Kesetaraan Harga & Kualitas Layanan Kesehatan

kartu bpjsMengawali tahun 2015, salah satu topik yang berkembang di masyarakat adalah fasilitas BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang disediakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan bangsa.

Jika akhir tahun lalu topik yang hangat adalah prosedur pendaftaran yang dinilai cukup rumit, kini materi diskusi mulai bergeser menjadi sejauh mana efektivitas jaminan kesehatan tersebut khususnya di tingkat praktis. Mulai dari belum banyaknya jumlah rumah sakit (swasta) yang berpartisipasi dalam program, hingga ‘plus minus’ yang dirasakan ketika menggunakan fasilitas tersebut.

Sebagian kalangan memberikan apresiasi positif mengingat pasca beroleh kartu jaminan kesehatan, masyarakat dapat mempunyai akses pada pusat-pusat pemeliharaan kesehatan. Biaya pengobatan pun ditanggung sebesar premi yang dibayarkan. Namun, selebihnya belum dapat memberikan apresiasi yang sama.

Terbatasnya jumlah peserta (baca: rumah sakit yang menerima pasien dengan skema pembayaran melalui BPJS) hingga beberapa aturan teknis yang dinilai masih terlalu kompleks telah membuat ‘niat’ baik pemerintah melalui program ini belum dapat disambut dengan ucapan syukur.

Realitas ini mengingatkan kita bahwa hal dasar yang harus dibangun adalah paradigma mengelola kesehatan diri dan keluarga. Patut disadari bahwa cara pandang masyarakat Indonesia bahwa pemeliharaan kesehatan memerlukan dana investasi yang cukup belum sepenuhnya terbangun.

Asuransi kesehatan belum menjadi pilihan utama. Di tahun 2013-2014 bahkan jenis asuransi ini masih menempati urutan ketiga (setelah jiwa dan perlindungan aset). Sejumlah responden bahkan mengatakan bahwa mereka ‘diikutkan’ perusahaan pada jenis asuransi tersebut. Artinya bila basis kepesertaan adalah ‘kesadaran’ akan arti pentingnya kesehatan, responden cenderung untuk memilih jiwa dan aset sebagai kebutuhan utama.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan apa yang terjadi di negara-negara maju, seperti Singapura, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Pemilihan asuransi kesehatan di ketiga negara tersebut dilakukan dengan lebih kompleks.

Konsumen telah memahami betul bahwa biaya kesehatan sangat berkorelasi positif dengan kualitas layanan yang diberikan. Bahkan testimoni seperti ini lazim kita dengar: “Wajar biayanya besar sebab rumah sakit benar-benar menjalankan fungsi penyembuhannya dengan sangat baik. Lihatlah fasilitas medis yang dimiliki. Pasien hanya perlu datang ke rumah sakit dan semua kebutuhan kesehatan akan terpenuhi.”

Alhasil, proses pemilihan asuransi kesehatan di sana tidak lagi pada ‘biaya murah’ namun lebih kepada jenis proteksi yang diberikan. Semakin lengkap proteksi yang diberikan, semakin tinggi jualah permintaan atas produk tersebut.

Lalu bagaimana industri kesehatan Indonesia menjawab tantangan tersebut? Kuncinya ada pada bukti ‘kesetaraan’ antara biaya kesehatan dengan kualitas layanan yang diberikan. Rumah sakit harus berani berinvestasi untuk menjadi ‘one stop health services’ bagi segmen pasar yang dilayani.

Pemahaman ini sekaligus menghindarkan manajemen (pengelola) rumah sakit dari ancaman inefisiensi investasi. Transparansi biaya kesehatan harus ditekankan sebagai faktor penentu kesetaraan. Bila perlu, manajemen RS mampu menunjukkan perbandingan dengan biaya yang dikenakan oleh rumah sakit di negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura dan Filipina untuk jenis layanan yang sama.

Selain dalam konteks harga, kesetaraan itu juga dapat diwujudkan dengan penerapan prinsip ‘honesty’ di setiap proses pemeliharaan kesehatan pasien. Kalangan medis harus teringat bahwa kini segmen pasien yang terkoneksi dengan internet bertumbuh secara massif sehingga pada koneksi itulah dunia pengetahuan medis sedikit banyak mulai terbuka. Karenanya prinsip honesty akan memperkecil kemungkinan terjadinya asymmetric information antara dokter dan pasien.

Dalam perjumpaan fisik, seorang dokter harus mampu menjadi ‘penjaga’ objektivitas informasi yang dibawa sang pasien. Dengan cara ini pasien tidak hanya beroleh informasi tentang kesehatan melainkan juga secuil ilmu medis yang bermanfaat untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Sadar atau tidak, di titik itulah pasien akan menemukan kesetaraan yang dimaksud. Besaran harga tak lagi dipandang sebagai biaya melainkan investasi kesehatan. Perlahan namun pasti, inilah elemen-elemen yang akan membangun loyalitas pasar. Jika ini berhasil dilakukan oleh RS lokal, niscaya masyarakat Indonesia akan mempercayakan pemeliharaan kesehatannya di dalam negeri.

Selamat berefleksi, sukses menyertai Anda!

*Tulisan dimuat swa.co.id, 14 Januari 2015.

Aries Heru PAries Heru Prasetyo.
Ketua Program Sarjana PPM School of Management
AHP@ppm-manajemen.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s