnis yang sukses, itu sebuah perpaduan academic smart dan street smart.

Pun dari segi Company Based on System, antara lain terdiri dari unsur system, knowledge, variation dan people. Tekanan lagi-lagi ditujukan pada unsur people. Mengapa? Karena semua bisa berjalan karena people, dari sini bisa dilihat betapa pentingnya peran pemimpin yang termasuk ‘golongan’ people ini , dalam menggerakkan dan menciptakan inovasi sangat diperlukan.

Siap tidak siap, mau tidak mau MEA sudah datang, bisa menjadi peluang, bisa menjadi tantangan. Sudah waktunya Indonesia menjadi pemenang di rumah sendiri, jadikan MEA hanya sebagai sistem memperlancar kerja sama ekonomi.

*Tulisan dimuat pada swa.co.id, 5 Januari 2015.

Arif-Rachman crpArif Rachman
Staf Komunikasi Pemasaran PPM
RIF@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s